A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Rabu, 02 April 2014

Berbicara dalam Diam


Membuka mata di pagi hari. Menyambut hangatnya mentari yang masih sanggup untuk kulihat terus bersinar. Aku tidak akan pernah tahu kapan ia akan berhenti bersinar, atau kapan aku akan berhenti membuka mata di pagi hari. Waktu punya rahasia. Sama seperti manusia. Setiapnya memiliki satu rahasia diantara rahasia-rahasianya sendiri yang tidak bisa dimiliki bersama dengan orang lain.
Jadi, aku sendiri tidak tahu kapan aku akan mulai berhenti. Setidaknya berhenti perlahan-lahan. Tapi, aku memilih langsung berhenti daripada berhenti perlahan-lahan. Mengapa? Jika perlahan-lahan, akan semakin terasa sakitnya. Lebih baik langsung selesai.
Banyak hal yang tidak terduga dalam hidup.
Aku duduk di depan layar laptopku yang sudah stand by sambil menghirup wangi kopi pagiku yang uapnya masih menguar dari dalam cangkir.
Aku tersenyum kita aku melihatnya berada di hadapanku sambil tersenyum.
“Halo, selamat pagi. Pasti bangunnya terlambat?” Mataku menoleh ke arah jam dindingku dan tersenyum lebar. “Tidak. Kali ini aku tidak bangun terlambat.”jawabku.
“Baguslah kalau tidak bangun terlambat. Selanjutnya jangan bangun terlambat juga ya. Enggak baik kalau bangun kesiangan terus! Ayo jangan lupa sarapan ya.”ujarnya sambil memasang wajah lembut di hadapanku. Senyumanku semakin terangkat dengan lebar di sudut-sudut bibirku.
Aku gerakkan ujung-ujung jemariku untuk menyentuh dan ikut tersenyum karenanya.
“Ini, sarapanku. Kau seperti tidak tahu menu sarapanku saja.”candaku sambil mengangkat cangkir kopiku yang berwarna hitam dengan garis-garis berwarna tosca, hadiah darinya. Hadiah kesayanganku yang menjadi cangkir kopi kesukaanku.
“Jangan kopi terus! Kan aku sudah berapa kali bilang jangan kopi terus. Kau tahu kopi itu tidak baik untuk kesehatan.”celotehnya dengan kesal padaku. Aku terkekeh karenanya. Entah mengapa aku selalu senang setiap kali ia mulai mengoceh seperti ini.
“Baiklah, baiklah. Besok-besok aku ganti dengan green tea. Lebih sehat kan?”ujarku seraya memberikan senyum lembutku, dan ia ikut tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala berbentuk hatinya itu, “Memang lebih baik green tea yang kau minum daripada kopi terus-menerus. Aku khawatir pada kesehatanmu.”ujarnya.
“Terima kasih karena masih mengkhawatirkanku. Aku juga selalu mengkhawatirkanmu.”jawabku, terbit sebuah senyum sendu.
“Jangan khawatirkan aku. Aku tidak pernah memintamu untuk mengkhawatirkanku, Sayang. Akan lebih baik jika kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Ada saatnya kau boleh menjadi manusia egois. Tapi, jangan ketagihan, ya.”balasnya dengan lembut.
Aku mengangguk dengan patuh seperti anak TK yang menuruti perintah dari gurunya untuk tidak nakal dengan wajah yang setengah memelas. Konyol sekali. Mungkin, jika aku masih kecil akan terlihat sangat lucu. Tapi, sekarang? Mungkin aku sendiri akan malas untuk melihat mukaku sendiri.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk mengkhawatirkan diriku sendiri, nanti tapi ya.”jawabku sambil memberikan seringai jahil padanya. Wajahnya berubah datar dihadapanku.
“Aku merasa seperti sedang mengurus anak kecil dengan badannya terlalu besar untuk disebut anak kecil.”gerutunya dengan sebal. “Aku harus pergi dulu ya. Jaga kesehatanmu. Aku tidak mau kau sakit.”
Aku mengangguk perlahan, sambil menghembuskan nafas panjangku, aku menutup layar laptop. Aku bangkit berdiri dari posisi dudukku. Mudah ya? Kau tahu maksudku? Mudah saja ya berdiri dari kursi. Tapi, tidak semudah berdiri dari keterpurukan. Saat kau mencoba untuk berdiri, kau pasti akan membutuhkan tongkat untuk membantumu berdiri. Bukan, bukan tongkat yang berbentuk tongkat. Sesuatu yang bisa membantumu berdiri. Contohnya? Tanyakan pada dirimu sendiri.
Ada pertanyaan yang muncul dari dirimu sendiri, tapi sesungguhnya jawabannya pun ada pada dirimu sendiri, jadi bukan untuk dicari diluar dirimu. Jadi, memang benar jika orang bilang, tidak ada pertanyaan tanpa jawaban.
Sayangnya, terkadang perihal hati, hanyalah jawaban rumit yang bermunculan. Jawaban yang muncul pun bukan berupa sebuah rumus-rumus layaknya matematika. Memang sejak kapan perihal perasaan bisa dihitung dengan tingkatan dari sebuah rumus? Malah, terkadang tidak memiliki jawaban barang secuil saja. Jawabannya ya sebenarnya ada hanya saja ia tidak semudah yang dibayangkan. Ah, omonganku mulai melantur.
Matahari masih bersinar terang di batas langit.
Meskipun aku tidak bisa berada di sampingmu secara terus-menerus, dengan hanya berpijak di atas tanah dan berdiri di bawah langit yang sama denganmu saja sudah terasa cukup bagiku.
Ku sesap kopiku yang perlahan-lahan mulai mendingin karena tertiup oleh udara yang membawanya ikut pergi. Bisakah perasaan pergi seperti itu? Pergi hanya dengan tertiup oleh satu hembusan angin? Rasanya mungkin akan lebih mudah jika seperti itu. Tapi, pada kenyataannya tidak. Memang, jatuh cinta itu awalnya mudah. Tapi, ketika rasa itu sendiri tidak memiliki jawaban dari lawan, akan terasa berat perjuanganmu ketika kau sampai pada satu tahap yang memang cukup berat untuk dilewati. Melupakan.
Adakah yang sanggup melupakan layaknya seperti angin yang berhembus yang meniupkan dedaunan kering yang bertebaran di jalan layaknya membentangkan karpet untuk para idola berjalan diatasnya? Aku ragu, apakah sebenarnya ia memang benar-benar mencintainya atau tidak sehingga bisa semudah itu melupakan.
Mau mencoba melupakan seperti apapun, seseorang yang sudah pernah singgah, tidak akan pernah bisa dilupakan secara sepenuhnya. Yang ada hanya meninggalkan jejak. Jadi, lebih baik tidak usah berusaha melupakan jika akan sia-sia. Lebih baik biarkan saja utuh seperti sedia kala. Terkadang, untuk melangkah barang beberapa langkah saja, ada baiknya untuk memikirkan ulang lagi untuk memastikan, bukan untuk membuat ragu.
Akan banyak hal yang tidak terduga yang bermunculan di setiap harinya. Jadi, bersiap-siaplah. Waktu memiliki hal-hal tidak terduga mereka sendiri yang sudah berada dalam bungkusan dengan bertuliskan nama-nama kita sendiri, dan siap diantar ke depan rumahmu.
Bertepatan dengan bel rumahku yang berdering dari luar.
Sebuah paket.                                                                                        


Sambil mengeringkan rambutku yang masih meneteskan air sisa mandi, aku duduk di depan meja tempat laptopku duduk dengan manis, lalu menyalakan laptopku dengan bersemangat.
“Hallo, selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan –“
“Selamat pagi juga. Hariku pasti selalu menyenangkan jika dibuka dengan pertemuan denganmu. Aku harap harimu menyenangkan.”kataku sambil tersenyum.
“ – hariku akan selalu menyenangkan, karena aku memilikimu. Meskipun tidak disampingku. Jangan lupa untuk makan dan istirahat. Kalau kau belum tahu, jadi let me tell you the truth, kau itu terkadang sulit untuk menjaga pola makan dan istirahatmu. Jadi, berhati-hatilah.” Ujarnya yang ada di dalam laptopku dengan wajah yang melembut di kalimat terakhir.
“Enak aja. Aku sekarang sudah mulai menjaga pola makan dan istirahatku kok. Ah, sedang dimana kau?”tanyaku dengan penasaran.
“Aku lagi dibawah pohon sakura loh! Sakuranya lagi mekar-mekarnya nih. Coba bisa dibawa pulang. Aku ingin bawa pulang! Kau pasti suka. Warnanya indah ya? Pas lagi pas mataharinya lagi cerah begini.” Kamera itu bergerak keatas dan menyorot bunga sakura yang sedang mekar. “Kau pasti tahu aku sangat menyukai sakura.” Kameranya masih menyorot ke arah bunga sakura, lalu aku mendengar suara orang yang batuk-batuk, dan berdeham setelahnya. “Kau kenapa?”tanyaku dengan khawatir.
“Maaf ya tadi aku kesedak ludahku sendiri. Hari ini sampai disini dulu ya pertemuannya. Aku sayang kau, dan akan selalu begitu. Daahh~” Sebelum layar menggelap, aku melihatnya melambaikan kedua tangannya dengan ceria. Ia duduk diatas rumput-rumput hijau dan berlatarkan pohon sakura yang sedang mekar.
“Aku sayang kau juga, dan akan selalu begitu.”gumamku sambil tersenyum kecil.
Kali ini pertemuan dengannya terlalu singkat, tidak seperti sebelumnya. Aku menghela nafas dengan pelan. Tidak apa-apalah. Setidaknya aku masih bisa bertemu dengannya. Aku menutup layar laptopku dengan perlahan.
Aku bangkit dari kursiku, meraih buket bunga lili dan kunci mobil disampingnya.
Aku menghirup sebentar wanginya dan berjalan keluar dari rumah.
Tapi, berjalan keluar dari kenangan itu tidak pernah semudah itu, kawan.
Tidak usah bersusah payah untuk membakar kenanganmu. Bagiku, kenangan itu bersifat abadi, meskipun tidak nyata tapi ia ada. Ada dalam ingatan kita. Umurnya selalu sama, tidak bertambah dan berkurang.


Aku membersihkan rumput-rumput liar diatas makam batu, dan meletakkan bunga lili itu diatas nisannya. “Hallo, aku datang lagi. Tidak banyak yang mau aku katakan, aku hanya ingin katakan, aku merindukanmu. Aku akan baik-baik saja disini. Cukup itu yang kau tahu, meskipun kau melihatnya berbeda.”kataku dan berdiri. Aku membungkukkan tubuhnya 90 derajat cukup lama, dan berjalan pergi meninggalkan makam tersebut.


Kenangan itu harganya tidak terhingga. Tidak bisa dibeli oleh siapapun, tidak bisa dimiliki oleh siapapun juga. Setiap orang memiliki kenangan yang berbeda-beda. Kapasitas untuk kenangan itu tidak terhingga juga. Kenangan itu bagiku seperti barang pecah belah. Jangan asal sentuh jika tidak ingin rusak. Mungkin, kenangan itu berlabelkan ‘fragile’ di kepalaku.
Saat aku terbangun, aku membuka laptopku kembali dan bersiap-siap untuk bertatap muka kembali dengannya. berharap semoga kali ini lebih lama dari sebelumnya. Karena, pertemuan yang sebelumnya masih terasa kurang dan aku merasa seperti ada yang mengganjal.
Aku menyalakan laptopku. Aku menunggu laptopku loading sebentar dengan lima jari yang aku mainkan dengan tidak sabaran diatas meja seperti orang yang sedang menunggu dengan tidak sabaran. “Oh, c’mon!”rutukku sekali lagi karena laptopku lama sekali selesai loadingnya. Tak lama, aku tersenyum ketika sudah masuk di tampilan utama.
“Halo, selamat pagi. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak? Mimpimu indah kan?” sapanya sambil melambaikan tangannya padaku di layar dengan senyum cerianya. Senyum itu yang selalu sanggup membuatku untuk selalu merindukannya, rindu untuk bertemu meskipun secara tidak langsung.
“Indah dong. Aku yakin, kau juga pasti mimpi indah. Kalau aku mimpi indah pasti aku tidur nyenyak. Tidak usah khawatir.”jawabku sambil menyuapkan sesendok cereal. Tiba-tiba hening. Ia hanya menatapku dengan mata bulatnya itu dan dengan senyum cerianya yang masih mengembang di wajahnya. Aku menatapnya dengan wajah yang kebingungan dan dengan kening yang berkerut.
“Ada apa?”tanyaku sambil meletakkan piring cereal di atas meja.
“Kau lupa hari ini hari apa?”tanyanya dengan wajah yang penuh misteri.
Aku menggeleng lemah, dengan otak yang berusaha untuk mencerna. Memang ini hari apa? Ada apa dengan hari ini memangnya? Aku masih belum menemukan jawabannya.
“Ah, kau pasti lupa. Kau tunggu sebentar ya. Aku akan kembali. Jangan kemana-mana ya!”ancamnya sambil terkekeh.
Aku menunggu dengan sabar. Piring cerealku tidak tersentuh sama sekali.
“Happy birthday to you~~ happy birthday to youu~~” Tiba-tiba ia muncul dilayar sambil membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk bundar dan dua tingkat, sudah dipenuhi dengan lilin-lilin yang warna-warni. Aku terhenyak. Aku saja lupa. Tapi, dia yang sudah jauh itu masih mengingatnya.
“Ayo dong ditiup dulu. Nanti lilinnya keburu mencair sama kuenya. Nanti aku gagal bikin surprisenya.”gerutunya sambil menyodorkan kue berbentuk bundar itu ke arahku.
Aku tersenyum sendiri dan pura-pura meniup. Seperti orang bodoh saja. Tapi, tetap aku lakukan anehnya. Konyol.
“Yeeeyy~ kejutanku berarti berhasil!”pekiknya bahagia saat lilin-lilin itu mati, lalu tidak lama kemudian ia terbatuk-batuk, yang aku yakinkan bukan karena asap dari lilin. “I’m fine at all! Ayo dipotong kuenya!”serunya sekali lagi, lalu mengambil sebuah pisau plastik dan mulai memotong kue bundar tersebut dan meletakkan diatas piring plastik.
 Ia memang paling sanggup untuk membuat hariku lebih baik lagi dari sebelumnya.


Entah mengapa hari ini ketika aku terbangun perasaanku mulai merasa tidak enak. Ketika aku menyalakan laptop dan menunggu hingga wajahnya muncul dilayar, aku menyeduh secangkir teh hangat karena diluar mulai rintik-rintik yang cukup deras.
Aku terhenyak saat melihatnya. “Halo, selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa sarapan ya.”ujarnya dengan lembut, namun terdengar lemah. Aku memandangnya yang memakai pakaian rumah sakit dengan khawatir. “Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Ini tidak akan lama kok. Dan jangan menyalahkan dirimu sendiri karena tidak bisa ada disini. Aku selalu merasa kau selalu disini. Karena, meskipun kau jauh, kau akan selalu terasa dekat bagiku. Karena kau selalu ada di hatiku. Tenang saja.”serunya sambil terkekeh dengan lemah.
Aku mengangguk kecil. “Apakah parah?”tanyaku penasaran.
Perempuan di hadapanku itu menggeleng, “Tidak terlalu parah kok.” Hening. aku menunggu ia melanjutkan, karena ia menatapku dengan kedua bola matanya yang bulat, dan dengan senyum lemah miliknya itu, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Kau ingat kan kalau aku suka sakura? Sakura itu lambang ketidakabadian. Ia tumbuh begitu lama, melalui berbagai proses yang cukup panjang untuk mekar. Tapi, hanya butuh waktu sebentar untuk mati. Hidup manusia juga seperti itu. Aku mohon, kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, sayang. Selama ini aku sudah berjuang. Tapi, waktu memiliki ceritanya sendiri untuk kita ternyata. Tapi, aku yakin ini cerita terbaik yang pernah aku miliki. Satu hal, aku akan selalu mencintaimu. Hari ini –“ tanpa menunggu lebih lama aku memberhentikannya lebih dulu.
Aku mengeluarkan sebuah kepingan disc dari dalam laptopku dan memasukkan ke dalam tempatnya dan menyisipkannya di rak kecil yang berisikan disc yang dikirim darinya untukku. Seperti itu lah caraku memelihara kenanganku. Seperti orang gila ya? Biarlah. Menjawab setiap kalimat seakan-akan berbicara dengannya memang terdengar konyol. Setiap orang memiliki cara mereka masing-masing untuk membuat kenangan itu tetap hidup, meskipun orang di dalam kenangan itu belum tentu masih ada. Kepingan disc terakhir adalah pesan terakhirnya untukku. Sudah hampir setahun aku menyimpan semua disc itu dan memutarnya berulang kali. Saat dikirim pun tidak langsung kesemuanya. Disc terakhir dikirim tepat setahun ia meninggal. Ia seperti memberikan sebuah puzzle untukku, dan disc terakhir itu sebagai pelengkapnya.
Kali ini aku kembali lagi menghadapnya, dengan membawa buket bunga yang lebih besar dari sebelumnya. “Selamat ulang tahun, Lily. Sudah hampir dua tahun dan aku masih belum bisa berhenti menonton ulang semua dvd itu. Satu hal, aku akan selalu mencintaimu juga. Ya, ini memang cerita terbaik yang pernah aku miliki. Aku akan datang lagi nanti. Sampai jumpa.”ujarku dan meletakkan buket bunga itu diatas batu nisannya. Sebelum pergi, aku membungkukkan tubuhku 90 derajat cukup lama, lalu melangkah pergi.
Dia tidak hidup di depan mata lagi dan berada sejauh tangan menggapai, tapi ia selalu hidup dalam pikiran yang kasatmata dan sudah berubah menjadi hal yang memang tidak akan pernah bisa digapai. Bagiku, ia akan selalu hidup.  

Fin.

Selasa, 03 Desember 2013

Tidak Terduga


Siapa yang senang jika harus menjadi yang kedua? Dan atau bahkan menjadi yang ketiga dan seterusnya. Tidak ada satu pun perempuan dan atau laki-laki yang senang jika selalu menjadi pilihan dari sekian pilihan. Laki-laki mungkin tidak akan terlalu memusingkan perihal menjadi pilihan atau tidaknya. Tapi, lain hal dengan perempuan yang akan memusingkan hal tersebut. Terkadang, otak dan mulut menolak untuk menjadi pilihan, namun hati terkadang berkehendak yang lain.
Awalnya aku memang tidak mau menjadi pilihan, jika selama aku bisa menjadi yang utama. Kau pasti mengerti maksudku dengan pilihan dan menjadi yang utama. Aku tidak pernah berpikir negatif perihal perempuan-perempuan yang menjadi pilihan kesekian. Tapi, aku juga tidak pernah setuju dengan hal tersebut. Karena, diluar lingkar hidupku aku tahu, banyak hal yang tidak terduga yang akan terjadi.
Sekarang, hal tidak terduga yang aku maksudkan, sanggup aku berikan contohnya. Ya, contohnya aku, yang menjadi pilihan kesekian dari yang utama. Aku sempat mendengar satu kalimat dari seorang laki-laki,”Lebih baik menjadi yang kedua tapi diutamakan, daripada menjadi yang utama tapi diduakan.” Sebenarnya, dua-duanya pun akan merasakan sakit yang sama. Mungkin yang utama namun diduakan yang lebih berpotensi lebih menyakitkan.
Tapi, perempuan mana yang tidak mau selalu menjadi yang utama tanpa harus perlu ada pilihan-pilihan lain dibelakangnya atau diduakan dan seterusnya? Perempuan mana yang tidak ingin diakui sebagai satu-satunya yang dicintai oleh laki-laki yang mencintainya? Perempuan mana yang tidak akan sakit hati jika tahu ternyata dibelakangnya masih ada pilihan-pilihan lain selain ia?
Jujur, tidak pernah terbayangkan olehku untuk berada diposisi seperti ini. Tidak pernah sekalipun. Namun, apa dikata jika alam memiliki kehendak sendiri?
Aku berusaha untuk tetap berada di posisi yang netral. Namun, terkadang aku sering kali kebingungan dengan perasaanku sendiri. Ya, aku tahu dia sudah bertuan. Sempat terpikirkan olehku bahwa aku datang terlambat sehingga melewatkan seorang yang sebenarnya berarti bagiku. Jika tidak terbangun pada kenyataan, mungkin aku akan merasa semua yang terjadi padaku ini begitu manis. Terlalu manis, sehingga ketika aku terbangun pada kenyataan, rasa pahit yang aku rasakan selanjutnya.
Bahagia. Setiap orang memiliki definisi mereka masing-masing perihal satu kata itu.
Namun, percaya padaku, kebahagiaan itu tidak bisa ditukar dengan apapun; tidak bisa dibeli dengan nilai mata uang apapun, meski memiliki nilai tukar yang tinggi. Setiap orang memiliki bahagia itu sendiri. Karena, bahagia setiap orang berbeda-beda. Karena, setiap orang berhak untuk bahagia.
Sering kali aku harus menahan rasa ngilu setiap kali tanpa sengaja aku menatap mereka yang tengah bersama. Sebelum aku mendapati mereka bersama, rasa tidak enak mulai menyerang perasaanku, dan tidak lama setelah itu aku mendapatkan jawaban dari rasa tidak enak yang tiba-tiba menyerang itu.
Biar begitu, otakku tetap menyadarkanku. Aku hanyalah temannya.
Aku tidak tahu akan sampai kapan aku berada diposisi ini. Rencana untuk mundur? Ada. Tapi, setiap kali aku mulai mengambil satu langkah mundur, dia datang dengan dua langkah maju.
“Jangan bengong. Siang-siang begini bengong, nanti dicolek setan loh.”candanya ketika aku tengah menunggu makan siang kami diantar.
“Kamu kan setannya? Kan barusan kamu nyolek aku.”balasku. Ia langsung berdecak sebal. Aku terkekeh pelan.
“Kamu kenapa?”tanyanya tiba-tiba dengan lembut. Aku menoleh ke arahnya yang tengah menatapku sambil tersenyum tipis dan balas bertanya,”Memang aku kenapa? Aku baik-baik saja.”
Ia mendengus geli mendengar jawabanku. “Ya kamu kayak bukan yang biasanya.” Aku mengerutkan keningku dengan bingung.
“Emang biasanya aku kayak gimana?”pancingku. Dia malah tertawa.
“Ya biasanya kamu tuh heboh. Ketawa-ketawa. Tapi, kok hari ini enggak. Ada apa? Cerita-ceritalah.”ujarnya. Aku terkekeh pelan.
“Terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja.” Untung saja, percakapan tersebut dihentikan oleh pesanan makan siang kami yang sudah sampai di depan mata. Seketik hening yang berkepanjangan menggantikan percakapan kami yang sebelumnya.
“Maaf, ya.” Tiba-tiba ia berujar seperti itu. Aku terdiam sejenak. Memang hari ini aku kebanyakan diam daripada tertawa, setelah semalam sebelumnya aku menemukan satu hal yang selama ini selalu aku hindari. Otakku terlalu sibuk berpikir sehingga aku lebih memilih diam, karena takut salah satu topik yang aku pikirkan tiba-tiba terucap olehku tanpa sadar.
Aku pura-pura bingung. “Kenapa minta maaf?”tanyaku bingung sambil mengunyah.
“Ya aku minta maaf aja. Tadi kan aku sempat telat dari jam janjian makan.”jawabnya. Aku tahu itu jawaban yang dibuat-buat.


Aku sendiri tidak tahu ini semua akan bertahan hingga kapan, apalagi dengan dia sendiri. Mungkin masih terlalu dini bagiku untuk memastikan bahwa ini rasa yang sudah keluar dari jalurnya. Namun, perihal perasaan aku tidak pernah meragukan perasaanku sendiri. Perjalanan kedepan masih panjang bagiku, sedangkan ia juga pasti sudah menghadapi hubungan yang serius. Tapi, bagiku untuk dihubungan yang nantinya akan aku jalani entah dengan siapapun itu, aku pun sudah harus serius.
Aku selalu berdoa dan berharap akan menemukan jalan yang tepat bagi kita.
Lalu, jalan itu ditunjukan padaku. Dengan kehadiranmu.
Kedatanganmu selalu penuh dengan keragu-raguan, hingga membuat perasaan ini pun terbagi menjadi dua dan aku menemukan persimpangan di ujung jalan tersebut. Tidak ada jalan tengah karena aku harus memilih satu diantara keduanya. Memilih untuk tetap tinggal atau pergi. Aku pun bergerak perlahan, mengikuti waktu yang bergerak kecepatan.
Akan sampai waktunya ketika aku harus memilih. Untuk tetap tinggal di masa lalu, atau melangkah maju dengan masa depanku. Tidak selamanya setiap orang dapat hidup dengan masa lalunya. Waktu saja bergerak maju, bukan mundur; bahkan menghitung pun selalu bergerak maju; umurmu bertambah, bukan berkurang. Tidak ada yang bisa hidup di masa lalu. Mau tidak mau, akan tetap maju.
Maka aku memilih untuk pergi dan memilih jalanku sendiri dengan berbelok ketika sampai di persimpangan. Tentunya setelah aku sudah selesai menata dan membersihkan ruangan yang sebelumnya masih berantakan; hati. Perlahan aku jalani perjalanan denganmu yang terkadang masih sering terombang-ambing; tidak tahu ujungnya akan berhenti dimana. Tapi, herannya aku masih meneruskannya saja. Lalu, lama kelamaan, perjalanan ini mulai disebut sebagai proses.
Jatuh dan bangunnya aku dalam proses ini sudah lebih dari cukup untuk aku rasakan.
Perbandingan antara jatuh dan bangunnya itu seimbang. Kadang ada saatnya aku merasa lelah dan ingin menyerah, namun sekali lagi aku teringat alasanku supaya tidak berhenti dan menyerah. Kamu. Untuk apa aku berusaha payah untuk melewati proses ini dari awal jika di pertengahan tiba-tiba aku menyerah? Konyol. Meski terkadang aku sering merasa melewati proses ini sendirian.
Aku sadar aku telah benar-benar melupakannya adalah ketika aku dibuat panik olehmu karena tidak adanya kabar darimu seharian penuh. Proses terberat yang pernah aku rasakan adalah bagian ketika kamu tidak menghiraukanku sama sekali; layaknya aku ini orang asing bagimu. Setidaknya saat proses ini aku sudah merasakan pahit-manisnya.
Pernah satu kali aku berkata, “Kamu tahu, yang aku inginkan adalah kamu bisa mengkomunikasikan masalahmu dan atau kesalahanku yang aku tidak tahu, denganku.” padamu yang saat itu hanya membalas pernyataanku dengan anggukan samar. “Aku juga ingin tahu tentang apa yang kamu rasakan.”ujarku sekali lagi. Saat itu aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, berusaha meredam emosiku. Karena, besok-besoknya masih sama saja.


Aku tahu, terkadang aku yang harus bersikap dewasa dan harus selalu siap untuk mengalah. Hal tersebut selalu aku anggap sebagai salah satu cara untuk belajar dewasa. Darimu aku belajar untuk melatih kesabaranku; darimu aku belajar untuk melatih egoku ketika tidak dihiraukan olehmu ketika sudah bertatap muka dengan layar game, juga.
Pernah sekali dia bertanya padaku, “Siapa yang bisa ngemong diantara kalian?”
Saat itu aku menjawab, “Ya karena kita sudah sama-sama dewasa, jadi kita sama-sama belajar untuk saling mengemong satu sama lain.” Dia hanya tersenyum. Karena aku yakin kita bisa sama-sama saling ngemong.
Sudah cukup lama proses ini berlangsung hingga aku tidak tahu akan sampai kapan, tapi aku tahu bahwa proses ini akan ada akhirnya.


Aku tengah duduk di samping jendela kereta yang akan membawaku kembali, yang aku tahu aku melakukan perjalanan ini sendirian. Ketika tatapanku termangu keluar jendela saat kereta ini mulai bergerak perlahan, aku mendapati bayangmu dijendela.
Benar saja, ketika aku menoleh, aku mendapatimu dibelakangku, tengah sibuk meletakkan barang-barang bawaanmu dibagasi diatas kepala, lalu menunduk kearahku sambil tersenyum ketika duduk disampingku. Senyumku lebarnya langsung dua kali lipat darimu. Perjalanan kali ini aku tidak akan sendirian; proses yang aku jalani selama ini pun tidak aku jalani sendirian, karena kamu berjalan dalam diam di dalam bayangku.
Memang kamu bukan satu dari setiap orang yang pernah lakukan beberapa hal termanis untuk pasangan mereka, tapi yang aku tahu dengan pasti bahwa aku akan mencintaimu dan menyayangimu hingga waktu yang tidak terdefinisikan. Tapi, mungkin, kamu pun begitu perihal aku.
Selamat menikmati perjalanan ini. Bersamaku.

Sabtu, 14 September 2013

Pergi dan Gelap


Akan ada saatnya ketika kau berada di bagian atas kehidupan, tapi akan ada pula saatnya kau berada di bagian bawah kehidupan. Ingat saja tentang pepatah lama yang sering berkata, hidup itu seperti bola yang berputar. Akan seperti itu. Tidak selamanya kau akan hidup dengan leha-leha, tapi tidak selamanya juga kau akan hidup susah. Tidak selamanya kau akan dihantui oleh masalah. Meski satu selesai, satu datang.
Ada yang hidup dengan normal, lalu tiba-tiba hidupnya berubah, ada. Entah karena apapun itu alasan yang membuatnya berubah. Dibalik setiap kejadian akan selalu ada maknanya. Walau hanya segelintir orang yang mengerti.
Aku tersenyum dengan dua mata yang memandang kejauhan. Aku bisa merasakan ramainya suara air yang berjatuhan di atas batu di depanku; udara sejuk yang dihasilkan menerpa kedua pipiku seakan-akan membelai dengan lembut. Udaranya yang sejuk perlahan-lahan mulai membuaiku yang diam-diam meresapi udara khasnya. Aku mengusap lengan atasku yang mulai terasa dingin, padahal hari baru saja beranjak sore.
Aku menoleh sedikit ke belakang melewati bahuku saat mendengar suara kaki, dan lalu tersenyum. “Kau tidak merasa dingin?”tanya Ibu sambil mengusap bahuku dengan lembut. Aku menggeleng pelan. “Hanya terasa sedikit, karena sudah menjelang sore, Bu.”jawabku.
“Terus, kau mau sampai kapan disini terus?”tanya Ibu seraya menyampirkan kain tebal ke bahuku, yang lalu aku ucapkan terima kasih sambil berbisik.
“Sebentar lagi saja, Ibu. Lagipula, aku mau ngapain di dalam kamar.”jawabku. Beliau terdiam.
Tidak berselang lama, aku mencium wangimu. Wangi entah sejak kapan melekat diingatanku. Wangi yang membuatku rindu.
Pelan-pelan tubuhku menegang.
“Maaf, Ibu mengizinkannya datang.”ucap beliau. Kali ini aku yang diam seribu bahasa. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, seakan-akan merajuk. Bukan, aku bukan merajuk. Hanya saja, aku belum siap dan mungkin tidak akan pernah siap.
“Apa kabar?”tanyamu. Aku hanya menjawab dengan diam. Mati-matian aku menahan kedua tanganku untuk tidak terangkat ke udara dan mengusap kedua pipimu dengan lembut. “Aku baik-baik saja.”katamu memberikan pernyataan.
Aku menghela nafas panjang, menangkap wangimu sebisaku untuk kusimpan. “Pulang lah. Aku baik-baik saja. Tapi, maaf, kau tidak perlu datang berkunjung lagi.” Hanya itu kalimatku yang keluar dari bibirku.
Kalimat itu berbeda dengan apa yang aku pikirkan untuk aku ucapkan.
Jika sudah berani jatuh cinta, berarti harus berani untuk sakit hati. Karena keduanya bersahabat karib.
Diam-diam memang hanya aku yang berjuang sendirian, selama ini.
Dirimu merengkuh kedua tanganku dengan hangat. “Pulang lah. Sudah beranjak sore. Perjalanan pulangmu tidak dekat.”ujarku sekali lagi dengan dinginnya. Tapi, kau tetap bergeming ditempat. Kedua tanganmu yang hangat masih merengkuh tanganku.
Kau diam, aku pun diam.
“Kenapa kau harus menghindar?”tanyamu dengan pelan. Aku menelengkan kepalaku ke samping. Berusaha menghindari tatapanmu, yang terasa menyentuh pipiku.
“Tidak, aku tidak menghindar. Aku pikir memang sudah cukup. Pulang. Nanti kau dicarinya. Aku tidak mau dia menemukanmu ada disini, denganku.”jawabku sambil berusaha melepaskan rengkuhan tanganmu, meski tidak rela.
Kau menahan gerakanku.
“Tidak apa-apa. Aku sudah memberitahunya.”
“Baiklah, kalau begitu kau tidak usah berlama-lama disini. kau sudah tahu kan aku baik-baik saja? Pulang lah.”elakku berkali-kali. aku berusaha untuk memberikan senyumku yang biasanya, yang aku sendiri tidak tahu apakah terlihat seperti sebuah senyum atau tidak.
Aku bisa mendengarmu menghela nafas dan menghembuskan dengan berat.
“Baiklah, aku pulang. Tapi, aku akan kembali. Jaga kesehatanmu.”ujarmu sambil mengusap lembut puncak kepalaku. Ketika rengkuhan tanganmu itu meninggalkan tanganku, terasa seperti ada yang hilang saat itu. Tapi, aku buru-buru menghapus rasa kehilangan itu. Seharusnya, aku tidak boleh terlalu jatuh terpuruk karena rasa ini yang semakin hari semakin parah.
“Kenapa diusir pulang?”tegur Ibuku. Aku hanya menanggapi dengan diam.
“Ia khawatir padamu. Bukankah ia sudah pernah bilang, kalau dia khawatir, ia akan langsung datang? Kau sendiri yang bilang begitu pada Ibu –“
“Dulu, Bu. Itu dulu. Bukan kemarin ataupun sekarang.”selaku dengan pelan.
“Ibu tau. Tapi, kemarin dan atau sekarang pun, Ibu juga tau kalau kau masih mencintainya. Kenapa harus membohongi perasaan sendiri?”tutur beliau dengan lembut. Aku dibuatnya terdiam. Aku menghembuskan nafas dengan berat.
“Bu, terkadang, ada yang harus direlakan, agar tidak ada yang terlalu banyak yang sakit. Jadi, aku putuskan untuk mulai belajar menjadi orang yang bisa merelakan. Meski itu tidak mudah.”jawabku dengan lembut setelahnya.
“Kalau sudah perihal perasaan, jangan pernah berbohong, Sayang.”
“Tapi, dengan keadaan yang seperti ini, aku hanya bisa memilih untuk duduk dan tersenyum jika ia memang sudah  memilih untuk dengannya. Dengan dia pula yang terasa tidak ingin diperjuangkan, aku bisa apa?”balasku.
“Jika ternyata ia sendiri tidak bahagia dengan yang sekarang?” Pertanyaan Ibu begitu menyengat ulu hati.
“Maka, diluar sana ternyata ada yang sanggup membuatnya bahagia. Tapi, aku tidak termasuk di dalamnya.”
Ibu masih saja berniat untuk berdebat denganku. “Kenapa?”
Aku terkekeh miris mendengar pertanyaan Ibu yang begitu ingin tahu. “Karena, ya aku memang sudah tidak bisa lagi memberikan apa yang dia cari, Bu.”jawabku.
“Kalau ternyata –“
“Bu, aku mau masuk. Udaranya semakin dingin.”potongku dengan sangat lembut. Jika tidak aku potong, beliau akan semakin gencar mendebat setiap jawabanku perihal satu topik ini. sudah berkali-kali aku berkata pada beliau, aku sudah memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya, berkali-kali pula pernyataanku didebat dan dibantah olehnya. Aku tahu, beliau bermaksud baik. Tapi, untuk satu ini, sudah tidak ada yang bisa mengubah keputusanku lagi.
Beliau bangkit berdiri dari posisi duduknya dan membantuku berdiri. Kami berjalan bersisian. Kenanganku tentangnya berputar kembali ketika aku berjalan bersisian seperti ini. Entah sudah lewat berapa lama, aku tidak menghitungnya, tapi selama ini dirinya selalu hidup dalam kenanganku yang tidak bisa aku sentuh dengan jemariku lagi, karena selamanya dirinya hanya hidup di dalam sana. Di dalam kenangan yang aku dan dia ciptakan bersama. Saat-saat ketika ia menggenggam tanganku dengan hangat, dan menjagaku agar tidak terjatuh tiba-tiba; lalu ia akan mengambil alih jalanku dengan berjalan lebih dahulu di depanku, masih dengan tangan yang menggenggam tanganku. Lucunya, aku merasa tidak ingin melepaskannya barang sebentar saja. Tapi, entahlah dengannya.
Diam-diam, aku belajar untuk tidak lagi menatap yang lalu dan mulai melepaskan apa yang aku genggam saat ini.
Karena, sudah tidak ada lagi kesempatan untukku untuk membuatmu bahagia. Yang selama ini kau cari memang hanya ada pada perempuanmu saat ini. Aku belajar untuk menerima kenyataan yang menghampiriku, meski aku sudah sering belajar dari kenyataan-kenyataan yang sebelumnya.
“Nduk, tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa. Entah mengapa, Ibu optimis, kau punya kesempatan itu. Tapi, Ibu tidak bermaksud memberikanmu harapan, yang jika tidak terbukti nantinya, malah menjadi harapan semu. Untuk sekarang, istirahat saja dulu. Tidak usah dipikirkan perihal hari ini dan Ibu minta maaf sudah membawanya kesini. Kalau ada perlu apa-apa, Ibu ada di dekatmu.”ucap Ibu sebelum akhirnya keluar dari kamarku.
Bagiku, berharap boleh saja. Tapi, jika sudah perihal perasaan, semakin berharap, nantinya akan semakin sakit jika ternyata hasil akhirnya tidak sebanding sesuai dengan harapan sendiri. Aku menatap langit-langit kamar yang terasa gelap. Mengorek kembali kenangan lamaku denganmu yang entah sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, yang masih sering membuatku tersenyum sendiri jika mengingatnya. Tapi, jika sampai pada saat-saat aku mengingatmu dengannya....lebih baik aku tidak pernah mengenang lagi.
Kenangan itu ada untuk dikenang, memang.
Tapi, tidak ada yang bisa memilih kenangan itu sendiri. Mau mengenang yang manis atau yang pahit, akn terprogram dengan sendirinya. Aku pun begitu.


“Jangan keluar dulu. Kan belum selesai.”cegahku yang berdiri di depan pintu sambil menyilangkan salah satu kakiku, bersandar ke tembok di sampingku.
“Aku hanya mau buang sampah.”ujar laki-laki itu dengan tak acuh.
“Ya sudah, tunggu sebentar lagi apa susahnya?”jawabku dengan bercanda.
“Kalau begitu, aku dorong ya?”ujar laki-laki itu.
Belum sempat aku menarik kakiku atau pun protes, aku sudah merasakan tubuhku melayang diudara dan mendarat di lantai ubin dengan bunyi yang berdebum cukup keras. Sungguh, jika saat aku berdiri aku tidak merasakan sakit yang menyengat di bagian tulang ekorku, aku akan tertawa untuk menutupi maluku. Tapi, sayangnya yang keluar malah air bening dari sudut-sudut mataku. Rasa sakitnya menyengat hingga diubun-ubun dan menjalar turun ke punggung.
Tiba-tiba aku terjaga dari tidurku karena mimpi yang mampir tadi.
Aku ingat kata orang, jika seseorang yang jatuh dan atau berbenturan dengan sesuatu, itu bisa dijadikan pertanda buruk.
Dan, ya. aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Tapi, ternyata memang terjadi.
Hal yang sama sekali tidak aku bayangkan untuk terjadi.
Aku diserang perasaan terkejut dan masih tidak percaya. Ibu berusaha untuk tidak panik, supaya aku pun tidak serta merta panik karenanya. Aku menarik dan menghembuskan nafasku dengan sangat perlahan, seperti layaknya orang yang baru belajar bernafas, berusaha menetralkan perasaan ini supaya kembali seperti semula. Aku tersenyum tipis, hanya disudut bibirku. Senyum miris.

Entah di hari keberapa kita tidak lagi bertemu, kau berusaha untuk menghubungiku mulai berkali-kali yang tidak aku jawab sama sekali. Ibu bahkan sampai bosan menyuruhku untuk menjawab yang langsung aku tolak mentah-mentah. Aku bukannya balas dendam untuk beberapa waktu yang lalu, saat kau tiba-tiba seperti menghilang ditelan bumi setelah insiden aku jatuh, bukan. Aku hanya tidak mau kau tahu, hanya itu. Toh sebenarnya kau pun tidak akan terlalu memperdulikan aku yang notabene hanya kau anggap sebagai seorang adik angkat, ya itu hanya asumsiku sendiri dari apa yang aku perhatikan dan apa yang (berusaha) aku tanamkan dalam mindset aku sendiri.
Aku duduk diam di dalam kamar merah. Tangan-tanganku menyusuri foto-fotomu yang masih aku rendam di dalam air, yang aku cetak belum lama sebelum aku jatuh dan aku memang masih hafal urutan-urutan foto yang aku cetak sendiri. Sebenarnya, aku sudah kehilanganmu bahkan jauh sebelum aku ketahui. Bodohnya aku, aku malah masih bertahan seperti ini. Sudah jelas, dirinya yang memang lebih pantas untukmu.
Pikiranku melayang-layang entah ke kenangan yang mana, ketika diriku merasa dipeluk dengan hangat olehmu dari belakang. “Halo.”sapamu dengan hangat. Tubuhku menegang dengan sangat sempurna, aku merasa lama-lama aku akan seperti patung jika seperti ini terus. “Untuk apa kembali?”tanyaku dengan ketus.
“Untuk bertemu denganmu. Harus ada alasan yang lengkap, ya?”tanyamu dengan polos.
Aku kembali diam.
“Aku bantu gantung, ya, foto-foto yang masih basah ini.”ujarmu sambil mengambil alih foto yang masih basah dari tanganku.
“Tidak usah. Nanti merepotkanmu. Aku bisa sendiri.”ujarku sambil menolak tawaranmu dengan lembut dan berdiri dari tempat dudukku sambil menyentuh gantungan yang ada beberapa foto yang masih dijepit. Aku tengah mencari-cari jepitan dalam kegelapan untuk menjepit foto yang tengah aku pegang, ketika tanganmu mengangsurkan dua buah jepitan ke dalam tanganku.
“Terima kasih.”ucapku dengan pelan. Aku ingat foto yang saat ini aku pegang, adalah hanya fotomu sendiri yang aku ambil diam-diam karena kau tidak suka difoto oleh orang lain. Dan kau tersenyum, meski tidak sengaja. Entah kapan aku bisa melihatmu tersenyum seperti saat itu lagi. Atau mungkin, aku tidak akan pernah melihatmu seperti itu lagi.
“Aku temani kau keluar.”ujarmu sambil menggandeng tanganku, keluar dari kamar merah.
“Ibu dimana?”tanyaku dengan datar. Harusnya, Ibu ada disini.
“Ibu sedang pergi keluar. Beliau menitipkanmu padaku.”ujarmu dengan pelan dan menggenggam tanganku dengan hangat.
Bolehkah aku merindukanmu?
Meski aku diperbolehkan, apakah aku boleh mengucapkannya? Jika aku mengucapkannya, akankah masih seperti yang kemarin-kemarin, ketika kau yang menghampiriku sambil tersenyum lebar? Apakah ada jaminannya, kau tidak akan berubah dan tidak menjaga jarak dariku?
Jadi, lebih baik aku ucapkan sambil berbisik pada udara yang sama sekali tidak akan kau dengar, kan?
“Cukup temani aku ke kamar saja, dan kau sudah boleh pulang. Yang ada aku tambah merepotkanmu.”kataku.
“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Lagi pula, aku dipesankan untuk makan siang denganmu. Ibu tadi pergi setelah selesai masak. Beliau sudah menyiapkan makan siang.”jawabmu dengan riang. Berbanding jauh dengan nadaku yang selalu ketus. Maaf, aku tidak bermaksud, jika kau ingin tahu.
Aku selalu penasaran, apakah kau pernah sekali dan atau beberapa kali benar-benar khawatir tentangku layaknya seorang laki-laki yang mengkhawatirkan perempuan yang ia sayangi, bukan dalam artian kakak-adik?
Aku ingin tahu, seperti apa perasaanmu saat kau tahu aku jatuh saat itu.
Jika, aku diperbolehkan jujur, aku merindukan segalanya tentangmu. Apapun itu. tanpa terkecuali. Pernahkah kau seperti itu padaku?
“Kau mau makan –“
“Aku bisa makan sendiri.”potongku dengan cepat sambil menyentuh piringku yang sudah terisi oleh nasi dan beberapa lauk-pauk. Yang terdengar diatas meja hanya detingan sepasang sendok dan garpu. Aku memutuskan untuk makan dengan dua tanganku, terasa lebih nikmat, seperti yang aku lakukan biasanya jika makan dirumah, hanya dengan tangan.
Tidak ada yang membuka suara, hingga akhirnya kau memutuskan untuk memecah keheningan.
“Kau masih mencintai orang yang dulu kau sebut-sebut itu?”tanyamu. Aku tersedak oleh nasi yang masuknya salah jalur. Kau buru-buru membantuku minum hingga aku bisa bernafas lega. “Kalau merasa tidak perlu dijawab, tidak apa-apa.”katamu selanjutnya.
Aku berdeham, berusaha menetralkan masuknya udara. “Masih.”jawabku.
“Masih mau berjuang?”
“Entahlah.”jawabku sepatah kata.
“Mengapa?”tanyamu lebih lanjut.
Aku diam sebentar. “Aku rasa, dia sudah bahagia. Jadi, aku hanya diam-diam saja bertahannya.”jelasku, singkat dan padat. Kau pun terdiam.
“Kalau dia masih ingin kau berjuang?”
“Akan aku pikirkan dua kali.”
“Kenapa?”
“Karena,”kalimatku menggantung diujung lidah. “Kau ini ingin tahu sekali.”desisku sambil berusaha mengelak. Aku menggigit bibir dalamku. Dan aku bisa mendengarmu berdecak sebal karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dariku.
“Selesai ini, kau pulang saja. Mungkin sebentar lagi Ibu sampai dirumah.”
“Kau kenapa tidak pernah menghubungiku lagi?” Pertanyaanmu benar-benar keluar dari topik.
“Karena, ya aku merasa, sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Iya, kan? Toh kau ada wanitamu.”ujarku lirih, sebenarnya jawabanku melenceng dari pertanyaanmu, diam-diam aku menggigit bibirku yang terlalu cepat menjawab dan malah memberikan jawaban yang seharusnya tidak aku berikan.
Hening.
Diam-diam aku menunggumu memecah keheningan untuk sekali lagi, sambil menghabiskan makan siangku perlahan-lahan.
Hari itu, kau pergi dalam diam. Meski kau sempat berbisik ketika mengucapkan selamat tinggal padaku yang sebenarnya masih terjaga dari tidurku.
Sesungguhnya, aku tidak ada niatan untuk merusak atau membuat kebahagianmu pecah. Tapi, kau sendiri tidak tahu perihal hidupmu kan? Aku pun begitu. Aku hanya mengikuti arus yang aku ikuti, kemana tujuannya dan kemana ia bermuara. Maafkan aku, karena ternyata aku bermuara padamu yang seharusnya sudah tidak bisa lagi.


“Besok kita ke dokter, ya. Ibu punya kabar baik.”ujar Ibu pada suatu waktu ketika aku tengah melepaskan foto-foto yang aku cetak di kamar merah. Gerakanku masih berlanjut, tapi pikiranku berputar keras mengolah informasi Ibu. Ada apa lagi?
“Ada apa lagi, Bu?”ujarku dengan lirih.
“Sudah, nanti saja kau tahu kabar baiknya. Dan, Ibu rasa, suatu waktu kau harus mengucapkan terima kasih.”ujar Ibu penuh kemisteriusan. Keningku berkerut semakin heran mendengar kalimat terakhir beliau. Sepertinya ada yang tidak aku paham disini.
Aku pun hanya menunggu-nunggu hari ketika akhirnya Ibu mengajakku untuk pergi ke dokter spesialisku. Aku hanya menunggu diluar, sejujurnya aku malas untuk mendengar ocehan-ocehan dokter tersebut, jadi aku membujuk Ibu untuk tetap menunggu diluar saja.
Telingaku mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup dengan pelan-pelan.
“Nduk, kau mendapatkan donor.”ujar Ibu. Aku mematung di tempat dudukku.
Aku bingung, haruskah aku melonjak kegirangan? Atau haruskah aku biasa-biasa saja? Aku milih yang paling diplomatis, berusaha tenang.
Akhirnya yang terucap adalah, “Tidak usah, Bu. Begini saja yang lebih baik.”tolakku dengan halus. Mungkin, Ibu sangat terkejut mendengar jawabanku yang diluar perkiraannya.
“Nduk, Ibu kan bermaksud baik.”ujar Ibu memohon.
“Aku tahu, Bu. Aku tahu, Ibu bermaksud baik. Tapi, aku butuh untuk berpikir.”jawabku, setengah membujuk.
“Untuk apa berpikir ulang jika ternyata kau sudah mendapatkan donor?”
“Bu, tidak semudah itu. Aku tahu dia ikut campur tangan, kan, Bu?”tanyaku. Ibu tidak bisa mengelak lagi.
“Di bermaksud –“
“Iya, aku tahu, Ibu dan dia bermaksud baik. Tapi, biarkan aku berpikir ulang perihal ini. Aku masih harus menyiapkan mentalku, Bu,” Aku menghela nafas dengan lembut dan melanjutkan, “Ayo, pulang. Nanti kita pulangnya semakin larut.”ajakku. Ibu menyelipkan tangannya dengan lembut ke lenganku dan berjalan beriringan denganku.


Suatu saat, kau akan mengerti, disaat sudah tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan, yang tersisa hanyalah merelakan. Memang terasa rumit diawalnya, tapi aku bahkan kau pun tidak bisa memaksakan kehendak jika memang ternyata tidak bisa dituruti oleh alam. Itulah mengapa aku menyebut yang tersisa hanyalah merelakan, jika ternyata jalannya tidak bisa berdampingan. Lebih baik ada satu yang mengalah untuk menyelamatkan yang lainnya. Bagikut, itu lebih baik.
Satu hal, bahagia itu tidak bisa dibeli dengan apapun; tidak bisa ditukar dengan apapun meski itu teramat sangat bernilai. Bahagia itu tidak bisa kau cari dengan begitu mudahnya dari toko ke toko. Tidak semudah yang kau bayangkan untuk benar-benar bahagia, Sayangku. Rasa itu memang terungkap dalam satu kata, tapi jika memang tidak dimaknai, itu hanya akan menjadi seonggok kata yang biasa saja. Jadi, jika kau memang sudah menemukan bahagiamu, aku harap, kau sanggup untuk menjaganya. Karena, aku sudah menemukan bahagiaku, maka aku mencoba sebisaku untuk tetap menjaganya.
Aku tidak pernah memintamu untuk datang seperti ini.
Meski jujur, aku pernah berharap kau seperti saat ini.
Pernah terbayangkan olehku untuk menghabiskan hariku hanya denganmu dari aku membuka mata hingga aku menutup mata. Tapi, sekarang hanyalah seonggok bayangan yang aku pendam sendiri yang aku selipkan di kenangan yang aku tanam dalam-dalam agar tidak terbuka suatu waktu secara tiba-tiba.
Menjelang mendekati hari dimana kau merayakan tanggal yang kau tunggu di setiap tahunnya, aku mempersiapkan hadiah untuk yang pertama dan yang terakhir. Aku mencoba sebisa dan seamatiranku untuk membuatkan satu slide pendek yang memuat tentangmu, tentang aku, tentang kita, dan tentang kalian. Tentang kau dan dia.
Aku menuangkan kembali seluruh kenangan manis dan pahit yang aku simpan dengan baik entah di sebelah mananya otakku ini, ke dalam slide pendek yang sangat teramat berantakan tersebut. Awalnya aku ragu untuk melanjutkannya. Hingga sempat tersendat-sendat. Tapi, entah dorongan darimana, pada akhirnya proyek kecil-kecilanku itu berhasil selesai jauh dari deadline.


Kau membuka bungkusan berbentuk pipih tersebut yang ternyata sebuah piringan compact disk yang sepi akan tulisan. Kau mengerutkan keningmu, saking herannya. Tanpa nama pengirim, hanya berbungkuskan kertas kado dengan dibagian depannya bertuliskan nama lengkapmu.
Kau menyisipkan piringan compact disk tersebut ke dalam laptopmu dan menunggu dengan sabar dan juga penuh keingintahuan. Tidak lama berselang dari masa menunggumu, kau menahan nafas, karena kaget begitu melihat wajahku muncul, dan hampir memenuhi layar dengan kepala yang dimiringkan ke kanan sambil tersenyum lebar yang menampilkan deretan gigi-gigiku, itu potongan gambar yang sudah cukup lama sekali. Kau pun berdecak sebal karena merasa berhasil dikerjai olehku yang bungkus kadonya tanpa nama pengirim. Sesungguhnya, aku sendiri merasa konyol ketika memasukkannya sebagai salah satu pembuka dari slide pendek itu.
Yang tadinya kau menahan nafas, berganti menjadi senyum lebar, tapi seperti menahan tawa. Setiap menitnya potongan-potongan gambar tersebut silih berganti. Entah itu diriku; entah itu dirimu yang berkali-kali mengelak untuk difoto atau direkam; entah itu tentang dirimu yang bersamanya; entah itu tentang kegilaan kita yang dulu. Ya, dulu. Ketika mengerjakan bagian ini, terselip satu pertanyaan di dalam benakku, apakah kita bisa mengulanginya lagi? Tapi, kau tidak perlu tahu perihal itu.
Asal kau tahu, merindukanmu itu mulai terasa sangat berat ketika sampai pada fase aku-tidak-bisa-memberitahumu. Entah aku mendapat penopang darimana, aku perlahan mulai melewati fase tersebut meski dengan rasa miris yang cukup terasa.
Kau tersenyum ketika sampai pada bagian aku yang memotretmu diam-diam dan atau merekammu saat itu. Aku tidak perlu menyebutkan tempat-tempat yang menjadi latar belakang slide pendekku ini, kan? Jikalau, kau memang sudah tidak mengingatnya lagi, itu tidak mengapa. Karena, aku tahu dan bisa aku memaklumkan kalau otak manusia – termasuk aku dan kau – memiliki kapasitas yang sedikit perihal menyimpan kenangan yang jika baginya tidak terlalu penting.
“Kau ini susah sekali untuk diajak foto. Punya satu foto denganmu itu terasa seperti akan meminta foto dengan artis Hollywood yang gayanya selangit.”gerutuku dengan gusar.
Kau tertawa. “Ya karena aku tidak suka difoto.”jawabmu dengan santai.
“Tapi, kau itu suka foto orang lain.”jawabku masih dengan kegusaran dalam intensitas yang cukup tinggi.
Sekali lagi, kau tertawa dulu baru menjawab pernyataanku, “Itu kan hobbyku.” Jawabanmu membuatku sukses memberengut pada detik berikutnya, karena jawaban itu sudah skak matt bagiku. Sudah tidak bisa dibantah lagi.
Kau tersenyum saat slide tersebut sampai pada bagian tersebut.
Dan kau larut dalam potongan-potongan gambar yang – maafkan aku, ya – termasuk cukup berantakan tersebut.
Aku menutup rangkaian slide pendek tersebut dengan ucapan selamat ulang tahun.


Aku bukannya tidak mau menerima bantuanmu, tapi aku berusaha untuk tidak lagi membuatmu terlalu memikirkanku. Perihal wanitamu saja terkadang sudah cukup membuatmu kepikiran, jadi aku juga tidak mau menambah beban pikiranmu lagi. Padahal aku sendiri bukan saudara atau keluargamu, aku malah semakin tidak ingin menambah beban pikiranmu.
 Saat kau sudah selesai dengan slide pendek pemberianku tersebut, aku sudah memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah duapatah kata untuk sekadar menjelaskan perasaan ini. Cukup aku saja dan Ibu yang tahu. Maka, kau pun tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan sepatah duapatah kata pula. Lalu, jika ternyata kau menyambangi rumahku, yang kau temui hanyalah keheningan yang entah kapan akan berubah menjadi keramaian lagi. Ya, pada akhirnya aku berhasil membujuk Ibu untuk pindah. Pindah kemana pun yang tidak bisa kau temui kapan pun itu. Entah keluar kota, entah keluar negeri.

Entah besok, lusa, dan seterusnya dengan siapa pun yang bersamamu itu, aku tahu kau akan selalu bahagia dengan seorang yang beruntung tersebut. Aku berikan sebagian kecil dari kenanganku tentang kita, untuk kau simpan dan kau kenang suatu saat jika kau berkenan. Tetaplah bahagia, meski orang yang bersamamu silih berganti nantinya, tapi pastikan dialah bahagiamu. Karena, bahagia itu mahal dan terasa sangat mewah untuk dimiliki, jadi jangan sia-siakan orang (-orang) yang sudah membuatmu bahagia. Konyol, aku malah berbicara perihal bahagia.
Aku pamit.
Note: Walau bahagiaku ternyata tidak abadi, tapi terima kasih karenamu aku sudah merasakan yang namanya bahagia dan tidak ada penyesalan sekalipun dariku.
Kau menyimpan dengan apik secarik kertas yang ada tulisan tanganku tersebut diantara kenangan kita dan juga bersama dengan piringan pipih yang aku hadiahkan padamu.
Pada akhirnya, secara perlahan, kau mulai melafalkan selamat tinggal padaku dalam diam dan melanjutkan kebahagianmu dengannya dan denganku sebagai seorang yang pernah singgah dalam waktu yang cukup singkat di ruang dan waktumu. Mungkin, hatimu juga kah? Jawabannya hanya kau yang tahu.

Fin.