A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Rabu, 17 April 2013

Tidak Mudah.

untuk melewati badai pun, terkadang segala cara terasa tidak mudah bukan?
untuk melewati semua ini sendirian pun, terasa tidak mudah, sayang.
di tengah jalan, aku bisa bertemu dengan ombak yang membawaku kembali.
kembali mundur ke masa lalu.
kembali mengenangnya, kembali merindu mulai mendera.
perjuangan untuk kembali ke atas pun menjadi hal yang tidak mudah.
mungkin lama kelamaan aku bisa terseret arus hingga ke semenanjung.
semenanjung kerinduan.

untuk kembali, kamu seperti membutuhkan usaha besar seperti kamu harus menelan obat pahit
yang tidak biasa kamu minum.
disaat segalanya tidak mudah, kerinduan itu mulai menyebar dan mulai terasa pahit untuk dikonsumsi.
tapi, untuk sembuh, bukannya setiap luka harus diberikan obat?
obat tidak ada yang manis. yang manis itu kenangan indah.
tapi bila salah obat akan semakin menyebar bukan?
jangan pernah bermain-main.
jangan pernah bermain-main dengan yang namanya perasaan.
dia masih dan akan selalu ada dilingkaran hidup kita.
kita tahu siapa dia.
dia yang berwujud semu namun terasa.
antara luka dan karma.
antara luka dan rindu.

Berat.

pernah menjadi bagian mencintai namun tidak dicintai?
seperti kamu meminta gula, namun kamu malah diberi garam.
namun, jika terjadi terus menerus, lama kelamaan itu akan menjadi seperti ajeg sosial.
ya, seperti kamu sudah terbiasa makan nasi-garam-kecap-kerupuk, jika ada.
kerupuk itu yang membuat gurih.
kenangan tentangmu yang memberikan rasa gurih di hari-hari yang aku lewati.
garam yang memberikan rasa asin.
mengenang kenangan itu yang terasa terlalu asin untuk dirasa, namun tetap terasa, bukan?
bahkan jika bersentuhan dengan luka, akan menimbulkan rasa perih.
kecap yang memberikan rasa. entah manis entah asin.
tergantung pada yang memberinya.
keseluruhannya jika digabungkan memberikan rasa seperti nano-nano.

terlalu berat memang untuk dilupakan.
namun, terlalu perih untuk dikenang.
tapi, nyata di lapangannya aku masih memilih untuk mengenang.
terlalu bodoh bukan?
bahkan hari pun tidak bisa berbohong jika akan ada waktunya hujan turun tiba-tiba.

Sabtu, 13 April 2013

Langit Sore.

kamu akan selalu ada disana.
meski jauh, namun aku masih bisa melihatmu dalam diam.
aku berdiam dalam bisu dan tersenyum dikala tenang.

kali ini,
aku menikmatinya sendiri.
seperti sedang menyesap kopi sendirian di dinginnya udara yang bergelayut sepanjang hari.

terima kasih sudah memberikan sedikit warna di hariku yang sendu.
meski kamu tidak lama datang,
namun, setidaknya aku sempat merasakan hangatmu.

aku akan mengunjungimu lagi dilain waktu jika memang masih ada lain waktu.

Rindu yang Terjebak.


Perasaan dimana kamu begitu ingin bertemu dengannya; ingin memeluknya; ingin menggandeng tangannya; ingin menghirup wanginya; ingin berada di dekatnya; ingin bisa menatapnya berlama-lama; ingin bertukar kata dengannya; dan masih banyak keinginanmu untuknya. Terkadang semuanya itu sering kita artikan dengan merindukan.
Kamu pernah merasakannya?
Namun, tidak selamanya rindu itu bisa kamu ungkapkan, sayang.
Rindu yang mampir padaku, adalah satu dari rindu yang tidak terjelaskan; tidak tersampaikan. Rasanya begitu menyesakkan. Seperti paru-parumu yang tiba-tiba tidak bisa menghirup udara; begitu menyakitkan.

Bukankah menangis bersama hujan itu lebih baik? Setidaknya, aku tidak akan terlihat lemah saat itu; tidak akan terlihat cengeng ataupun minta dikasihani. Aku lebih senang terlihat seperti gadis remaja yang seperti tidak pernah merasakan masa kecil dengan bermain hujan. Sungguh, itu lebih baik daripada kamu harus melihatku bersedu sedan dan menerbitkan rasa kasihan dalam rasamu.
Sungguh, aku tidak memiliki kekuatan sekuat pohon beringin.
Hanyalah seorang gadis yang memiliki perasaan seperti kaca; bening dan mudah pecah jika salah sentuh.

Setiap pagi saat aku membuka mata dari tidur tidak tenangku yang ditemani oleh malam yang pekat, aku tersenyum karena aku masih bisa untuk bertemu denganmu.
Sarapan pagi yang aku santap adalah menunggumu untuk mengeluarkan barang sepatah kata, lalu kemudian menenggak harapan kosong sebagai pelengkapnya. 
Makan siang yang paling aku benci adalah tidak adanya kamu.
Saat tengah kupandangi tenda biru yang menaungi aku; juga kamu; juga dia; dan lainnya, kembali teringat olehku, bahwa ini adalah kesukaanmu. Kamu senang memandangi mereka yang menaungi kita, lihat langit sore ini. Indah. Ucapmu saat itu. Dan aku tersenyum. Lihat mereka yang bergerak berarak di birunya tenda ini pula. Terlihat tenang, indah. Itu kalimatku padamu. Entah kamu masih mengingatnya atau tidak. Dari hal terkecilmu, seperti sudah tersimpan dengan otomatis dalam laci ingatan yang lama-lama akan aku pindahkan ke laci momen-momen, yang aku sebut: kenanganmu.
Lalu, menjelang malam, aku menyantap makan malamku yang tidak ada jemu-jemunya kusantap, namanya adalah rindu.
Semuanya berputar seperti itu dari hari ke hari. Seperti seekor hamster yang berputar-putar dengan rodanya.
Aku sedang dalam masa beradaptasi. Bukan. Bukan dengan lingkungan baru; bukan dengan orang baru. Tapi, dengan rasa yang baru. Aku tengah beradaptasi dengan keadaan pula. Aku harus mulai membiasakan diriku tanpa dirimu, mulai menata perasaan ini; mulai mencoba untuk menyembunyikannya dan berusaha agar ia tidak muncul ke permukaan lagi. Seperti saat aku harus mempersiapkan diriku dikala penerangan ini perlahan-lahan mulai redup; ya seperti disaat kamu mulai menghilang perlahan-lahan, dengan berjalan pergi.
Ya, selamanya rindu ini hanya akan berdiam di dalam sana. Di dalam dada, lalu perlahan-lahan menggunung dan mulai menyesakkan dada, minta untuk disampaikan. Namun, kembali kutelan sesak itu. 
Meski aku berusaha agar tersampaikan, tapi sepertinya ia akan tersesat dan memilih untuk pulang padaku dan mengembalikan apa yang ia bawa beserta bunganya. Aku tahu, tidak seharusnya. Mengapa? Hatimu sudah bertuan, sayang.

Saat melihatmu tertawa, saat itulah mengapa aku menyebutmu sang jingga dalam diriku. Kamu mampu untuk menyebarkan hangatmu dikala dingin mulai merambati dinding-dinding rindu ini dan membungkusnya dengan rapih tanpa celah. Ya, meski tawa itu bukan milikku.
Aku pernah ingin membekukan sang jingga. Namun, sepertinya masih.
Sepertinya waktu sedang asik bermain sehingga ia tidak mau memberikan kesempatan untuk membekukannya. Ternyata sang jingga memang hanya bisa kusantap dikala ia datang dengan menggunakan  sepasang kaca cembung ini, lalu merelakan ia pergi dalam diam pada saatnya, sepertinya. Sehingga aku hanya membekukannya dalam memori otak ini.

Tetaplah menjadi jingga itu. Aku hanya akan menatapmu dari kejauhan. Aku tidak akan berusaha untuk menggapaimu untuk kusimpan sendiri. Karena kamu sama dengan udara. Bisa kurasakan, namun tidak bisa kugapai, apalagi untuk aku miliki. Sepertinya, perjalananku sebentar lagi akan sampai di penghujung jalan, karena sesungguhnya kamu tidak menciptakan jalan selanjutnya.

Perjalananku sudah selesai.
FIN.

Melepas.



Perlahan-lahan, bulir-bulir air mulai beradu untuk sampai di tanah lebih dahulu.
Kutengadahkan salah satu telapak tanganku dan bulir-bulir itu berjatuhan di atas telapak tangan yang mulai membeku. Kehangatannya telah dihisap dengan sangat perlahan dan sembunyi-sembunyi oleh dingin dan meninggalkan jejak kebekuan di sela-sela kehangatan yang mulai menipis.
Jari-jari ini mulai berkerut, mungkin ia terlalu banyak merindu.
Bulir-bulir itu berjatuhan di atas air yang tenang dan menimbulkan riak-riak kecil yang lucu dan sangat disayangkan jika tidak dinikmati. Tidak ada niat olehku untuk beranjak atau mencari perlindungan. Kamu, menyukainya. Diam di bawahnya. Tapi, entah mengapa sekarang tidak lagi. Dan aku masih menyukainya. Tidak ada alasan bagiku untuk berhenti.
Kilatan mulai berpendar di atas kepalaku. Dan bunyi menyambar yang mulai menyapaku dengan sinis.
Perlahan-lahan bulir-bulir itu mulai turun dengan kecepatan tinggi, acapkali kita menyebutnya dengan hujan. Sehingga, dengan berat hati aku meninggalkan tempatku duduk dengan nyaman menanti jingga yang ternyata tak kunjung datang; kamu dan jingga di ufuk, sebelum direngkuh oleh dingin yang membekukan.
Yang datang hanya sebatalion air yang tumpah ruah tanpa bisa dibendung lagi.
Sungguh, aku tidak berharap terlalu banyak dengan kedatanganmu.
Karena sesungguhnya aku sudah mengetahui akhir dari semua ini.
Aku hanya sedang merasakan kembali kenangan yang kembali hilir mudik di pikiran ini. Seperti kopi; terkadang manis, terkadang pahit. Aku ingin membiarkan sebagian dari rasa pahit itu mengalir dan mengikuti arus hingga ke ujung meander, dan terkubur bersama dengan yang lain sehingga mereka membentuk delta. Meskipun, masih akan ada yang menggenang di permukaan, yang tidak tersapu oleh arus dan mengalami proses infiltrasi tanpa perkolasi.
Meskipun kamu tidak lagi hidup di dalam kenyataanku, tapi bukankah kamu tetap hidup di dalam kenanganku? Mungkin, bagimu semuanya hanyalah seperti sakura yang tumbuh dengan proses yang begitu lama, namun berakhir dengan cepat. Semuanya hanya seperti ilusi bagimu.
Tapi, bagiku itu adalah kenyataan yang bermetamorfosis menjadi kenangan.
Mungkin sudah saatnya bagiku untuk melepas sang merpati untuk kembali ke alam bebas.
Mungkin sudah saatnya bagiku untuk melepas semua kenangan tentangmu; tentang kita untuk kembali menyatu dengan udara dan kembali ke asal muasalnya yang tidak pernah aku ketahui daerahnya.
Mungkin, sudah saatnya aku melepasmu dari kenanganku yang selama ini selalu aku kunci dengan rapat dengan ketakutan; dengan rantai kerinduan.
Aku bukanlah sang penjaga waktu ataupun teman sang takdir yang bisa meminta untuk mengganti rol filmku sendiri yang masih berputar. Si takdir sudah berkata dengan lantangnya bahwa bukan dengan kamu.
Aku hanya bisa menyampaikan harapanku yang sangat klise ini, berharap bahwa kamu bahagia dengan siapapun nantinya yang bersama kamu, pada gemerisik dedaunan yang saling saut-sautan di senja sore yang terbit ketika berganti jaga dengan hujan.
Hiduplah dengan orang yang membuatmu tidak bisa hidup jika tidak dengannya.
Tidak akan ada pelangi jika tidak didahului oleh sebuah hujan, bukan? 
Aufwiedersehen.

Tidak akan (Pernah) Sama.


Jingga yang terwujud dalam senja hari ini tidak akan pernah sama dengan kemarin.
Namun, jingga ini tetap akan indah dan menawan.
Langit hari ini tidak akan pernah sama dengan kemarin, esok, lusa, dan selanjutnya.
Itulah sebabnya mengapa kita tidak pernah menjalani hari yang sama setiap harinya.
Namun, keadaan kita masih sama.
Kamu dengannya; aku dengan rindu ini.
Entah sampai kapan, aku hanyalah bagian dari cerita masa lalumu, sayang; dan mungkin tidak akan pernah berubah.
Seharusnya aku sudah siap dengan segalanya disaat aku memutuskan untuk ikut serta dalam perang, namun kenyataannya aku maju dengan tangan kosong ke medan perang; hanya bermodalkan perasaan yang tidak terlalu penting sebenarnya.

Melewati hari di semenanjung kerinduan itu terasa begitu berat; seperti tidak memiliki sebuah keseimbangan. Merenung dan mengajak riak-riak untuk mengobrol, untuk sekadar membunuh waktu yang berputar terlalu tertatih-tatih.

Mungkinkah ini akhir dari segalanya?
Waktu memang tidak akan pernah berhenti. Ia hanya akan berputar di tempatnya; tidak akan pernah beranjak dari posisinya. Hanya kita; kamu dan aku yang beranjak. Meski kamu tidak lagi hidup dalam nyataku, kamu mungkin masih sudi untuk berkunjung barang sebentar ke mimpiku dan merasakan setoples kerinduan yang mulai meluap; sebuah kerinduan yang terkungkung.
Jika tiada lagi sudi, mungkin memang sudah waktunya. Mungkin.
Waktu itu senang berteman dengan keadaan; membuat orang menunggu adalah kebiasaannya; membuat orang kecewa adalah kesukaannya; membuat orang menyesal adalah hobinya.

Perlahan kamu mulai bermetamorfosis menjadi sebuah arum manis yang melayang di atmosfer. Terlihat manis; namun hanya bisa ditatap dari dataran rendah; tidak bisa digapai meski dari dataran tinggi.
Rasa ini masih semanis arum manis; rindu ini masih sepahit kopi hitam; sayang itu semua masih beku di kamu; rol kenangan ini masih sepenuhnya berisi kamu. Aku bahkan belum menemukan bara api yang bisa melelehkan beku ini. Mungkin jika ada, bukan untuk meleleh, tapi untuk menguap.
Bodohnya aku, kesukaanku adalah mengorek momen-momen tentang kita. Meski begitu sedikit dan tidak akan pernah terulang, tapi mereka sudah menjadi satu kotak penting.

Hangatnya genggaman tanganmu tidak akan pernah mampir lagi untuk menyusup barang sebentar ke sela-sela jemariku; usapanmu akan menghilang dimakan waktu dan mulai aus; wangimu perlahan-lahan akan dihisap oleh udara; dan perlahan-lahan aku akan kehilanganmu dari pandangan mata ini.
Sudah tidak akan pernah sama lagi.
Kau sudah memilih untuk keluar, tapi sebagian diriku masih ingin menahanmu.
Namun, kesadaranku masih penuh untuk mulai melepasmu.
Rindu ini seringkali begitu menyengat dan menyesakkan.
Tapi, aku tidak memiliki daya untuk bergerak.
Rasaku masih akan tetap sama hingga di waktu yang belum terdefenisikan; rasamu mungkin sedang dalam masa transformasi ke sebuah rasa yang tidak begitu aku sukai, yang kamu beri ia nama, benci.
Aku dan kamu memang akan kembali seperti dulu, namun tidak akan pernah sama lagi.
                                  ∞

Bayang.



Jingga sore ini berbungkuskan dengan bingkai putih.
Dapatkah kau melihatnya dengan jelas?
Jangan kau pejamkan matamu. Meski menyilaukan, tapi di balik itu ada sebuah keindahan yang tidak berbayar.
Perlahan-lahan bingkai itu mulai berpencar.
Mereka tidak lagi di tempatnya. Seperti hati ini yang mulai berpencar; sudah tidak bersatu di tempat yang seharusnya.
“Sampai kapan?” gumamku.
Selamanya mungkin hanya akan menjadi bayang-bayang.
Ku ayun-ayunkan kedua kakiku yang menggantung di dermaga, kembali memandang jingga yang berpendar yang sering kita sebut senja. Matahari sudah setengah tenggelam. Tapi, tidak ada niat untuk beranjak dari sini. Kau tahu kenapa? Disini, semuanya tentang kau. Aku memang seperti orang bodoh yang menunggu sesuatu yang tidak mungkin; tapi, nyatanya tetap aku lakukan.
Jingga itu indah.
Namun, tidak bisa digapai.
Juga, tidak bisa dimiliki seutuhnya.
Kau terwujud dalam jingga.
Jangan menunggu, ucapmu lewat sebuah pesan. Aku tidak menunggu. Aku hanya menikmati waktuku untuk mengecapmu melalui segala kenangan yang ada; kehangatan tanganmu yang layaknya barang langka untuk ku dapat; senyummu yang selebar perahu naga; tawamu yang renyah di indera pendengaranku. Entah sejak kapan, kau berubah menjadi canduku. Jika tidak kudapatkan, akan terasa menyakitkan. Dan sakit itu perlahan-lahan mulai menyebar. Sakit itu acapkali aku artikan dengan kerinduan yang tidak tersampaikan.
Satu kata itu begitu terdengar klise, tapi aku tidak bisa memberikan satu kata lain yang lebih indah untuk mewakili penjelasanku. Anggaplah hanya angin yang berbisik di telingamu, kalau begitu, sayang.
Kau berjalan di bawah jingga dengan matahari diufuk yang mulai kelelahan dan si putih yang berpendar sudah menunggu jam jaganya, kau akan melihat bayang. Bayang yang terkadang tidak pernah dianggap ada; bayang yang bahkan tidak pernah diharapkan ada. Mengapa? Karena bayang itu hanya semu dan terkadang menakutkan.
Terkadang aku hidup di dalam bayang itu.
Kemana kau melangkah, aku menguntit layaknya penguntit di belakangmu; seperti anak kecil yang menguntit hanya untuk sebuah permen. 
Selamanya, aku hanya akan berwujud dalam bayang yang hidup dalam kenangan masa lalumu yang sudah kau titipkan pada burung-burung yang melintas di atas kepalamu itu. Yang aku kenal dengan kata, melupakan. Namun, kau lebih mengenalnya dengan kata, melepaskan.
Selamanya, aku tidak akan pernah hidup dalam hidupmu.