A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Minggu, 21 April 2013

Keluar?

bukankah keluar dari lingkaran hidupmu itu lebih baik?
yang terpenting, baik untukmu.
tapi tubuh ini seperti menolaknya.
rasanya menyakitkan disaat kita mencoba, namun ada yang menahannya.

sungguh, aku hanya ingin melihatmu tersenyum kembali.
meski sejujurnya aku ingin merasakan hangatmu lagi.
namun, hangatmu sudah dimiliki orang.
aku terlambat?
atau....tidak semestinya aku datang?
atau....waktuku salah?

tidak adakah ruang untukku duduk barang sebentar disana?
diruangan yang acap kali kita sebut-sebut dengan hati.
namun tidak ada palang bertuliskan namanya.
terkadang, ia terlalu penuh untuk disesaki oleh lebih dari satu.
namun, di lain waktu ia terlalu kosong untuk tidak dihuni.

jadi, aku memilih untuk mencoba keluar.
namun, ternyata aku menjadi sebagain dari bayangmu.
kamu seperti layangan.
jika aku lengah, kamu bisa pergi tanpa bisa ku beri salam perpisahan.
namun, jika benang itu terlalu kuat tergenggam, akan menciptakan perih yang berkembang menjadi luka.
maka hanya ku genggam seperti menggenggam pasir.

~ f i n ~

Kamis, 18 April 2013

(Tidak) Tersentuh.

kamu tahu awan bukan?
ya, yang selalu kamu perhatikan.
ia tidak bisa kamu sentuh bukan?
ya, itu kamu.
aku tidak bisa menyentuhmu.

sama dengan udara.
kamu terasa namun tidak bisa kumiliki. sendiri.
sama dengan perasaan ini.
terasa, namun tidak terungkap.

dinginmu perlahan-lahan mulai menekan habis hangatmu yang dahulu sempat kamu titipkan untuk kujaga.
mungkin, kamu memang sudah lupa.
namun aku masih ingat.
hal terkecilmu aku pun ingat.
perlukah ku buatkan catatannya?
seperti membuka halaman tiap halaman lembar kenanganmu; kita.

ah lembar-lembar itu tidak akan pernah jauh dari jangkauan tanganku.
karena aku selalu memiliki waktu untuk membuka-bukanya kembali.
seperti membaca novel berulang kali tanpa hadirnya bosan dengan camilan kekesalan karena homogen.


~  f i n ~

Tidak Sama.

berapa kalipun aku menatap ulang,
tidak ada yang berubah.
tidak ada yang sama lagi, sayang.

sayangnya, aku belum bisa bangun dari tidur panjangku
yang berisi tentangmu.

seharusnya aku sudah harus bangun.
karena, tidak akan ada orang yang suka berlama-lama tinggal dalam kepura-puraan.
Meski aku harus menahan luka yang mulai menganga ini agar tidak semakin lebar sobekannya,

Maaf sudah memaksamu untuk memakai topeng yang tidak kamu sukai.
Mungkin aku memang egois;
Aku begitu senang denganmu ada disini.
Di sebelah lenganku dengan hangatmu yang berputar-putar di atmosferku.
Padahal kamu tengah menahan mati-matian topeng itu agar tetap terpakai dengan pas.
Bahkan, aku bukan orang egois lagi.
Orang yang jahat.

Mungkin dengan aku berdiri sejauh mungkin,
itu bisa menjadi salah satu permintaan maafku.
Mungkin dengan itu juga tidak terlalu berarti.

Hari ini tidak akan sama dengan esok, lusa dan selanjutnya.
Rasamu tidak akan sama lagi seperti kemarin, kemarin lusa, dan selanjutnya.
Masih pantas aku ucapkan terima kasih?
Terima kasih karena sudah mengisi hari-hariku?

Hanya Ingin.

Aku tidak pernah membiarkan perasaan ini memiliki keinginan yang terlalu tinggi.
Aku tidak pernah memanjakannya.
Karena, jika sudah terbiasa dan tiba-tiba suatu saat keadaan berbalik, rasanya akan terlalu menyakitkan.
Sehingga, aku hanya memiliki harapan yang bagiku, tidak muluk.
Aku hanya ingin, dinding antara kita kamu hapus keberadaannya.
Sebagai gantinya, tanamlah tanaman-tanaman yang indah yang berwarna warni.
Bukankah itu lebih indah?

Kita memang kembali seperti dulu.
Tapi, apa kamu tidak merasa jika ada yang tertinggal?
Pun ada yang berubah pula.
Kembalilah seperti saat dulu kita berbagi kata dengan mudahnya.
Bersentuhan dengan mudahnya.
Hanya itu.
Tanpa ada embel-embel.
Bagiku, itu sudah lebih dari kata: cukup.

Perasaan.
Ya, yang kamu takutkan adalah ia yang berwujud semu namun memiliki berjuta rasa itu.
Biarlah aku sendiri yang mengurusnya; dari berantakan hingga menjadi apik kembali.
Meski membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Kamu tidak merasa rindu ini, bukan?
Karena kehilangan itu, rindu itu mulai menyapaku.
Lalu, tanpa mengetuk dan mengucap kata permisi, ia sudah duduk dengan tenang di dalam sana.

Meski kadang, menunggu adalah hal yang sia-sia dan memiliki harapan dari kemungkinan yang sedikit,
namun aku masih bersyukur ada harapan dari kemungkinan sedikit itu.
Setidaknya, disana masih ada kemungkinan. Meski, sedikit.

Kembalilah?

#afterfinalexams

Ini yang ujiannya seruangan sama gue :]


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~   
Kelar ujian, buru-buru lepasin foto ujian dari tempelan trus foto bareng :] 







~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ini piramida foto ujian kita-kita ♥ 
Berasa kayak lagi cheers tapi ga ada puncaknya ngahahah 


SAMPAI BERTEMU KEMBALI KALIAN SEMUA!
AUFWIEDERSEHEN



note: aufwiedersehen = sampai jumpa.

Rabu, 17 April 2013

Tidak Mudah.

untuk melewati badai pun, terkadang segala cara terasa tidak mudah bukan?
untuk melewati semua ini sendirian pun, terasa tidak mudah, sayang.
di tengah jalan, aku bisa bertemu dengan ombak yang membawaku kembali.
kembali mundur ke masa lalu.
kembali mengenangnya, kembali merindu mulai mendera.
perjuangan untuk kembali ke atas pun menjadi hal yang tidak mudah.
mungkin lama kelamaan aku bisa terseret arus hingga ke semenanjung.
semenanjung kerinduan.

untuk kembali, kamu seperti membutuhkan usaha besar seperti kamu harus menelan obat pahit
yang tidak biasa kamu minum.
disaat segalanya tidak mudah, kerinduan itu mulai menyebar dan mulai terasa pahit untuk dikonsumsi.
tapi, untuk sembuh, bukannya setiap luka harus diberikan obat?
obat tidak ada yang manis. yang manis itu kenangan indah.
tapi bila salah obat akan semakin menyebar bukan?
jangan pernah bermain-main.
jangan pernah bermain-main dengan yang namanya perasaan.
dia masih dan akan selalu ada dilingkaran hidup kita.
kita tahu siapa dia.
dia yang berwujud semu namun terasa.
antara luka dan karma.
antara luka dan rindu.

Berat.

pernah menjadi bagian mencintai namun tidak dicintai?
seperti kamu meminta gula, namun kamu malah diberi garam.
namun, jika terjadi terus menerus, lama kelamaan itu akan menjadi seperti ajeg sosial.
ya, seperti kamu sudah terbiasa makan nasi-garam-kecap-kerupuk, jika ada.
kerupuk itu yang membuat gurih.
kenangan tentangmu yang memberikan rasa gurih di hari-hari yang aku lewati.
garam yang memberikan rasa asin.
mengenang kenangan itu yang terasa terlalu asin untuk dirasa, namun tetap terasa, bukan?
bahkan jika bersentuhan dengan luka, akan menimbulkan rasa perih.
kecap yang memberikan rasa. entah manis entah asin.
tergantung pada yang memberinya.
keseluruhannya jika digabungkan memberikan rasa seperti nano-nano.

terlalu berat memang untuk dilupakan.
namun, terlalu perih untuk dikenang.
tapi, nyata di lapangannya aku masih memilih untuk mengenang.
terlalu bodoh bukan?
bahkan hari pun tidak bisa berbohong jika akan ada waktunya hujan turun tiba-tiba.