A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Sabtu, 14 September 2013

Pergi dan Gelap


Akan ada saatnya ketika kau berada di bagian atas kehidupan, tapi akan ada pula saatnya kau berada di bagian bawah kehidupan. Ingat saja tentang pepatah lama yang sering berkata, hidup itu seperti bola yang berputar. Akan seperti itu. Tidak selamanya kau akan hidup dengan leha-leha, tapi tidak selamanya juga kau akan hidup susah. Tidak selamanya kau akan dihantui oleh masalah. Meski satu selesai, satu datang.
Ada yang hidup dengan normal, lalu tiba-tiba hidupnya berubah, ada. Entah karena apapun itu alasan yang membuatnya berubah. Dibalik setiap kejadian akan selalu ada maknanya. Walau hanya segelintir orang yang mengerti.
Aku tersenyum dengan dua mata yang memandang kejauhan. Aku bisa merasakan ramainya suara air yang berjatuhan di atas batu di depanku; udara sejuk yang dihasilkan menerpa kedua pipiku seakan-akan membelai dengan lembut. Udaranya yang sejuk perlahan-lahan mulai membuaiku yang diam-diam meresapi udara khasnya. Aku mengusap lengan atasku yang mulai terasa dingin, padahal hari baru saja beranjak sore.
Aku menoleh sedikit ke belakang melewati bahuku saat mendengar suara kaki, dan lalu tersenyum. “Kau tidak merasa dingin?”tanya Ibu sambil mengusap bahuku dengan lembut. Aku menggeleng pelan. “Hanya terasa sedikit, karena sudah menjelang sore, Bu.”jawabku.
“Terus, kau mau sampai kapan disini terus?”tanya Ibu seraya menyampirkan kain tebal ke bahuku, yang lalu aku ucapkan terima kasih sambil berbisik.
“Sebentar lagi saja, Ibu. Lagipula, aku mau ngapain di dalam kamar.”jawabku. Beliau terdiam.
Tidak berselang lama, aku mencium wangimu. Wangi entah sejak kapan melekat diingatanku. Wangi yang membuatku rindu.
Pelan-pelan tubuhku menegang.
“Maaf, Ibu mengizinkannya datang.”ucap beliau. Kali ini aku yang diam seribu bahasa. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, seakan-akan merajuk. Bukan, aku bukan merajuk. Hanya saja, aku belum siap dan mungkin tidak akan pernah siap.
“Apa kabar?”tanyamu. Aku hanya menjawab dengan diam. Mati-matian aku menahan kedua tanganku untuk tidak terangkat ke udara dan mengusap kedua pipimu dengan lembut. “Aku baik-baik saja.”katamu memberikan pernyataan.
Aku menghela nafas panjang, menangkap wangimu sebisaku untuk kusimpan. “Pulang lah. Aku baik-baik saja. Tapi, maaf, kau tidak perlu datang berkunjung lagi.” Hanya itu kalimatku yang keluar dari bibirku.
Kalimat itu berbeda dengan apa yang aku pikirkan untuk aku ucapkan.
Jika sudah berani jatuh cinta, berarti harus berani untuk sakit hati. Karena keduanya bersahabat karib.
Diam-diam memang hanya aku yang berjuang sendirian, selama ini.
Dirimu merengkuh kedua tanganku dengan hangat. “Pulang lah. Sudah beranjak sore. Perjalanan pulangmu tidak dekat.”ujarku sekali lagi dengan dinginnya. Tapi, kau tetap bergeming ditempat. Kedua tanganmu yang hangat masih merengkuh tanganku.
Kau diam, aku pun diam.
“Kenapa kau harus menghindar?”tanyamu dengan pelan. Aku menelengkan kepalaku ke samping. Berusaha menghindari tatapanmu, yang terasa menyentuh pipiku.
“Tidak, aku tidak menghindar. Aku pikir memang sudah cukup. Pulang. Nanti kau dicarinya. Aku tidak mau dia menemukanmu ada disini, denganku.”jawabku sambil berusaha melepaskan rengkuhan tanganmu, meski tidak rela.
Kau menahan gerakanku.
“Tidak apa-apa. Aku sudah memberitahunya.”
“Baiklah, kalau begitu kau tidak usah berlama-lama disini. kau sudah tahu kan aku baik-baik saja? Pulang lah.”elakku berkali-kali. aku berusaha untuk memberikan senyumku yang biasanya, yang aku sendiri tidak tahu apakah terlihat seperti sebuah senyum atau tidak.
Aku bisa mendengarmu menghela nafas dan menghembuskan dengan berat.
“Baiklah, aku pulang. Tapi, aku akan kembali. Jaga kesehatanmu.”ujarmu sambil mengusap lembut puncak kepalaku. Ketika rengkuhan tanganmu itu meninggalkan tanganku, terasa seperti ada yang hilang saat itu. Tapi, aku buru-buru menghapus rasa kehilangan itu. Seharusnya, aku tidak boleh terlalu jatuh terpuruk karena rasa ini yang semakin hari semakin parah.
“Kenapa diusir pulang?”tegur Ibuku. Aku hanya menanggapi dengan diam.
“Ia khawatir padamu. Bukankah ia sudah pernah bilang, kalau dia khawatir, ia akan langsung datang? Kau sendiri yang bilang begitu pada Ibu –“
“Dulu, Bu. Itu dulu. Bukan kemarin ataupun sekarang.”selaku dengan pelan.
“Ibu tau. Tapi, kemarin dan atau sekarang pun, Ibu juga tau kalau kau masih mencintainya. Kenapa harus membohongi perasaan sendiri?”tutur beliau dengan lembut. Aku dibuatnya terdiam. Aku menghembuskan nafas dengan berat.
“Bu, terkadang, ada yang harus direlakan, agar tidak ada yang terlalu banyak yang sakit. Jadi, aku putuskan untuk mulai belajar menjadi orang yang bisa merelakan. Meski itu tidak mudah.”jawabku dengan lembut setelahnya.
“Kalau sudah perihal perasaan, jangan pernah berbohong, Sayang.”
“Tapi, dengan keadaan yang seperti ini, aku hanya bisa memilih untuk duduk dan tersenyum jika ia memang sudah  memilih untuk dengannya. Dengan dia pula yang terasa tidak ingin diperjuangkan, aku bisa apa?”balasku.
“Jika ternyata ia sendiri tidak bahagia dengan yang sekarang?” Pertanyaan Ibu begitu menyengat ulu hati.
“Maka, diluar sana ternyata ada yang sanggup membuatnya bahagia. Tapi, aku tidak termasuk di dalamnya.”
Ibu masih saja berniat untuk berdebat denganku. “Kenapa?”
Aku terkekeh miris mendengar pertanyaan Ibu yang begitu ingin tahu. “Karena, ya aku memang sudah tidak bisa lagi memberikan apa yang dia cari, Bu.”jawabku.
“Kalau ternyata –“
“Bu, aku mau masuk. Udaranya semakin dingin.”potongku dengan sangat lembut. Jika tidak aku potong, beliau akan semakin gencar mendebat setiap jawabanku perihal satu topik ini. sudah berkali-kali aku berkata pada beliau, aku sudah memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya, berkali-kali pula pernyataanku didebat dan dibantah olehnya. Aku tahu, beliau bermaksud baik. Tapi, untuk satu ini, sudah tidak ada yang bisa mengubah keputusanku lagi.
Beliau bangkit berdiri dari posisi duduknya dan membantuku berdiri. Kami berjalan bersisian. Kenanganku tentangnya berputar kembali ketika aku berjalan bersisian seperti ini. Entah sudah lewat berapa lama, aku tidak menghitungnya, tapi selama ini dirinya selalu hidup dalam kenanganku yang tidak bisa aku sentuh dengan jemariku lagi, karena selamanya dirinya hanya hidup di dalam sana. Di dalam kenangan yang aku dan dia ciptakan bersama. Saat-saat ketika ia menggenggam tanganku dengan hangat, dan menjagaku agar tidak terjatuh tiba-tiba; lalu ia akan mengambil alih jalanku dengan berjalan lebih dahulu di depanku, masih dengan tangan yang menggenggam tanganku. Lucunya, aku merasa tidak ingin melepaskannya barang sebentar saja. Tapi, entahlah dengannya.
Diam-diam, aku belajar untuk tidak lagi menatap yang lalu dan mulai melepaskan apa yang aku genggam saat ini.
Karena, sudah tidak ada lagi kesempatan untukku untuk membuatmu bahagia. Yang selama ini kau cari memang hanya ada pada perempuanmu saat ini. Aku belajar untuk menerima kenyataan yang menghampiriku, meski aku sudah sering belajar dari kenyataan-kenyataan yang sebelumnya.
Nduk, tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa. Entah mengapa, Ibu optimis, kau punya kesempatan itu. Tapi, Ibu tidak bermaksud memberikanmu harapan, yang jika tidak terbukti nantinya, malah menjadi harapan semu. Untuk sekarang, istirahat saja dulu. Tidak usah dipikirkan perihal hari ini dan Ibu minta maaf sudah membawanya kesini. Kalau ada perlu apa-apa, Ibu ada di dekatmu.”ucap Ibu sebelum akhirnya keluar dari kamarku.
Bagiku, berharap boleh saja. Tapi, jika sudah perihal perasaan, semakin berharap, nantinya akan semakin sakit jika ternyata hasil akhirnya tidak sebanding sesuai dengan harapan sendiri. Aku menatap langit-langit kamar yang terasa gelap. Mengorek kembali kenangan lamaku denganmu yang entah sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, yang masih sering membuatku tersenyum sendiri jika mengingatnya. Tapi, jika sampai pada saat-saat aku mengingatmu dengannya....lebih baik aku tidak pernah mengenang lagi.
Kenangan itu ada untuk dikenang, memang.
Tapi, tidak ada yang bisa memilih kenangan itu sendiri. Mau mengenang yang manis atau yang pahit, akn terprogram dengan sendirinya. Aku pun begitu.


“Jangan keluar dulu. Kan belum selesai.”cegahku yang berdiri di depan pintu sambil menyilangkan salah satu kakiku, bersandar ke tembok di sampingku.
“Aku hanya mau buang sampah.”ujar laki-laki itu dengan tak acuh.
“Ya sudah, tunggu sebentar lagi apa susahnya?”jawabku dengan bercanda.
“Kalau begitu, aku dorong ya?”ujar laki-laki itu.
Belum sempat aku menarik kakiku atau pun protes, aku sudah merasakan tubuhku melayang diudara dan mendarat di lantai ubin dengan bunyi yang berdebum cukup keras. Sungguh, jika saat aku berdiri aku tidak merasakan sakit yang menyengat di bagian tulang ekorku, aku akan tertawa untuk menutupi maluku. Tapi, sayangnya yang keluar malah air bening dari sudut-sudut mataku. Rasa sakitnya menyengat hingga diubun-ubun dan menjalar turun ke punggung.
Tiba-tiba aku terjaga dari tidurku karena mimpi yang mampir tadi.
Aku ingat kata orang, jika seseorang yang jatuh dan atau berbenturan dengan sesuatu, itu bisa dijadikan pertanda buruk.
Dan, ya. aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Tapi, ternyata memang terjadi.
Hal yang sama sekali tidak aku bayangkan untuk terjadi.
Aku diserang perasaan terkejut dan masih tidak percaya. Ibu berusaha untuk tidak panik, supaya aku pun tidak serta merta panik karenanya. Aku menarik dan menghembuskan nafasku dengan sangat perlahan, seperti layaknya orang yang baru belajar bernafas, berusaha menetralkan perasaan ini supaya kembali seperti semula. Aku tersenyum tipis, hanya disudut bibirku. Senyum miris.

Entah di hari keberapa kita tidak lagi bertemu, kau berusaha untuk menghubungiku mulai berkali-kali yang tidak aku jawab sama sekali. Ibu bahkan sampai bosan menyuruhku untuk menjawab yang langsung aku tolak mentah-mentah. Aku bukannya balas dendam untuk beberapa waktu yang lalu, saat kau tiba-tiba seperti menghilang ditelan bumi setelah insiden aku jatuh, bukan. Aku hanya tidak mau kau tahu, hanya itu. Toh sebenarnya kau pun tidak akan terlalu memperdulikan aku yang notabene hanya kau anggap sebagai seorang adik angkat, ya itu hanya asumsiku sendiri dari apa yang aku perhatikan dan apa yang (berusaha) aku tanamkan dalam mindset aku sendiri.
Aku duduk diam di dalam kamar merah. Tangan-tanganku menyusuri foto-fotomu yang masih aku rendam di dalam air, yang aku cetak belum lama sebelum aku jatuh dan aku memang masih hafal urutan-urutan foto yang aku cetak sendiri. Sebenarnya, aku sudah kehilanganmu bahkan jauh sebelum aku ketahui. Bodohnya aku, aku malah masih bertahan seperti ini. Sudah jelas, dirinya yang memang lebih pantas untukmu.
Pikiranku melayang-layang entah ke kenangan yang mana, ketika diriku merasa dipeluk dengan hangat olehmu dari belakang. “Halo.”sapamu dengan hangat. Tubuhku menegang dengan sangat sempurna, aku merasa lama-lama aku akan seperti patung jika seperti ini terus. “Untuk apa kembali?”tanyaku dengan ketus.
“Untuk bertemu denganmu. Harus ada alasan yang lengkap, ya?”tanyamu dengan polos.
Aku kembali diam.
“Aku bantu gantung, ya, foto-foto yang masih basah ini.”ujarmu sambil mengambil alih foto yang masih basah dari tanganku.
“Tidak usah. Nanti merepotkanmu. Aku bisa sendiri.”ujarku sambil menolak tawaranmu dengan lembut dan berdiri dari tempat dudukku sambil menyentuh gantungan yang ada beberapa foto yang masih dijepit. Aku tengah mencari-cari jepitan dalam kegelapan untuk menjepit foto yang tengah aku pegang, ketika tanganmu mengangsurkan dua buah jepitan ke dalam tanganku.
“Terima kasih.”ucapku dengan pelan. Aku ingat foto yang saat ini aku pegang, adalah hanya fotomu sendiri yang aku ambil diam-diam karena kau tidak suka difoto oleh orang lain. Dan kau tersenyum, meski tidak sengaja. Entah kapan aku bisa melihatmu tersenyum seperti saat itu lagi. Atau mungkin, aku tidak akan pernah melihatmu seperti itu lagi.
“Aku temani kau keluar.”ujarmu sambil menggandeng tanganku, keluar dari kamar merah.
“Ibu dimana?”tanyaku dengan datar. Harusnya, Ibu ada disini.
“Ibu sedang pergi keluar. Beliau menitipkanmu padaku.”ujarmu dengan pelan dan menggenggam tanganku dengan hangat.
Bolehkah aku merindukanmu?
Meski aku diperbolehkan, apakah aku boleh mengucapkannya? Jika aku mengucapkannya, akankah masih seperti yang kemarin-kemarin, ketika kau yang menghampiriku sambil tersenyum lebar? Apakah ada jaminannya, kau tidak akan berubah dan tidak menjaga jarak dariku?
Jadi, lebih baik aku ucapkan sambil berbisik pada udara yang sama sekali tidak akan kau dengar, kan?
“Cukup temani aku ke kamar saja, dan kau sudah boleh pulang. Yang ada aku tambah merepotkanmu.”kataku.
“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Lagi pula, aku dipesankan untuk makan siang denganmu. Ibu tadi pergi setelah selesai masak. Beliau sudah menyiapkan makan siang.”jawabmu dengan riang. Berbanding jauh dengan nadaku yang selalu ketus. Maaf, aku tidak bermaksud, jika kau ingin tahu.
Aku selalu penasaran, apakah kau pernah sekali dan atau beberapa kali benar-benar khawatir tentangku layaknya seorang laki-laki yang mengkhawatirkan perempuan yang ia sayangi, bukan dalam artian kakak-adik?
Aku ingin tahu, seperti apa perasaanmu saat kau tahu aku jatuh saat itu.
Jika, aku diperbolehkan jujur, aku merindukan segalanya tentangmu. Apapun itu. tanpa terkecuali. Pernahkah kau seperti itu padaku?
“Kau mau makan –“
“Aku bisa makan sendiri.”potongku dengan cepat sambil menyentuh piringku yang sudah terisi oleh nasi dan beberapa lauk-pauk. Yang terdengar diatas meja hanya detingan sepasang sendok dan garpu. Aku memutuskan untuk makan dengan dua tanganku, terasa lebih nikmat, seperti yang aku lakukan biasanya jika makan dirumah, hanya dengan tangan.
Tidak ada yang membuka suara, hingga akhirnya kau memutuskan untuk memecah keheningan.
“Kau masih mencintai orang yang dulu kau sebut-sebut itu?”tanyamu. Aku tersedak oleh nasi yang masuknya salah jalur. Kau buru-buru membantuku minum hingga aku bisa bernafas lega. “Kalau merasa tidak perlu dijawab, tidak apa-apa.”katamu selanjutnya.
Aku berdeham, berusaha menetralkan masuknya udara. “Masih.”jawabku.
“Masih mau berjuang?”
“Entahlah.”jawabku sepatah kata.
“Mengapa?”tanyamu lebih lanjut.
Aku diam sebentar. “Aku rasa, dia sudah bahagia. Jadi, aku hanya diam-diam saja bertahannya.”jelasku, singkat dan padat. Kau pun terdiam.
“Kalau dia masih ingin kau berjuang?”
“Akan aku pikirkan dua kali.”
“Kenapa?”
“Karena,”kalimatku menggantung diujung lidah. “Kau ini ingin tahu sekali.”desisku sambil berusaha mengelak. Aku menggigit bibir dalamku. Dan aku bisa mendengarmu berdecak sebal karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dariku.
“Selesai ini, kau pulang saja. Mungkin sebentar lagi Ibu sampai dirumah.”
“Kau kenapa tidak pernah menghubungiku lagi?” Pertanyaanmu benar-benar keluar dari topik.
“Karena, ya aku merasa, sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Iya, kan? Toh kau ada wanitamu.”ujarku lirih, sebenarnya jawabanku melenceng dari pertanyaanmu, diam-diam aku menggigit bibirku yang terlalu cepat menjawab dan malah memberikan jawaban yang seharusnya tidak aku berikan.
Hening.
Diam-diam aku menunggumu memecah keheningan untuk sekali lagi, sambil menghabiskan makan siangku perlahan-lahan.
Hari itu, kau pergi dalam diam. Meski kau sempat berbisik ketika mengucapkan selamat tinggal padaku yang sebenarnya masih terjaga dari tidurku.
Sesungguhnya, aku tidak ada niatan untuk merusak atau membuat kebahagianmu pecah. Tapi, kau sendiri tidak tahu perihal hidupmu kan? Aku pun begitu. Aku hanya mengikuti arus yang aku ikuti, kemana tujuannya dan kemana ia bermuara. Maafkan aku, karena ternyata aku bermuara padamu yang seharusnya sudah tidak bisa lagi.


“Besok kita ke dokter, ya. Ibu punya kabar baik.”ujar Ibu pada suatu waktu ketika aku tengah melepaskan foto-foto yang aku cetak di kamar merah. Gerakanku masih berlanjut, tapi pikiranku berputar keras mengolah informasi Ibu. Ada apa lagi?
“Ada apa lagi, Bu?”ujarku dengan lirih.
“Sudah, nanti saja kau tahu kabar baiknya. Dan, Ibu rasa, suatu waktu kau harus mengucapkan terima kasih.”ujar Ibu penuh kemisteriusan. Keningku berkerut semakin heran mendengar kalimat terakhir beliau. Sepertinya ada yang tidak aku paham disini.
Aku pun hanya menunggu-nunggu hari ketika akhirnya Ibu mengajakku untuk pergi ke dokter spesialisku. Aku hanya menunggu diluar, sejujurnya aku malas untuk mendengar ocehan-ocehan dokter tersebut, jadi aku membujuk Ibu untuk tetap menunggu diluar saja.
Telingaku mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup dengan pelan-pelan.
Nduk, kau mendapatkan donor.”ujar Ibu. Aku mematung di tempat dudukku.
Aku bingung, haruskah aku melonjak kegirangan? Atau haruskah aku biasa-biasa saja? Aku milih yang paling diplomatis, berusaha tenang.
Akhirnya yang terucap adalah, “Tidak usah, Bu. Begini saja yang lebih baik.”tolakku dengan halus. Mungkin, Ibu sangat terkejut mendengar jawabanku yang diluar perkiraannya.
Nduk, Ibu kan bermaksud baik.”ujar Ibu memohon.
“Aku tahu, Bu. Aku tahu, Ibu bermaksud baik. Tapi, aku butuh untuk berpikir.”jawabku, setengah membujuk.
“Untuk apa berpikir ulang jika ternyata kau sudah mendapatkan donor?”
“Bu, tidak semudah itu. Aku tahu dia ikut campur tangan, kan, Bu?”tanyaku. Ibu tidak bisa mengelak lagi.
“Di bermaksud –“
“Iya, aku tahu, Ibu dan dia bermaksud baik. Tapi, biarkan aku berpikir ulang perihal ini. Aku masih harus menyiapkan mentalku, Bu,” Aku menghela nafas dengan lembut dan melanjutkan, “Ayo, pulang. Nanti kita pulangnya semakin larut.”ajakku. Ibu menyelipkan tangannya dengan lembut ke lenganku dan berjalan beriringan denganku.


Suatu saat, kau akan mengerti, disaat sudah tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan, yang tersisa hanyalah merelakan. Memang terasa rumit diawalnya, tapi aku bahkan kau pun tidak bisa memaksakan kehendak jika memang ternyata tidak bisa dituruti oleh alam. Itulah mengapa aku menyebut yang tersisa hanyalah merelakan, jika ternyata jalannya tidak bisa berdampingan. Lebih baik ada satu yang mengalah untuk menyelamatkan yang lainnya. Bagikut, itu lebih baik.
Satu hal, bahagia itu tidak bisa dibeli dengan apapun; tidak bisa ditukar dengan apapun meski itu teramat sangat bernilai. Bahagia itu tidak bisa kau cari dengan begitu mudahnya dari toko ke toko. Tidak semudah yang kau bayangkan untuk benar-benar bahagia, Sayangku. Rasa itu memang terungkap dalam satu kata, tapi jika memang tidak dimaknai, itu hanya akan menjadi seonggok kata yang biasa saja. Jadi, jika kau memang sudah menemukan bahagiamu, aku harap, kau sanggup untuk menjaganya. Karena, aku sudah menemukan bahagiaku, maka aku mencoba sebisaku untuk tetap menjaganya.
Aku tidak pernah memintamu untuk datang seperti ini.
Meski jujur, aku pernah berharap kau seperti saat ini.
Pernah terbayangkan olehku untuk menghabiskan hariku hanya denganmu dari aku membuka mata hingga aku menutup mata. Tapi, sekarang hanyalah seonggok bayangan yang aku pendam sendiri yang aku selipkan di kenangan yang aku tanam dalam-dalam agar tidak terbuka suatu waktu secara tiba-tiba.
Menjelang mendekati hari dimana kau merayakan tanggal yang kau tunggu di setiap tahunnya, aku mempersiapkan hadiah untuk yang pertama dan yang terakhir. Aku mencoba sebisa dan seamatiranku untuk membuatkan satu slide pendek yang memuat tentangmu, tentang aku, tentang kita, dan tentang kalian. Tentang kau dan dia.
Aku menuangkan kembali seluruh kenangan manis dan pahit yang aku simpan dengan baik entah di sebelah mananya otakku ini, ke dalam slide pendek yang sangat teramat berantakan tersebut. Awalnya aku ragu untuk melanjutkannya. Hingga sempat tersendat-sendat. Tapi, entah dorongan darimana, pada akhirnya proyek kecil-kecilanku itu berhasil selesai jauh dari deadline.


Kau membuka bungkusan berbentuk pipih tersebut yang ternyata sebuah piringan compact disk yang sepi akan tulisan. Kau mengerutkan keningmu, saking herannya. Tanpa nama pengirim, hanya berbungkuskan kertas kado dengan dibagian depannya bertuliskan nama lengkapmu.
Kau menyisipkan piringan compact disk tersebut ke dalam laptopmu dan menunggu dengan sabar dan juga penuh keingintahuan. Tidak lama berselang dari masa menunggumu, kau menahan nafas, karena kaget begitu melihat wajahku muncul, dan hampir memenuhi layar dengan kepala yang dimiringkan ke kanan sambil tersenyum lebar yang menampilkan deretan gigi-gigiku, itu potongan gambar yang sudah cukup lama sekali. Kau pun berdecak sebal karena merasa berhasil dikerjai olehku yang bungkus kadonya tanpa nama pengirim. Sesungguhnya, aku sendiri merasa konyol ketika memasukkannya sebagai salah satu pembuka dari slide pendek itu.
Yang tadinya kau menahan nafas, berganti menjadi senyum lebar, tapi seperti menahan tawa. Setiap menitnya potongan-potongan gambar tersebut silih berganti. Entah itu diriku; entah itu dirimu yang berkali-kali mengelak untuk difoto atau direkam; entah itu tentang dirimu yang bersamanya; entah itu tentang kegilaan kita yang dulu. Ya, dulu. Ketika mengerjakan bagian ini, terselip satu pertanyaan di dalam benakku, apakah kita bisa mengulanginya lagi? Tapi, kau tidak perlu tahu perihal itu.
Asal kau tahu, merindukanmu itu mulai terasa sangat berat ketika sampai pada fase aku-tidak-bisa-memberitahumu. Entah aku mendapat penopang darimana, aku perlahan mulai melewati fase tersebut meski dengan rasa miris yang cukup terasa.
Kau tersenyum ketika sampai pada bagian aku yang memotretmu diam-diam dan atau merekammu saat itu. Aku tidak perlu menyebutkan tempat-tempat yang menjadi latar belakang slide pendekku ini, kan? Jikalau, kau memang sudah tidak mengingatnya lagi, itu tidak mengapa. Karena, aku tahu dan bisa aku memaklumkan kalau otak manusia – termasuk aku dan kau – memiliki kapasitas yang sedikit perihal menyimpan kenangan yang jika baginya tidak terlalu penting.
“Kau ini susah sekali untuk diajak foto. Punya satu foto denganmu itu terasa seperti akan meminta foto dengan artis Hollywood yang gayanya selangit.”gerutuku dengan gusar.
Kau tertawa. “Ya karena aku tidak suka difoto.”jawabmu dengan santai.
“Tapi, kau itu suka foto orang lain.”jawabku masih dengan kegusaran dalam intensitas yang cukup tinggi.
Sekali lagi, kau tertawa dulu baru menjawab pernyataanku, “Itu kan hobbyku.” Jawabanmu membuatku sukses memberengut pada detik berikutnya, karena jawaban itu sudah skak matt bagiku. Sudah tidak bisa dibantah lagi.
Kau tersenyum saat slide tersebut sampai pada bagian tersebut.
Dan kau larut dalam potongan-potongan gambar yang – maafkan aku, ya – termasuk cukup berantakan tersebut.
Aku menutup rangkaian slide pendek tersebut dengan ucapan selamat ulang tahun.


Aku bukannya tidak mau menerima bantuanmu, tapi aku berusaha untuk tidak lagi membuatmu terlalu memikirkanku. Perihal wanitamu saja terkadang sudah cukup membuatmu kepikiran, jadi aku juga tidak mau menambah beban pikiranmu lagi. Padahal aku sendiri bukan saudara atau keluargamu, aku malah semakin tidak ingin menambah beban pikiranmu.
 Saat kau sudah selesai dengan slide pendek pemberianku tersebut, aku sudah memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah duapatah kata untuk sekadar menjelaskan perasaan ini. Cukup aku saja dan Ibu yang tahu. Maka, kau pun tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan sepatah duapatah kata pula. Lalu, jika ternyata kau menyambangi rumahku, yang kau temui hanyalah keheningan yang entah kapan akan berubah menjadi keramaian lagi. Ya, pada akhirnya aku berhasil membujuk Ibu untuk pindah. Pindah kemana pun yang tidak bisa kau temui kapan pun itu. Entah keluar kota, entah keluar negeri.

Entah besok, lusa, dan seterusnya dengan siapa pun yang bersamamu itu, aku tahu kau akan selalu bahagia dengan seorang yang beruntung tersebut. Aku berikan sebagian kecil dari kenanganku tentang kita, untuk kau simpan dan kau kenang suatu saat jika kau berkenan. Tetaplah bahagia, meski orang yang bersamamu silih berganti nantinya, tapi pastikan dialah bahagiamu. Karena, bahagia itu mahal dan terasa sangat mewah untuk dimiliki, jadi jangan sia-siakan orang (-orang) yang sudah membuatmu bahagia. Konyol, aku malah berbicara perihal bahagia.
Aku pamit.
Note: Walau bahagiaku ternyata tidak abadi, tapi terima kasih karenamu aku sudah merasakan yang namanya bahagia dan tidak ada penyesalan sekalipun dariku.
Kau menyimpan dengan apik secarik kertas yang ada tulisan tanganku tersebut diantara kenangan kita dan juga bersama dengan piringan pipih yang aku hadiahkan padamu.
Pada akhirnya, secara perlahan, kau mulai melafalkan selamat tinggal padaku dalam diam dan melanjutkan kebahagianmu dengannya dan denganku sebagai seorang yang pernah singgah dalam waktu yang cukup singkat di ruang dan waktumu. Mungkin, hatimu juga kah? Jawabannya hanya kau yang tahu.

Fin. 

Kamis, 29 Agustus 2013

Satu Definisi


Setiap orang bukannya berhak untuk bahagia? Hanya saja, setiap orang memiliki bahagia yang berbeda. Tapi, jangan kau pikir bahagia setiap orang memiliki artian yang berbeda. Artian bahagia itu hingga saat ini, masih tetaplah sama. Perasaan ketika kau merasakan perasaan senang. Dengan kau merasa senang karena hal sekecil apapun, kecuali hal yang negatif tentunya, kau sudah bisa menyebutnya bagian dari definisi bahagia.
Orang yang sanggup bahagia dengan mudahnya hanya dengan mendapatkan balon, ada.
Orang yang sanggup bahagia hanya dengan bisa bersitatap dengan seorang yang dicintai meski hanya sebentar, ada. Pada umumnya, rasa bahagia seperti itu sanggup didefinisikan oleh kaum perempuan. Euforia setelah bersitatap selalu terasa masih kental biar sudah lewat beberapa waktu.
Orang yang sanggup bahagia dengan mudahnya hanya dengan mendapatkan cokelat, ada.
Banyak hal yang sanggup membuat setiap orang bahagia dengan mudahnya.
Aku? Dengan bisa bersamanya saja sudah cukup, meski hanya dalam rentang waktu yang kecil; melihatnya tersenyum meski hanya dari jarak yang sanggup dilewati beberapa burung yang sedang terbang juga sudah termasuk bahagia bagiku.
Pada intinya, bahagiaku hanya bertumpu disatu titik. Dirinya.
Ada orang yang bahkan sanggup untuk mempertahankan kebahagiannya meski tahu hanya sia-sia, namun sejauh ini masih bertahan. Aku.
Kau tidak bingung membayangkan bagaimana aku bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama demi mempertahankan kebahagianku. Aku bertahan, karena aku bersungguh-sungguh. Karena aku tahu, titik tumpu bahagiaku masih padanya, dan hingga kini masih belum pindah pelabuhan.
Aku tidak tahu, akan sampai kapan aku bertumpu pada satu titik ini. Bukannya, aku tidak tahu, aku hanya tidak berani untuk memprediksikannya. Akan ada waktunya, saat ada sebuah celah dimana tumpu-bahagia-ku akan bertumpu pada titik yang lain. Dan, ya, meski sudah kupersiapkan sejak dini, tetap saja saat terjadi, aku ditertawakan oleh kenyataan.
Konyol. Padahal, aku sudah tahu, tidak ada yang siap dengan perpisahan dalam bentuk apapun itu. Kalau begitu, jika memang tidak ingin berpisah, tidak usah bertemu, iya kan? Tapi, namanya manusia. Selalu ada waktunya untuk bertemu, dan ya, waktu untuk berpisah juga.
Aku memainkan lensa kameraku. Membidik sasaran apa saja yang aku lihat di depan mataku dari ketinggian gedung.
“Lebih baik tidak usah bermain dengan lensa dulu, kalau sedang tidak fokus dan malah merusak hasilnya.”ucapnya. Aku turunkan kamera yang menutupi setengah wajahku sambil mendengus.
“Kau ini.” Hanya itu yang terucap. Karena, aku memang tidak bisa mengelak. Meski aku mengelak, dirinya tetap akan tahu.
“Aku lagi tersedia buat dengerin cerita perempuan yang penuh dramatisir, kok.”candanya. Aku mendelik kearahnya yang langsung tertawa.
Aku menggeleng sambil membersihkan kameraku. “Tidak ada yang perlu diceritakan. Kau ini terlalu berlebihan kalau jadi perasa.”ledekku. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok dan menatapku penuh selidik. Aku mengangkat kameraku dan membidik apapun itu.
“Kau yakin?”tanyanya penuh selidik.
Oh c’mon. I’m fine. Kau ini terlalu berlebihan.”desahku dengan sebal. Tidak berselang lama, rambutku berantakan karenanya. “YA!”teriakku dengan sebal. Dia hanya tertawa melihatku merapikan rambutku sambil menggerutu.
“Kau tahu,”
“Tidak.”
“ – kau ini salah satu temanku yang tidak pernah menceritakan apapun yang ada di otak dan hatimu. Selalu saja, aku yang bercerita.”sambungnya, tanpa mengindahkan ejekanku. Aku menarik nafas, yang sedari tadi aku tahan. Jika aku sedari tadi bernafas dengan lancar, yang terhirup olehku bukanlah udara, tapi wangi tubuhnya yang menguar ditiup angin.
“Jadi, karena hanya itu kau tidak mau berteman denganku lagi?”hinaku. Maksudku hanya bercanda. Tapi, ia menanggapinya dengan serius.
Ia menatapku dengan lekat, membuatku jengah.
Aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal. Hanya berusaha untuk meredakan kejengahanku saja. “Ya! Kau ini jangan menatapku seperti akan menerkamku habis-habisan!”seruku sambil mengambil beberapa langkah mundur. Ia berdecak sebal karena aku malah menganggapnya sedang bercanda.
“Dengarkan aku dan jawab pertanyaanku dengan jujur.”ucapnya dengan sangat pelan dan serius. Bulu romaku tiba-tiba meremang mendengarnya berbicara seperti itu. “Kau ini menyeramkan.”ucapku disela-sela ia menarik nafas.
“Sstt. Hanya jawab dengan jujur saja.”
“Ya sudah, cepat tanyakan! Kau ini sanggup membuat badan kucing berjinjit dengan cepat.”gerutuku.
Ia terdiam lama, sambil menarik nafas ia bertanya, “Kau masih normal, kan?”tanyanya dengan wajah......astaga aku menahan tawa terbahak-bahakku, yang memelas.
“ASTAGA!” Aku tidak bisa menahan tawaku ketika mendengar pertanyaannya. Selang sedetik, ia cemberut. “Otakmu itu sudah tua sepertinya, ya. Tentu saja aku masih normal. Aku masih menyukai dan akan selalu menyukai yang berjenis kelamin laki-laki. Tidak seperti kau, kanan-kiri, oke.”ledekku. Wajahnya semakin ditekuk. Ketika aku menertawakannya lagi, wajahnya langsung sembilan tekuk.
Terkadang, hanya dengan seperti ini dengannya sudah termasuk dalam pengertian bahagiaku. Kadang-kadang, kami akan sibuk dengan lensa masing-masing, tapi kami tidak benar-benar saling diam. Aku bingung menjelaskannya.
Kami saling mengenal belum dalam hitungan waktu yang cukup lama, padahal. Tapi, kami berteman sudah seperti teman lama. Dia sanggup memberikan aku rasa nyaman. Meski seharusnya aku tahu, ia sudah bertuan, tidak seharusnya rasa nyaman ini berkembang biak menjadi hal yang dilarang.
Tapi, ya itulah mengapa aku menyebutnya titik-tumpu-bahagiaku.


Walaupun waktunya lebih banyak dengan wanitanya, ia masih berusaha untuk menyempatkan waktu untukku. Terkadang, aku sebal sendiri jika wanitanya sudah mulai memanipulasi dirinya. Tapi, aku juga tau diri, kalau aku sebenarnya tidak ada hak. Karena, toh aku hanya berstatus sebagai temannya. Bahkan, kalau bisa disebut, aku seperti masuk dalam lingkaran hidup mereka tiba-tiba. Jadi, aku harus belajar bersyukur perihal itu.
Aku menyusuri kembali jalan cerita, dari awal aku bertemu dengannya.
Sebenarnya, aku tidak ada niatan untuk seperti ini dengannya. Awalnya aku hanya mau berbincang dengannya tentang beberapa hal, namun lama kelamaan menjadi lebih sering berbincang. Namanya juga takdir. Tidak ada yang tahu sama sekali akan dibawa menuju kemana jalan cerita mereka sendiri.
Aku tengah membersihkan lensa kameraku sebelum disimpan dengan apik di dalam tas khususnya, ketika tiba-tiba ia duduk di hadapanku sambil memberikan cengiran lebarnya yang menampilkan gigi-giginya yang tersusun dengan rapih. Aku mendongak dengan tak acuh sambil terus membersihkan lensa kameraku.
Ia mendesis sebal.
Aku mendongak lagi. “Apa?”tanyaku sambil menatapnya dengan kening yang berkerut. Ia kembali memamerkan gigi-gigi putih bersihnya ke arahku. “Kalau kau hanya ingin memamerkan gigi-gigi yang habis kau cuci bersih di dokter, lebih baik kau lupakan rencanamu itu. Karena, aku buru-buru dan tidak ada waktu untuk melihat ada yang kurang bersih atau benar-benar bersih.”gerutuku sambil melanjutkan acaraku menyimpan kameraku ke dalam tasnya dan bangkit berdiri dari bangku tembok yang aku duduki sejak tadi membidik sasaran-sasaran-tidak-jelasku, di pinggir pantai yang berada tidak jauh dari lokasi rumahku dan rumahnya yang berjarak beberapa meter.
Aku bisa mendengarnya terkekeh pelan di belakangku, namun aku tetap melanjutkan langkahku sambil menggelengkan kepalaku karena hanya menganggapnya bercanda.
“Aku cuma mau minta tolong, jadi fotografer untuk foto pre wedding aku. Bisa, kan?”
Aku yang tengah melangkah, tiba-tiba terdiam di tempat. Membeku di tempatku berdiri. Tanpa perlu menoleh, aku tau bahwa ia tengah berjalan ke arahku. Tidak lama kemudian, ia sudah berdiri di hadapanku dengan wajah yang memohon. Aku bingung mau menolak dengan halus dengan cara seperti apa, karena aku tidak mungkin bisa menolak permintaannya.
Jika aku sebuah gedung, sebentar lagi aku akan runtuh. Ya, dapat aku pastikan.
Aku hanya mengangkat sudut-sudut bibirku, berharap itu menyerupai sebuah senyuman yang biasa aku tunjukan padanya.
“Aku pikirkan dulu ya.”kataku berdiplomatis. Ia langsung memberengut tidak suka.
Desisan sebal langsung meluncur dengan cepat dari bibirku.
“Baiklah, baiklah. Nanti, aku kabari kapan waktu kosongku. Kau kan yang harus menyesuaikan waktu dengan fotografernya.”ucapku dengan asal-asalan.
Wajahnya berubah sumringah. “Sebenarnya tidak boleh begitu. Tapi, ya sudahlah. Karena, aku percaya padamu, aku ikuti katamu saja.”jawabnya. Hatiku semakin mencelos mendengarnya. Ternyata, kemarin-kemarin itu aku sudah diberikan waktu untuk mulai merelakannya biar bagaimanapun. Dan dengan bodohnya, aku tidak mengindahkan kesempatan itu.
“Kalau sudah tidak ada urusan lagi, aku pergi lebih dahulu.”ujarku dengan nada datar dan langsung buru-buru menghilang dari hadapannya. Berusaha menghalau bulir-bulir ini mengalir lebih dahulu sebelum kepergianku dari hadapannya.

Kalimat singkatnya yang meminta tolong itu masih saja terngiang-ngiang ditelingaku, hingga hampir membuatku gila jika seperti ini terus menerus. Aku tidak memikirkannya, tapi kalimat itu seperti sudah terprogram untuk berputar secara otomatis di otakku.
Harus aku akui, bahwa terkadang aku iri ketika melihat tangannya merengkuh pinggang wanitanya dengan posesif, memberikan keamanan yang sanggup membuat seorang wanita merasa nyaman dan tidak ingin meninggalkan rengkuhan itu meski harus dibayar berapa pun. Aku bahkan berani bertaruh, aku pun tidak akan mau menukar rengkuhan itu dengan apapun yang ditawarkan padaku.
Akhirnya, aku mencapai kesepakatan dengannya. Tepatnya kapan, tempatnya dimana, dan lain sebagainya. Ternyata, mereka memang hanya tinggal mencari fotografer setelah mereka merencanakan ini semua. Mereka hanya mau mencicil. Ya, begitulah yang aku dengar dari wanitanya.
Aku berikan satu konsep yang terbayang di otakku.
Aku hanya ingin mereka terlihat santai, dan terlihat tidak terlalu formal.
Aku putuskan untuk berikan konsep, paralayang.
Terdengar rumit. Tapi, sepertinya akan menyenangkan. Aku akan mengambilnya secara diam-diam, begitulah yang aku bayangkan. Dari awal mereka mempersiapkan untuk paralayang hingga ditahap terakhir ketika paralayang mereka mencapai landasan, dan lalu membereskan peralatan paralayang mereka.
Memang terdengar seperti hanya foto main-main sekumpulan remaja yang tengah liburan. Justru, itu yang aku maksud. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuknya. Jika, ia memang sudah menemukan titik-tumpu-bahagianya sendiri, maka aku pun mau tidak mau turut bahagia.
Sejauh ini, mereka menyetujui konsepku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Dan hanya bisa berharap yang terbaik dari yang terbaik untuk titik-tumpu-bahagiaku yang sudah memutuskan jalannya. Aku akan merindukan masa ketika aku yang tertawa dengannya tanpa sebab yang pasti; aku yang menertawakannya ketika ia kepedasan, padahal makanannya tidak menggunakan cabai yang cukup banyak; menertawakan leluconnya dan saling melemparkan guyonan yang bisa disebut teramat-sangat jayus; dan masih banyak lagi.


Yang aku inginkan untuknya hanya satu hal yang sederhana: ia bahagia.
Bukankah, memang sudah seperti itu kesepakatan dengan Sang Seleksi Alam? Kesepakatan yang dibuat dibawah sadar. Mau bagaimanapun, aku tetap harus merelakan.
Hingga umurku saat ini, aku masih tetap saja belum sanggup mengerti jalan pikiran dari cerita hidup ini. Aku masih belum mengerti maunya berakhir seperti apa ceritaku ini.
Aku duduk diam di bangkuku dan merasakan semburan hangat matahari pagi di kulitku. Aku tersenyum lemah sambil menyentuh kulit yang dibelai oleh hangatnya matahari pagi ini.
“Mau diluar sampai matahari sore?”seru sebuah suara yang aku kenali, mengambil posisi duduk disampingku.
“Tidak, Bu. Sebentar lagi saja. Ibu tidak datang ke acaranya?”tanyaku sambil menatap lurus.
“Bagaimana Ibu bisa pergi, kalau anak Ibu dirumah sendirian? Ibu tidak mau terjadi apa-apa pada anak Ibu.”ujar Ibuku sambil mengusap lembut rambutku yang sengaja aku gerai.
Aku terkekeh pelan. “Tidak apa-apa. Ibu pergi saja, sebelum terlambat. Setidaknya ada yang mewakilkan dan ada yang menyampaikan pesan turut bahagiaku untuknya, Bu. Kalau Ibu tidak pergi, aku menitip pesan pada siapa?”ujarku sambil tersenyum lemah.
Aku bisa merasakan, Ibu tengah menarik nafas panjang. Beliau tengah terombang-ambing di tengah dilema. “Kau yakin, tidak mau ikut?”tanya Ibu dengan lembut dan hati-hati.
Bahuku terkulai lemas. “Bu, sampai kapan pun, aku tidak akan muncul di hadapannya. Aku sudah mengatakannya dari awal.”jawabku dengan lembut, berusaha membuat Ibu mengerti bahwa keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
“Baiklah. Ibu antar kau masuk dulu ya. Ibu janji tidak akan lama disana. Begitu mengucapkan –“
“Aku bisa sendiri, Bu.”potongku sambil menyentuh tangannya yang lembut, yang tengah menggenggam tanganku dengan hangat.
“Tidak. Ibu temani.”ujar Ibu bersikeras. Aku hanya menjawabnya dengan menganggguk dan ikut berdiri ketika Ibu berdiri. Beliau menuntunku masuk ke dalam kamarku dan membantuku mengambil posisi berbaring di tempat tidurku. “Ibu tinggal dulu ya.”ucap Ibu sambil mengecup keningku. Aku menjawabnya dengan mengangguk pelan. Tidak lama berselang, aku mendengar suara pintu yang dibuka dan menutup.
Sejak kejadian yang menimpanya dan memperburuk keadaannya menjelang hari bahagianya, sudah aku putuskan untuk menitipkan apa yang biasa aku pergunakan, meski itulah yang terpenting untuk digunakan untuk melihat. 
Tidak lupa juga, di dalam suratku, aku titipkan sebuah memory card yang berisikan titik-tumpu-bahagiaku.
Lalu, pelan-pelan, bulir-bulir bening mulai mengalir turun di kedua sisi pipiku.


Untukmu,
Maaf, aku tidak bisa mengunjungimu hingga kapanpun, hingga di waktu yang tidak bisa aku prediksikan. Aku tahu, dengan atau tanpaku, kau akan bahagia. Ya, dengannya. Paralayang itu sudah menjadi tugas terakhirku untukmu sebelum pada akhirnya aku mundur dari dunia kita.
Dimanapun kau berada, aku yakin kau akan bahagia dengannya yang sudah menjadi titik-tumpu-bahagiamu. Karena, kau sudah menumpukan bahagiamu padanya, maka kau harus percaya, bahwa bahagiamu ada padanya. Jangan kau lalaikan tumpuanmu.
Aku hanya bisa berharap, kau bisa mengerti maksudku mengapa aku tidak bisa bertemu denganmu lagi.
Aku titipkan sebagian dari tumpuan bahagiaku untukmu.
Aku percaya, kau akan menjaga apa yang telah aku titipkan padamu.
Dirimu akan tetap menjadi titik-tumpu-bahagiaku.
Aku turut bahagia dalam bahagiamu.


Terkadang ada hal yang harus dikorbankan untuk mencapai kata bahagia, meski itu hal yang tidak mudah untuk dilakukan.
Terima kasih, karenamu aku mengenal kata bahagia meski dengan cara yang berbeda. 

Fin.

Kamis, 22 Agustus 2013

Seharusnya.


Kau kenal dengan sang Jarak, kan? Satu kata yang memiliki arti sebuah ruang sela, bisa dalam bentuk satuan ukuran panjang dan atau seberapa jauh dekatnya sesuatu. Banyak orang-orang yang bilang, jikalau memang hubunganmu kuat dengannya meskipun diputuskan oleh jarak, tetap saja hati akan tetap dekat dan hubungan itu akan tetap utuh, jika saling percaya. Entah sejak kapan, aku tidak pernah setuju dengan pendapat tersebut, meski hanya beberapa persen saja.
Mengapa? Karena, jika kau memiliki, misalkan satu hubungan saja dan malah harus bermusuhan dengan jarak, maka rintanganmu akan semakin berat, nanti. Kau pun mau tidak mau harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dirinya. Lingkungan baru itu yang perlahan-lahan memberikanmu satu-per-satu cobaan. Yeah, kau pasti kenal dengan kalimat, seleksi alam.
Ada yang gugur, ada pula yang bertahan. Jarak yang memberikan pelajaran itu sendiri. Jika, kau memang sanggup, kau bisa melewatinya. Tapi, disetiap ada yang sanggup, pasti ada yang tidak sanggup. Entah itu perbandingannya jomplang, atau sama.


Mataku terbuka dengan perlahan, cukup lama aku diam dalam posisiku dengan kedua mataku yang menatap langit-langit kamarku dengan pikiran yang masih kemana-mana. Pelan-pelan jiwaku kembali ke tubuhku dan perlahan mulai sadar sepenuhnya. Dengan gerakan yang teramat pelan, aku menyibakkan selimutku. Berjalan menuju jendela untuk menyibakkan gordennya, mempersilahkan hangatnya sinar matahari membelai seisi ruangan kamarku dan menghangatkan sudut-sudutnya, masuk dengan menyusup dicelah-celah ruang.
Aku menghirup udara pagi dalam-dalam, membiarkan udara baru dan segar itu berputar di dalam rongga paru-paruku untuk membersihkan sisa-sisa udara kotor sebelumnya dan menghembuskannya dengan perlahan.
Hey, hidup tidak semudah kita menarik dan menghembuskan nafas. Tidak.
Jangan pernah meremehkan hidup, jika tidak ingin diremehkan balik oleh Sang Takdir, sang empunya jalan cerita. Kita hidup seperti ikut bermain dalam pasar modal, yang bisa disebut juga ikut judi legal. Aku seperti berjudi dengan hidupku sendiri setiap harinya. Karena, disetiap kali aku melangkah, aku harus memikirkan langkah selanjutnya.
Meski waktu tetap sama, tetap berputar diporosnya yang sama dalam satu lingkaran, tapi apa yang terjadi hari ini, hanya terjadi hari ini, tidak akan terjadi di kemudian hari. Saat-saat yang terjadi saat ini akan menjadi kenangan ketika hari sudah berganti. Satu rol film pendek untuk satu hari; satu cerita untuk satu hari.
Aku menyusurkan ujung-ujung jemariku di setiap gantungan foto. Entah itu hasil cetak polaroid dan atau dari kamar merah. Setiap foto menyimpan cerita, bagiku. Menurutku, itulah fungsi dari foto. Merekam, menyimpan, mengabadikan kenangan yang tidak bisa kita abadikan secara abadi. Meskipun tersimpan dalam otak ini, tapi tempurung otakku ini memang lemah terhadap hal mengingat-ingat. Untuk itulah, ritual setiap pagiku adalah menyusuri kenangan demi kenangan.
Seperti membuka satu per satu lembar setiap buku.
Terkadang, aku akan terpaku dalam satu kenangan.
Terkadang, aku memilih melewati kenangan tersebut tanpa berpikir dua kali.
Sambil menyusurkan jemari-jemariku, aku memejamkan kedua kelopak mataku, meresapinya. Diam-diam kedua sudut bibirku melengkung ke bawah. Membentuk lengkungan yang akrab sekali dengan mata kita. Seulas senyum.


Perjalanan menyusuri kenangan ini baru saja dimulai.
Dan perjalanan kedepan nanti jaraknya tidaklah sebentar.
Hidup kita membutuhkan proses; Dan mungkin, kita tengah berada dalam proses itu. Entah itu revolusi kah atau evolusi yang tengah berlangsung. Setiap proses orang-orang berbeda masanya. Perlahan-lahan aku mulai menyusuri kenangan demi kenangan yang terjalin seperti benang yang sudah selesai dari masa benang-wol-yang-kusut.
Aku mengaduh dengan pelan sambil menatap ujung jariku yang tertusuk entah apapun itu, aku tidak tahu jenis apa yang sudah menusuk ujung jariku hingga membuatnya berdarah. Jariku yang terluka digenggam dengan sangat erat. Aku tersenyum menenangkan.
“Tidak apa-apa, kok.”kataku. Kau hanya memberikan desisan sebalmu padaku, yang aku ketahui, kau tidak serius. Karena, hal selanjutnya yang kau lakukan, kau menatapku dengan dua bola mata yang penuh kekhawatiran.
“Makanya, hati-hati.”gumammu, aku bisa menangkap nada khawatir dibalik kalimat itu. Tanpa rasa malu atau pun jijik, kau menyesap darah yang mengalir dari ujung jemariku. Aku sempat bergidik sebentar, karena geli, bukan karena tidak biasa. “Tahan sebentar saja. Ini untuk menghentikan darah yang keluar dari jarimu.”katamu sambil pergi mengambil handsaplast di kotak P3K. Aku menatap jariku yang tadi tertusuk. Aku memotret ujung jemariku dengan kamera Polaroidku.
“Dasar wanita. Luka saja sampai diabadikan segala.”ledekmu.
“Karena disembuhkan olehmu, menurutku pantas-pantas saja untuk diabadikan.”kilahku sambil tersenyum, yang langsung disambut dengan decakan tidak setuju darimu. Aku tetap dengan santainya mengibas-ngibas kertas Polaroid, menunggu gambar yang dihasilkan muncul. Aku hanya tersenyum lebar, dan seperti anak kecil yang habis jatuh dan tidak menangis, aku berdiri menunggu dengan tenang ketika lukaku diberikan Betadine lalu ditutupi oleh handsaplast.
Kau yang tengah berdiri disampingku dan sudah selesai menempelkan handsaplast ke ujung jariku, menatapku dengan lembut. “Kau ini sudah besar, bukan anak kecil lagi. Masa bisa tertusuk kayu.”candamu sambil geleng-geleng kepala dan mengusap puncak kepalaku. Aku terkekeh layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah yang dinanti-nantikannya.
Aku berjalan lagi kedepan dengan senyum yang sudah memudar dan dengan genggaman tangan yang kosong disana.
Aku merasakan dua lengan memeluk pinggangku dari belakang, kepalamu bersandar dengan nyaman di bahuku. Aku mengangkat tangan kananku dan mengusap kepalamu dari samping dengan lembut,“So, please stay with me forever, ‘till the end of my life, ‘till the end of my life.” Aku tersenyum tersipu saat mendengar sepenggal lirik dari lagu kesukaanku itu mengalun di telingaku, selain perihal lagunya, tapi juga suaramu. Aku semakin tersenyum ketika suaramu sampai pada satu kalimat dalam lirik itu yang sangat aku sukai, diucapkan dengan sangat pelan.“Oh darling, I love you more each day.” Kepalaku mengangguk dengan mata yang terpejam erat, lalu kepalaku menoleh ke samping dan berbisik, “Aku juga.”
Suara dari saxophone itu sanggup membuatku terlena dan perlahan aku mulai bergerak kecil mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan ulang oleh Sierra Soetedjo, dengan tubuhku yang bersandar padamu yang masih memeluk pinggangku dengan hangat. “Cause you’re the only one I have in my heart,”bisikku pada telingamu yang berada tepat disamping pipiku.
Aku tahu dengan baik bahwa bibirmu yang hangat itu tengah tersenyum, meskipun dengan mataku yang masih terpejam. Selang beberapa detik, dagumu yang masih bersandar dengan nyaman di bahuku, terasa seperti mengangguk mengiyakan lirik yang aku bisikan padamu. Sungguh, hanya seperti ini denganmu sepanjang hari, aku merasa sangat sanggup untuk melewati hari ini dengan berdiam diri di dalam rumah saja. Ya, tapi denganmu.
Aku melepaskan tanganku dari rambutnya yang lembut itu, membuka mataku dengan sangat perlahan, nyaris bergetar. Kembali menyusuri cetakan-cetakan foto yang menggantung dengan apik di gantungannya, menyusurinya seperti yang kemarin-kemarin, sendirian saja.
Memang dasar pecandu cerita karangan belaka, aku jadi lebih ingin hidup dalam cerita karangan penulis-penulis itu. Atau mungkin dalam karangan ceritaku sendiri. Ya, begitulah hidup. Ada hal yang memang tercipta namun tidak bisa atau tidak mungkin untuk dimiliki. Ugh, rasanya seperti saat kau sangat lapar dan kau melihat makanan yang sangat menggoda selera, tapi kau tahu kau tidak boleh makan makanan itu ataupun membelinya, rasanya itu.....ah sudahlah. Entah mungkin karena sebuah dan atau beberapa alasan. Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai pantangan. Apalagi jika pantangannya disuruh untuk mulai melupakanmu. Ha-ha-ha. Rasanya seperti dipaksa untuk makan racun, ya.


Aku menghela nafas dengan berat. Kedua bahuku terkulai dengan lemas di samping tubuhku. Aku berdiri dalam diam di depan jendela besar dengan pikiran yang mulai memasuki fase benang-wol-yang-mulai-kusut dengan mata yang kembali terpejam. Dalam kesunyian, diam-diam rindu ini merangkak masuk melalui celah-celah yang tersisa. Aku hanya diam saja saat rindu ini menggelitikiku tanpa henti. Lama-kelamaan, bukan gelitikan yang aku rasakan lagi. Rindu ini mulai meradang dengan tidak sopannya.
“Kau kenapa diam terus?” Aku menoleh ke belakang melalui bahuku dan tersenyum.
“Tidak. Aku hanya sedang merindukan seseorang.” Candaku sambil menatap ke depan lagi. Dirimu menghampiriku dan berdiri di sampingku dengan postur tubuh seperti sedang kesal.
“Kau? Merindukan? Seseorang? Siapa?”tanyamu dengan nada kalimat yang sebal dan menuntut. Aku menahan mati-matian tawaku yang sudah menggelitik ujung lidahku.
Tidak lama kemudian, dirimu sadar bahwa aku tengah mengerjaimu. Karena, akhirnya dirimu berdesis sebal dan malah ganti menggelitiki pinggangku hingga aku minta ampun. “Ya! Cukup!”pekikku disela tawa kita dan dengan aku yang berusaha melepaskan tanganmu dari pinggangku.
“Siapa suruh mengerjaiku.”jawabmu yang tanpa ampun terus menggelitiki terus.
“Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf!”teriakku sambil tertawa. Dirimu masih saja jahil menggelitikiku.
“Cepat bilang, kau merindukan siapa. Kalau tidak, aku tidak akan berhenti menggelitikimu.”ancammu dengan bercanda.
Aku semakin tertawa lebar. “Baiklah. Aku akan mengaku. Tapi, tolong berhenti. YA! Aku tidak bisa bicara dengan lancar.”kataku setengah tersendat karena lebih sering tertawa. Sedetik kemudian, kau berhenti.
Aku menatapmu dengan lembut. “Harus aku bilang, kalau kau sendiri sudah tau jawabannya, ya?” Aku memberikanmu satu pertanyaan yang seharusnya sudah kau ketahui jawabannya. Kau tersenyum lebar padaku dan melebarkan kedua lenganmu ke arahku. Dengan senang hati, dan tanpa pikir panjang, aku melangkah masuk ke dalam pelukan yang kau tawarkan padaku.
“Kau jiwa yang selalu aku puja.” Kau menyanyikanku satu kalimat terakhir dari lagu kesukaanmu, sambil mengusap-usap kepalaku dengan hangat. Rasanya begitu nyaman, diam dalam buaian di pelukanmu seperti ini. Nyamannya seperti kau duduk di sofa yang super-duper-teramat nyaman untuk ditinggalkan begitu saja. Ya, aku terlalu susah untuk meninggalkanmu. Dan aku tidak pernah mencobanya, karena selain aku tahu akan susah, aku pun memang tidak memiliki niatan untuk mencobanya.
Saranku, tidak perlu mencoba untuk melupakan jika terpaksa atau dipaksa. Biarkan waktu yang membantu melupakan, tapi lebih baik jika tidak dengan paksaan. Semakin dicoba akan terasa semakin rumit jika berusaha untuk melupakan. Mungkin kebalikannya yang akan terjadi; akan semakin mengingatnya.
Melupakan memang tidak pernah semudah saat mengucapkannya.


Mataku menyusuri sedikit demi sedikit sisa-sisa dari kenangan yang hampir selesai ini.
Sesekali diselingi senyum; tawa kecil; lalu berakhir dengan diam ketika aku sampai pada penghujung.
Biar bagaimanapun, berjagalah terus, karena kalian, termasuk aku, tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengan perpisahan. Tidak ada sama sekali. Untuk menerima perpisahan itu tidak lah mudah. Tidak ada yang pernah menyukai perpisahan, karena yang dicintai hanya lah pertemuan itu sendiri.
Dari awal aku sudah menekankan pada diriku sendiri. Hari ini akan tetap datang, cepat atau lambat, dan aku tidak akan pernah bisa mengelak dari hari ini. Hari tidak bisa dipindah dengan seenaknya seperti memindahkan saluran televisi.
Seperti malam-malam sebelumnya di minggu ini, menonton ulang film-film yang sudah ditonton meskipun film itu baru ditonton beberapa hari yang lalu, di minggu yang berbeda. Aku duduk dengan tenang di sofa sambil menonton film kesukaan kita, saat kau menghampiriku dengan tenang dan duduk disampingku dengan lengan yang melingkar di bahuku.
Aku menoleh sebentar untuk tersenyum padamu, yang kau balas dengan senyum kecil, dan kembali fokus pada film yang tengah diputar di layar di hadapan kita. Tidak lama berselang dari senyum itu, tiba-tiba aku diserang firasat buruk. Kau merasakan gestur tubuhku yang tiba-tiba berubah menjadi lebih tegang, karena selanjutnya kau mengusap-ngusap puncak kepalaku. “Seperti ini saja dulu.”bisikmu sambil mengusap terus puncak kepalaku.
Gestur tubuhku sama sekali tidak berubah. Tidak lebih tenang, tapi melainkan lebih tegang. Sedang menghitung mundur, kataku. Tapi, hanya aku ucapkan dalam hati. Aku membiarkan kepalaku bersandar padanya. Aku tidak tahu mengapa, tapi yang awalnya aku sangat bersemangat untuk menonton ulang film ini, tiba-tiba dua insan di layar yang tengah kasmaran itu berubah menjadi membosankan. Seperti mengonsumsi makanan yang sama setiap hari dan setiap jamnya.
Lama kelamaan usapan lembut di kepalaku seperti lagu pengantar tidur bagiku, mataku mulai terasa berat untuk terbuka. Perlahan dua kelopak mata ini mulai menutup dengan sendirinya, sebelum aku jatuh ke alam mimpi, aku masih sempat mendengar kau membisikan satu kalimat, “I love you, but try to let me go. Please, forgive me.” Untuk yang terakhir kali.
Aku terbangun dengan posisi menghadap ke sisi yang biasa kau tempati di tempat tidur. Tanganku terjulur mengusap sisi tempat tidurmu, berharap menemukan lekukan-lekukan yang menandakan bahwa sisi itu sempat ditempati, tapi aku tidak pernah menemukannya, lagi. Perlahan aku menoleh ke arah nakas disamping tempat tidurku. Benda yang sangat tidak aku inginkan; benda yang sangat aku hindari, sudah berada disana ditemani dengan secarik memo yang menempel di plastik pembungkusnya.

Aku minta maaf karena aku pergi dalam diam. Bahkan, aku tidak berani untuk mengatakannya langsung padamu sekaligus memberikan ini langsung. Aku terlalu pengecut untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku tidak pernah sama sekali menghitung hari, karena aku tahu, aku semakin dekat dengan hari ini.
Tapi, terima kasih karena kau sudah menemani hari-hariku yang terasa berat untuk dilalui dan menerimaku meskipun kau sudah tahu kenyataan yang ada di depan matamu, kenyataan yang harus kau hadapi. Terima kasih karena sudah mencintaiku yang tidak layak menerimanya darimu. Terakhir, terima kasih untuk semua kenangan ini.
Tetap saja kau jiwa yang selalu aku puja.

Aku kembali.

Nafas yang mengalir masuk ke rongga-rongga dan yang mengalirkan udara ke dua bilik paru-paruku tiba-tiba berhenti. Aku menempelkan kembali memo itu di plastik transparan itu dan merebahkan kepalaku yang tiba-tiba terasa pening ke atas bantal yang masih menguarkan aroma tubuhmu dan mencoba untuk kembali tenggelam dalam mimpi diiringi oleh wangimu.
Kau sudah memutuskan untuk kembali melewati jarak itu untuk kembali kesana.

Bulu mataku yang dulu sangat kau puja, bergerak terbuka, kembali menatap kejauhan dengan pandangan yang hampa.
Ya, biar bagaimana pun, aku tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa kau sudah kembali ke tempat yang seharusnya. Aku menatap benda dengan memo yang sudah hampir usang itu dengan tatapan nanar. Kau pergi dalam diam, dan aku pun diam dalam ketidaktahuanku saat kau pergi.
Tidak ada yang salah diantara kita, sayang. Yang ada hanya hubungan kita yang ternyata tidak cukup kuat untuk dipisahkan oleh jarak, hingga akhirnya kau pun dipilihkan untuk yang lainnya.
Aku masih belum melangkah keluar dari kotak yang aku sebut-sebut Kenangan Kita. Mungkin, karena aku masih belum bisa melangkah keluar. Padahal, langkahku di dalam pun sudah mulai tertatih. Karena, yang selama ini aku jaga berdua denganmu, kini aku menjaganya seorang diri. Memang seharusnya aku yang mengakhirinya lebih dahulu sebelum akhirnya aku harus membenci melepaskan. Aku membiarkan undangan pernikahan itu tergeletak begitu saja diatas nakas berserta dengan memo yang kau tulis dengan rapih dan meninggalkan gantungan foto berisi kenangan itu dengan langkah gontai.

Kenangan akan tetap menjadi kenangan.
Tidak ada yang bisa merubah kenyataan tersebut.
Kegiatanku setiap pagi tetaplah tidak berubah.
Mengenang.

I’m really thanked for you. For anything you give and what I accept from you.
So, let me wish you are happy, because it’s supposed to be like that.
See you in another story and places, if it’s should.

Fin.