A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Kamis, 09 Mei 2013

Perempuan Dalam Mimpi [Ep. 2]

Pesan pembuka: tidak diikut sertakan dalam lomba oleh Bernard Batubara . hanya iseng2 coba dibuat episode keduanya :)
sebelumnya baca dulu ep.1
Ep. 1 by: Bernard Batubara
http://www.bisikanbusuk.com/2013/05/perempuan-dalam-mimpi-episode-1.html



Ia sudah keluar dari kafe ini. Aku tahu dari suara bel yang berdering di pintu masuk kafe itu saat dibuka dan ditutup kembali. Mungkin ia pulang dengan perasaan heran yang berkecamuk dalam pikirannya. Mungkin ia tengah berpikir dengan sebal, siapa laki-laki itu? kutolehkan kepalaku ke arah cangkir kopinya, “Masih penuh.gumamku bingung.
Aku kembali ke mejaku dan melipat satu lenganku di atas meja kopi dengan satu tangan yang lainnya memegang cangkir kopi. Sudah terlalu lamakah aku berdiri disana hingga kopiku sudah tidak beruap lagi? Sudah terlalu lamakah ia berada dimimpiku hingga aku lupa bagaimana rasanya memimpikan yang lainnya? Pikiranku mulai melantur.
Kembali kusesap kopi yang sudah setengah dingin. Pikiranku masih berpetualang, entah kemana. Kamu pernah mengalami de ja vu? Aku rasa hari ini aku mengalaminya. Keadaan dimana kamu merasa pernah mengalami suatu kejadian di masa lampau, tapi kamu sendiri tidak tahu kapan tepatnya, padahal itu belum pernah terjadi. Banyak yang bilang itu hanyalah mimpi yang menjadi realita.
Ya, sekarang mimpiku menjadi realita.
Ah, mungkin takdir sedang bermain-main denganku, aku dipertemukan dengan tokoh dalam mimpiku setelah sekian lama ia berperan di dalam sana. Antara menyenangkan dan membingungkan. Aku yakin, aku tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini, sebelum mimpi-mimpi itu menemani tidur malamku.
Masih dengan cangkir kopi digenggamanku, seorang pelayan menghampiriku.
“Permisi.”ujarnya dengan sopan.
“Ya?”balasku dengan bingung.
“Ada pesan dari perempuan yang Anda sebut-sebut sebagai perempuan dalam mimpi Anda.”ujarnya dan meletakkan sebuah note dekat cangkirku.
Dengan kening yang berkerut heran, aku meraih note tersebut dan membaca pesan dengan tulisan tangan yang rapih.
Senang bisa bertemu denganmu, setelah sekian lama. Maaf, tapi kita tidak seharusnya bertemu, bukan? Aku saja yang tidak sopan yang menembus waktu dan jarak hanya untuk bertemu denganmu.
Nikmati kopimu di kehidupanmu yang baru. Aku benar-benar pergi kali ini.
Berbahagialah dan aku pun akan berbahagia untukmu.
Sekarang aku yang dibuatnya terheran-heran. Apa maksudnya?
Masih dengan keheranan, seorang wanita duduk manis di hadapanku dengan dua tangan terlipat sopan di atas meja kopi. “Jangan mengkerutkan keningmu seperti itu. Kau terlihat semakin tua saja.”ujarnya sambil tersenyum hangat. Ah, aku bahkan sampai lupa kalau aku ada janji dengannya.
“Ah, kau sudah sampai. Mau pesan kopi?”tanyaku sambil diam-diam menyimpan note tersebut di saku celana. Ia menggeleng dengan pelan.
“Maaf aku terlambat. Hari ini kita jadi melihat gedung untuk resepsi kan?”ujarnya sambil menggenggam tanganku dengan hangat. Aku mengangguk. “Tidak apa-apa. Ah, tentu jadi. Aku sudah membuat janji. Kita berangkat sekarang?”tanyaku lalu menenggak hingga tandas isi cangkirku dan meletakkannya kembali ke piringannya.
Kuraih tangan wanitaku dengan hangat, lalu menuntunnya keluar dari kafe tersebut.
Aku tersenyum pada pelayan yang memberikan note dari perempuan dalam mimpiku tadi.
Saat keluar dari pintu, sebuah gambaran dari ingatanku berhamburan.
Ingatan-ingatan tentang masa laluku yang sempat tertidur karena amnesia ini mulai hidup kembali.
Ah ya dia, perempuan dalam mimpiku adalah dia yang dari masa laluku yang sudah aku tinggalkan entah dari kapan.

Rabu, 08 Mei 2013

Kopi berisi Kenangan


Diluar masih hujan deras.
Air hujan memancar kemana-mana dan membasahi apapun yang ia pijaki.
Aku masih dengan setia menikmati kopi panas dengan uap panas yang mengepul dari dalam cangkir kopi, duduk bersila di atas sofa yang hanya diperuntukkan untuk satu orang saja, lalu menikmati lagu yang mengalir keluar dari earphone dengan novel Milana yang sedang setengah terbuka. “Hmm...”desahku dengan nikmat saat kopi menyentuh lidahku saat kusesap. Rasa kopi ini tidak pernah berubah. Tapi, kopi tidak sama dengan perasaan. Perasaan bisa berubah seiring waktu, sadar atau tidak sadar. Kamu tidak akan pernah tahu tentang hidupmu jika tidak kamu sesap. Kamu tidak akan tahu tentang kopi itu jika tidak kamu rasakan.
Cinta itu semanis coklat manis, dan sepahit kopi pahit. Tapi, keseluruhannya selembut permen kapas, jika kamu rasakan akan langsung meresap.
“Jangan melamun di tempat umum, bahaya.”gumamnya. kutolehkan mataku dai cangir kopi yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibirku dan tersenyum padamu.
Aku terkekeh. “Tidak, aku tidak sedang melamun. Aku hanya sedang meresapi kopi ini.”elakku.
Ia mendengus geli mendengar alibiku. “Karin, sudah berapa tahun kamu merasakan kopi itu hingga sekarang harus kamu resapi?”ledeknya dari balik novel yang sedang ia baca. Aku berikan cengiran sebalku padanya. Sudah hampir 4 tahun kopi menemaniku, dan sudah selama itulah persahabatan aku dengannya bertumbuh dan berkembang.
Hanya diperkenalkan oleh sahabatku. Lalu kami mulai menghabiskan waktu dengan secangkir kopi, novel ditangan, dan earphone di telinga, serta di kafe yang sama dengan pojok ruangan yang sama. Ya, disinilah kami. Kami sama-sama menikmati waktu diam kami yang diisi dengan dendangan lagu jazz dari pengiring.
Jika salah satu dari kami tidak membawa earphone, kami akan saling berbagi. Keduanya tidak membawa? Maka lagu itu bisa di dengar oleh pengunjung yang lain, tapi berhubung kafe ini jarang disinggahi oleh orang – termasuk muda-mudi – maka kami dengan senang hati memutar lagu walau didengar pengunjung lainnya.
Salah satu tidak membawa novel, kami akan berbagi juga. Keduanya tidak membawa juga? Seluruh cerita yang aku dan ia punya akan mengalir dengan deras tanpa bisa dihentikan. Tapi, aku dan ia bercerita pun masih memilah-milahnya.
“Hey, hidupmu juga harus kamu resapi meskipun sudah bertahun-tahun kamu hidup di dalamnya.”kilahku padanya yang kembali mendengus sebal. Ia kembali terbenam di novel yang tengah ia baca dan aku terkekeh geli dalam diam melihatnya pasrah karena kalah beradu denganku. Kembali cangkir kopi itu mampir di bibirku.

“Masuklah. Jangan diam diluar. Kenangan itu harus kamu hadapi, karena di dalam kenangan itu ada kamu juga. Kenangan itu tidak memiliki kadaluarsa, dia hanya sering tertimbun oleh yang lainnya. Tapi, jika kamu mengoreknya semakin dalam, kamu akan menemukan yang lama dan tidak expired.” Aku tersentak dari lamunanku. Saat berada tidak jauh dari kafe itu, tiba-tiba kenangan kebersamaanku dengannya berkelebat di otakku. Dan nyawaku seperti datang kembali setelah melalang buana ke kenangan yang sudah lama berlalu, setelah bahuku ditepuk oleh seseorang.
Aku mengenalnya karena merupakan bartista di kafe itu. Bartista itu mengenal aku dan ia sebaik aku mengenalnya. Bahkan saat aku dan dia masuk pintu pun, bartista itu sudah tahu apa yang akan kami pesan, dan apa yang akan kami makan. Terdengar seperti di novel, bukan?
Aku tersenyum lemah pada bartista itu. “Nanti. Mungkin, saat aku sudah siap.”jawabku.
“Kamu tidak akan pernah siap, karena kamu akan selalu mencoba untuk menghindar. Singgahlah. Aku punya sesuatu untukmu, dan ini baru kamu yang aku berikan.”ucap bartista itu sambil mengajakku untuk masuk. Aku menghela nafas panjang dan lalu mulai membangun benteng.
Aku langkahkan kakiku menuju pintu yang di bagian dalamnya ditempeli bel, sehingga jika ada yang membukanya, bel itu akan bergemerincing. Aku tidak akan duduk disana. Maka, kupilih bangku bar yang tinggi yang tersedia di meja bar, tempat bartista melayani pelanggan kafe. Kafe terlihat lengang. Hanya beberapa orang yang duduk berpencar dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Setelah cukup lama aku terdiam, secangkir kopi muncul di depan kedua lengan yang aku lipat di atas meja bar itu.
“Minumlah. Aku tahu kamu sedang dalam fase merindukan.”ujarnya dengan suara yang sudah lemah karena dimakan waktu, dengan dua tangan yang sudah mengkerut sedang dibersihkan oleh kain. Entah sudah berapa lama aku tidak kembali. Karena aku tidak ingin kembali ke kenangan itu.  
Lama aku menatap cangkir kopi itu. Kupejamkan kedua mataku. Menghirup aroma kopi yang terbit dari uap panas, berusaha menghalau kenangan dalam bentuk apapun itu untuk kembali. Semakin kubangun tinggi benteng itu. Kubuka kembali mataku yang terpejam lalu lima jemariku melingkar dipegangan cangkir tersebut, menariknya menuju bibirku.
“Hmm...”desahku nikmat saat kopi itu menyentuh lidahku, dengan mata yang kembali terpejam. Rindu itu pun mulai berdatangan. Semakin kuperkuat bentengku.
Aku menenggaknya hampir setengah dari cangkir kopi. Saat kuturunkan, sang bartista duduk di hadapanku dengan cangkir kopinya sendiri.
“Bagaimana?”tanya bartista sambil tersenyum.
“Sepertinya kopi ini bernama Rindu.”candaku. Bartista itu terkekeh mendengar candaanku.
“Apa yang kamu miliki suatu saat akan pergi. Suka atau tidak suka, kamu harus belajar merelakan dan melepaskan. Kita diciptakan dari tanah, maka kita juga akan kembali ke asalnya. Hanya saja, kamu tidak pernah tahu kapan akan datangnya waktu bagimu untuk pergi. Waktu dan takdir itu senang bermain rahasia-rahasia-an.”ujarnya sambil mengedikkan bahu lalu menyesap kopinya sendiri. Memberikan waktu bagiku untuk meresapi.
“Belajarlah dari pengalamanmu saat kehilangan. Jangan bersungut-sungut karena kehilangan, anak muda. Masih akan banyak kehilangan lainnya yang tidak akan kamu duga nantinya.”tambahnya lagi sambil meletakkan cangkirnya yang sudah kosong. “Jangan lupa untuk dihabiskan, aku tahu kamu dan ia tidak pernah suka kopi yang berampas, meski itu tidak sehat.”tandasnya sambil mengedikkan bahunya lalu turun dari bangkunya sambil membawa cangkir kosongnya.
Kembali kutenggak kopi tersebut. Aku kembali kesini. Menikmati kopimu. Aku tahu dari rasa dan wanginya. Kamu pernah menyuruhku untuk menghirup aroma biji kopinya, tapi aku bahkan tidak pernah tahu namanya hingga saat ini. Ini kopi yang selalu kamu idam-idamkan untuk bisa dirasakan oleh orang lain, tapi kamu tidak.
Kuletakkan kembali cangkir kopi yang sudah kosong.
Sempat aku menangkap mata bartista yang tersenyum padaku dan menatap cangkir kopi itu, sebelum aku turun dari bangku bar.
Tiba-tiba aku tersadar. Kembali kutolehkan kepalaku ke dalam cangkir kosong.
I’ll miss you and I’ll still loving you.
In silently.
Tulisan itu dicetak dengan huruf kapital berwarna hitam di dasar cangkir kopi.
Seketika bentengku runtuh. Ternyata aku kehilangan satu batu yang lepas yang dari posisinya, sehingga membuat kenangan-kenangan itu mengalir masuk dengan deras dan mulai menghancurkan benteng yang sudah aku bangun dengan rindu sebagai perekatnya.
Kutatap bartista yang tersenyum kembali padaku dan mulai melayani pemesanan kopi pelanggan yang menungguinya. Simpankan ia untukku, tulisku pada selembar note dan kutempel di cangkir. Setelahnya aku turun dari bangku bar dan berjalan keluar kafe.

Bonjour. Hari ini aku sudah menikmati kopimu. Ah, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya aku harus sering-sering minum kopimu. Aku juga akan selalu merindukanmu."kataku, lalu terdiam. Sejenak, angin sepoi-sepoi hilir mudik disekitarku. 
"Ich liebe dich. Auf wiedersehen.”tandasku sambil mengusap nisannya yang terbuat dari batu dan terasa dingin di telapak tanganku. Tak lama aku bangkit berdiri dan berjalan menjauh darinya.

Sekarang aku tahu biji kopi itu kamu beri nama apa. Kenangan.
Dan saat aku sesap, rasa rindu yang aku rasakan dan kenangan-kenangan yang ditebarkan melalui uapnya.
Terima kasih sudah pernah singgah.
Lain kali, saatnya bagiku untuk kembali singgah.

~ f i n ~

Selasa, 07 Mei 2013

Bertemu Senja


Bagaimana rasanya jika suatu hari kamu kehilangan senjamu sendiri?
Bukan itu maksudku. Bagaimana jika suatu saat kamu kehilangan seorang yang kamu cintai? Apakah kamu siap? Siapapun tidak akan suka dengan perpisahan, dalam bentuk apapun itu. Sesiap apapun kita, saat perpisahan itu tiba, akan ada rasa sesak. Apalagi jika kita berpisah dengan orang yang kita cintai.
Aku menatap senja di depan mataku dengan dua jemari yang aku tarikan di atas pasir untuk membentuk pola-pola yang tidak menentu bentuknya.
Entah sudah berapa lama terpisah oleh jarak dan waktu, tapi yang aku tahu sudah cukup lama rindu ini bersemayam, menunggu untuk segera dilepaskan. Tampaknya, ia akan semakin lama bersemayam disana.
Bukankah aku sudah memutuskan untuk mundur dengan sendiri? Seharusnya aku tidak merindukanmu lagi, bukan? Tapi, di setiap tidurku, aktor dalam filmku selalu kamu. Bahkan di dalam film itu tidak ada seorang figuran. Keseluruhan peran ada padamu. Kamu peran utamanya; kamu peran pembantunya; kamu figurannya; dan kamu pula yang menentukan akhirnya.
Bagaimana rindu ini tidak pernah berhenti untuk bertumbuh layaknya seorang anak kecil dalam masa pertumbuhannya jika setiap tidurku hanya kamu yang muncul? Ia bertumbuh seiring dengan betapa seringnya kamu mampir dalam filmku.
Lalu, keesokan paginya aku akan terbangun berbalutkan dinginnya rindu.
Kamu senja yang hilang di hari yang berkabut penuh dengan tetesan-tetesan air yang berjatuhan. Ya, hujan. Kamu menyukai keduanya, tapi mereka tidak akan pernah muncul bersamaan di hari yang sama, sayangnya. Jadi, kamu harus memilih salah satunya. Dan yang kamu pilih  ialah senja.

Ah, betapa bodohnya setiap kali aku datang kesini dan mengharapkan bisa menemukan apa yang aku cari. Yang aku temukan hanya seorang senja yang sendirian, hanya bertemankan oleh deburan riak-riak kecil yang dilahirkan dari ombak yang beradu ketangkasan untuk sampai di bibir pantai lebih dahulu, dan yang terlambat kembali ke tengah lautan.
Kita berada di bawah langit yang sama, dan berpijak di atas tanah yang sama.
Yang tidak sama hanyalah keberadaan kita. Kamu disana dengannya, aku disini dengan senjamu.
Kutekuk kedua lututku, memeluknya dengan harapan dapat memberikan kehangatan pada dinginnya rindu dan lalu menyenderkan daguku di sela-sela kedua lutut yang kupeluk, dengan mata yang menatap pasir basah.
Angin pantai menyerbu mendekatiku dan mengibarkan rambut yang tidak kuikat.
Kutengadahkan kepalaku. “Mendung.”gumamku. kutolehkan mataku ke arah matahari. Ia sudah setengah tenggelam. “Langitnya masih oranye loh, Niel.”gumamku sekali lagi seraya tersenyum. Bukan tersenyum, seperti hanya mengangkat sudut-sudut bibirku saja, kupikir.
Rasanya seperti sudah bukan umur lagi mengungkapkan secara gamblang kalau aku merindukannya, terasa cheesy untuk diucapkan. Tapi, kalau tidak dikatakan pun rindu ini tidak akan pernah sampai. Kukeluarkan ponsel dari sakuku dan menekan tombol angka 9. Namun, kembali kuurungkan niatku.
“Aku tidak boleh mengganggunya lagi.” Kembali aku masukkan ponselku ke saku dan memeluk lututku kembali sambil menghembuskan nafas panjang dan berat.
Bisa aku rasakan, perlahan-lahan sekitarku mulai kosong akan orang. Sudah banyak yang pulang, tapi setengah dari rasa ini ini belum berpulang juga. Aku masih nyaman duduk diatas pasir basah yang kini sudah kering, mungkin, karena sudah terlalu lama aku duduki. Mungkin satu-satunya orang yang masih bertahan disini hanya aku. Mungkin juga, saat aku pulang kantong-kantongku penuh dengan pemberat. Pasir.
“Masih sering kok. Iya, masih sering kangen.”gumamku sambil terkekeh geli dengan jemari yang menelusuri pasir basah di depan mataku.
Kamu seperti pasir. Meski aku genggam dengan erat, namun kamu masih bisa pergi melalui celah-celah kecil yang aku sendiri tak sanggup untuk menutupnya. Dan walau tidak aku genggam erat pun, kamu tetap akan pergi. Kalau seperti saat ini keadaannya, bukan kamu yang pergi. Aku yang melepaskan diriku sendiri.
Warna oranye masih melekat diatas kepalaku.
Sepertinya, selamanya kamu akan hidup dalam senja.
Dan aku akan hidup untuk terus memperhatikan senja, bukan untuk memilikinya.
Aku masih saja duduk disini seperti orang bodoh. Saat kuletakkan daguku di sela-sela dua lutut yang bertemu, aku termangu begitu mendengar seseorang memanggil namaku. Bukan takut, bukan. Bukan heran, bukan. Tapi, aku termangu pada suara itu. “Niel...... Ah pasti bukan. Aku hanya sedang halusinasi. Hanya halusinasi.”gerutuku dengan cepat dan menutup telingaku.
Tapi namaku semakin sering disebut.
Dengan sebal aku menolehkan kepalaku ke kiri dan kanan. Akhirnya aku mendengus sebal. “Hanya angin. Ya, hanya angin.”gerutuku sambil merutuki diriku sendiri yang dengan mudahnya mencari-cari keberadaan seseorang.
“Lebih baik aku pulang sebelum aku menjadi gila disini hanya karena perkara merindu, membuat telingaku menjadi lebih sensitif.”ucapku seraya bangun dari posisi dudukku dan mengibaskan pasir-pasir yang menempel di celana bagian belakangku lalu menenteng sepatu sendal taliku. “Untung nggak ada pemberat.”desahku saat aku melihat isi kantong celana trainingku yang kosong.
Aku seperti tertanam ke dalam pasir basah saat aku balik badan. Badanku kaku. Tidak bisa aku gerakkan. Bahkan tanpa sadar aku menahan nafas.
Long time no see. Have you been happy while I’m gone? Aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati.
Long time no see. Are you oke so far?
I’m not good so far.
Have you been happy so far?”
So far, as long as you happy, then I do. Chessy, but it’s the fact, despite what people say it is a lie, but to me its honest.
“Ich vermisse dich.”
Aku terdiam. Mataku masih terpaku padanya.
“Kamu tidak seharusnya ada disini, Niel.”bisikku.
“Kupikir, tempatku seharusnya ada disini, Kanaya.” Mungkin bisikanku ditiup oleh angin hingga terdengar olehnya.
“Pulanglah, Niel.”ucapku. Aku tidak boleh tergoda. Ia lebih baik dengannya. Terasa berat memang, tapi bukankah memang harus aku lakukan? Ini perkara kebahagian orang. Bukan saatnya bagiku untuk egois,
“Jangan memaksakan dirimu, Naya.” Panggilan itu termasuk dalam daftar rinduku yang entah sudah sepanjang apa jika dituliskan.
“Tidak. Aku tidak memaksakan diriku, Niel.”
Ia bergerak dari tempatnya berdiri dan mendekatiku.
Menutup jarak antara kami yang terbentang; menghalau angin pantai yang mulai terasa menusuk tulang, sepertinya memang bukan karena angin penyebabnya, tapi karena rasa sakit dan rindu yang bertemu dalam satu keadaan yang berubah menjadi penyakit tanpa penawarnya.
Ia memberikanku kehangatan tanpa pernah aku minta, lalu tanpa sadar aku sudah masuk dalam pelukannya, tanpa bisa aku cegah. Kupikir rasanya sudah berubah, ternyata masih sama seperti terakhir kali aku tinggalkan.
I’ve been here, Naya.”bisiknya dengan sangat lembut dengan suara khasnya yang berat, hasil dari akil balik yang sempurna. Bisa aku rasakan ia menghirup aroma tubuhku yang bercampur dengan wanginya air laut yang menguar. Aku masih belum bisa bergerak. Aku seperti terjebak dalam keadaan terkejut yang parah.
Ich vermisse dich.”gumamku dengan lirih.
“Aku tahu. Tanpa perlu kamu katakan, aku selalu bisa baca semuanya, Naya.”ujarnya sambil terkekeh. Beratus-ratus senja yang aku lewatkan sendiri kini terbayarkan oleh satu hari dengan senja yang perlahan-lahan mulai turun.
“Sudah, jangan pikirkan yang lain lagi.”
Aku anggukkan kepalaku pelan-pelan. Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut dan sebuah senyum terulas di bibirku. Sudahlah, ia tidak perlu tahu ataupun melihatnya.
Aku sudah bertemu kembali.
Keseluruhannya ini memang hanya sebuah cerita klasik nan klise tentang rasa rinduku ini yang tercatat dalam lembaran cerita waktu yang tertulis dengan tinta takdir.

~ f i n ~



terj: ich vermisse dich = aku merindukanmu. 

Jumat, 26 April 2013

Menangkap Senja


“Lo dimana?!”seru Elsa dari seberang sambungan telpon. Karin terkekeh geli mendengar seruan Elsa yang bercampur sebal,
“Sabar. Gue ke sana deh.”jawab Karin sambil bangkit berdiri.
“Tunggu situ aja. Gue udah suruh Nuel jemput.”jawab Elsa.
“Oke.” Sambungan terputus.
Senja itu selalu indah. Senja itu tidak akan pernah kemana-mana.
“Mau bengong sampai dicolek setan?”ledek seorang. Karin langsung menoleh cepat dan terkekeh.
“Iya, setannya lo kan?”ujar Karin disela-sela kekehannya. Nuel ikut terkekeh dan mengambil posisi duduk disamping Karin.
Entah sejak kapan rasa itu berubah. Entah sejak kapan rasa sayang sebagai teman bertransformarsi menjadi sebuah rasa sayang lebih dari seorang teman. Segalanya memang susah untuk ditebak bukan?
“Hari ini senjanya lagi orange banget ya?”gumam Nuel.
Karin hanya mengangguk tanpa mengalihkan matanya dari senja di depan matanya.
Bisa waktu dibekukan? Sungguh, untuk saat ini Karin ingin membekukan waktunya. Sayangnya, tidak bisa. Jadi, ia hanya bisa menyerap semuanya dan menyimpannya sendiri.
“Kuliah kemana, Rin?”tanya laki-laki disamping Karin.
“Mungkin ke Kota Pelajar, El. Lo dimana? Paling juga sama Elsa kan?”jawab Karin sambil tertawa pelan. Nuel hanya mengangkat sudut bibirnya.
Selamanya, dihati laki-laki itu hanya akan ada satu wanita. Tidak mungkin satu hati berisikan dua cinta. Pada akhirnya, ia harus memilih salah satu diantaranya. Karin tahu, ia hanyalah figuran dalam sebuah film. Sehingga ia tidak memanjakan perasaannya sendiri untuk berharap suatu hal yang terlalu muluk baginya.
“Lo disana sendiri, Rin?”
“Engga. Ramean kok. Kan banyak mahasiswa lain.”jawab Karin pura-pura polos.
Nuel tertawa mengejek. “Jayus lo!” Lalu, laki-laki itu mengacak-acak rambut panjang Karin yang sudah berantakan karena angin pantai.
“Karena siapa?!”gerutu Karin dengan sebal dan mengikat seluruh rambutnya di puncak kepala.
Bersama langit oranye, sore itu mereka memandangi senja, hingga dibuyarkan oleh dering telpon. Dan mereka berdua sama-sama berseru nyaring. “ELSA!” Tanpa pikir panjang, mereka langsung berlarian menuju mobil Nuel dan laki-laki itu buru-buru melajukan mobilnya. “Gak usah ke Starbucks. Anterin Karin pulang aja kamu. Disini hujan deras. Aku mau tidur. Hati-hati ya.”ujar Elsa saat Nuel mengangkat telpon darinya.
Karin menunggu kelanjutannya dengan menggigit bibirnya. “Gimana?” Nuel terkekeh. “Selow aja. Dia mau tidur.”ujar Nuel. Karin langsung menghembuskan nafas lega.
“Gue nanti turun di kedai kopi depan ya. Lu langsung balik aja. Gue bisa balik sendiri kok.”ujar Karin sambil tersenyum lebar.
“Lu mau ngopi dulu? Gue ngikut deh.”ujar Nuel ikut tersenyum. Senyum yang sering kali Karin sebut dengan, senyum-selebar-bahu.
“Lo gak mau pulang?”tanya Karin sambil menoleh pada laki-laki yang tengah berkonsentrasi pada jalan raya.
“Di rumah juga gue bingung mau ngapain.”jawabnya tak acuh.
Karin cuma manggut-manggut pelan, lalu mereka kembali direngkuh keheningan. Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di dalam kedai kopi yang dimaksud Karin, menunggu pesanan kopi mereka sedang diseduh. Hujan diluar semakin parah. “Lo suka ke sini, Rin?”tanya Nuel ketika pelayan selesai mengantar pesanan.
“Ini tempat favorit gue kali, El. Bahkan, Elsa aja enggak tahu ini tempat.”jawab gadis itu sambil menghirup aroma kopinya. Kebiasaannya dari dulu setiap kali minum kopi. Nuel memperhatikan dengan seksama. 
Perasaan Karin mengatakan ada sesuatu yang mengganjal pada Nuel. Namun, laki-laki itu belum mengungkapkannya. Maka, sambil meraih cangkir kopinya, Karin membuka kalimatnya,“Dalam satu hubungan seharusnya enggak ada kata jenuh. Kalau udah ada kata jenuh, jenuh itu udah harus buru-buru dibuang.”gumam Karin dengan mata yang masih terpejam dan dengan hidung yang masih menghirup aroma kopi. Nuel menoleh ke arah Karin yang membuka kedua kelopak matanya dengan perlahan dan tersenyum.
“Kalau ada masalah, selesaikan. Jangan lari. Semakin lo lari, semakin itu masalah menghantui lo. Lo hidup di dunia ini juga udah kayak ikut judi. Tapi, judi lo yang kali ini emang udah dari alamnya.”tambah gadis itu, kali ini setelah menyesap sedikit demi sedikit cappuccino kesukaannya itu.
“Tapi, kalau ternyata jenuh itu muncul karena udah enggak ada kata cinta lagi?”tanya Nuel sambil menghangatkan telapak tangannya di atas cangkir kopi yang uap panasnya masih terasa.
Karin menanggapinya dengan senyuman. “Itu pertanyaan yang seharusnya ada jawabannya. Tapi, jawabannya bukan dari gue. Tapi, dari hati lo sendiri, El. Enggak selamanya jawaban dari semua pertanyaan lo ada diluar diri lo.”jawab gadis itu berdiplomatis.
Sampai kapanpun, Karin akan menyimpan perasaannya ini sendiri. Cukuplah ia sendiri yang tahu tentang rasa ini. Ia tidak ingin mengganggu orang lain hanya karena perasaan yang seharusnya tidak ada ini. Seperti, perasaan yang terlarang.
Mendengar jawaban Karin, Nuel terdiam dengan cangkir kopi yang berhenti di ujung bibirnya. Selamanya, Karin hanya akan menjadi bagian terluar dari hidup Nuel. Tidak termasuk dalam catatan penting.
Diam-diam Nuel tersenyum kecil.

Waktu terus berputar dan tidak pernah berhenti. Waktu tidak akan menunggu. Kita yang harus mengejar waktu itu atau mungkin mencoba berjalan bersisian dengannya. Saat Karin tengah asik memandang langit sore dari balkon rumahnya sebuah pesan masuk ke ponselnya. Lagi di tempat biasa, di kursi biasa, dengan kopi panas yang biasa. Karin tersenyum.
Diam-diam ia menikmati waktu mereka seperti ini. Meski hanya sebatas ini, jujur, Karin sudah merasa sangat cukup. Ia tidak berharap atau meminta lebih dari ini. Cukup dengan bisa berada dekat dengannya sudah sanggup membayar rindu yang terus menerus menyapanya disetiap hari.
“Gak ada apa-apa kan?”tanya Karin sambil mengambil cangkir kopinya yang belum lama diletakkan di hadapannya. Nuel menggeleng dengan senyum-selebar-bahu-nya itu. Karin hanya tersenyum dan menyesap kopinya. Ia pikir Nuel dan Elsa sedang terjadi sesuatu.
“Jangan bilang-bilang Elsa ya kalau kita ketemuan begini. Ngerti kan, Rin?”ujar Nuel.
Karin mengangguk dan tersenyum. “Iyalah gue ngerti kok El.”
Segalanya terjadi bukan tanpa sebab. Setiap ada asap, disitu selalu ada api.
Semua cerita mengalir begitu saja dari bibir mereka. Seperti channel tv yang bisa diganti-ganti terus-terusan. Dari satu topik ke topik yang lain. Kedai yang tadinya ramai mulai berangsur-angur sepi. Hingga hanya satu-dua orang yang masih asik dengan kopi dan topik atau bacaan mereka.

Senja disetiap harinya dilewati bersama, meski mereka berdiri di tempat yang berbeda. Hingga jika suatu saat mereka harus melewati senja seorang diri, rasa nikmatnya seperti berkurang. “Lo udah yakin, Rin?”tanya Elsa sambil tiduran di tempat tidur Karin.
“Yakin kok, Sa. Makin cepat, makin baik kan? Gue juga harus adaptasi sama keadaan disana.”ujar Karin sambil tersenyum lebar. Menunjukkan barisan giginya yang berbaris rapi.
“Tapi, ini kan terlalu cepet.”gerutu Elsa.
“Sa, Jakarta-Jogja bisa ditempuh dalam semalam kok sama kereta, atau bus. Malah cuma beberapa jam doang kalau pakai pesawat. Take it easy, oke? Gue enggak keluar negeri kok. I’ll be there when you need me.”ujar Karin, berhenti dari aktivitasnya dan duduk disamping Elsa.
“Bener ya?”tanya Elsa dengan wajah yang masih kusut.
Karin mengangguk mantap dan memeluk sahabatnya. Baginya, Elsa lebih penting dari apapun. Lebih penting dibanding perasaannya sendiri. Lebih baik ia membakar rasanya sendiri daripada harus merusak hubungan Elsa dan Nuel yang sudah berjalin cukup lama. Dilihat dari sudut pandang manapun, Karin hanyalah orang luar.

Lagi di senja yang seperti biasa. Angin pantai mengibaskan rambut panjang Karin. Gadis itu berjalan menyusuri bibir pantai sambil menenteng alas kakinya. Ombak-ombak kecil yang sampai di bibir pantai menggelitik jemarinya. Sesekali ia berhenti sebentar untuk memandang senja disampingnya. “Nanti masuk angin.”ujar seseorang. Tanpa perlu menoleh, Karin tahu siapa  pemilik suara itu.
“Engga apa-apa. Sekali-kali.”jawab Karin sambil terkekeh.
“Ada apa?”tanyanya to the point.
“Ini udah waktunya buat gue ucapin salam perpisahan ke lo, El. You should to be happy as you should to be. Gue nggak mau jadi batu sandungan buat lo. Jaga baik-baik kebahagian lo dan orang yang ada di dalamnya, sebelum lo menyesal nantinya. Gue udah ngerasain gimana menyesalnya. Dan gue engga mau orang terdekat gue juga ikut merasakannya. See you in another time, if we can.”ujar Karin disela-sela senyumnya.
Gadis itu tengah bersusah payah mengumpulkan kekuatannya supaya ia tidak menangis di hadapan laki-laki yang selalu hidup dalam hangatnya kopi dan lembutnya senja. “Terima kasih untuk keseluruhan waktu di senja dan kopinya.”tandas  Karin sambil membelakangi senja. Senja terakhir.
Setiap tempat, setiap keadaan memiliki cerita mereka sendiri. Namanya, kenangan.


Rasanya aneh menikmati sesuatu yang kita sudah terbiasa menikmatinya dengan seseorang harus kita nikmati sendirian. Tapi, namanya juga hidup. Berada di tempat yang baru pun kita  perlu adaptasi. Meninggalkan masa lalu pun butuh adaptasi yang tidak lama.
Karin menyesap kopinya sambil menonton senja yang perlahan-lahan mulai tenggelam. Kenangan-kenangan itu masih berputar-putar dalam otaknya. Kenangan yang berada dalam satu rol film dan rol film itulah yang terus-terusan diputar. Tidak ada rusaknya. Tidak aus.
Karin mengakui pada dirinya sendiri, setiap kali ia merindukan seorang itu.
Rindu itu biarlah tetap bersemayam di dalam sana dan hidup disana.
Sekarang jalan mereka sudah berbeda. Mereka sudah berpisah di persimpangan jalan. Mungkin jalan untuk kembali pun sudah tertutup belukar. Tapi, Karin bersyukur ia sempat memiliki hari dengannya. Meski ia hanya memiliki kenangan yang sangat sedikit, tapi baginya sudah cukup.
Mungkin saja laki-laki itu tahu, tapi ia beprura-pura tidak tahu.
Tapi, mungkin juga laki-laki itu memang tidak tahu. Karin berharap kemungkinan yang kedualah yang terjadi. Meski kemungkinan pertama memiliki kemungkinan yang sama besar dengan kemungkinan kedua.
Senja Nuel sudah berada disana, sudah bersamanya. Ia sudah berhasil menangkap senjanya.
Mungkin, senjaku berada disini.
Senjaku sedang menunggu.

Minggu, 21 April 2013

Review

Nonton deh Drama Korea: Rooftop Prince.
itu drama bener-bener ngena banget .
awalnya emang ga bakal terlalu ngerti kalo ga dicermatin .
tapi percaya deh , itu drama korea bener2 ngena banget :']
di episodenya bener2 puncaknya ngena banget itu .
kalo diceritain kan udah ga ngena ntar . jadi harus nonton sendiri :')
ga bakal rugi deh buat nonton itu .
ceritanya itu bercampur sama zaman kerajaan mereka sama zaman modern .
tapi cerita dgn latar belakang zaman kerajaan mereka, ga bikin bosan :)
ada bagian konyolnya, ada bagian sedihnya, ada bagian romantisnya, ada bagian kesiannya, ada bagian ngebeteinnya, kompliiiiiitt dah . sekalinya sedih bener2 nguras air mata :"

Ini beberapa foto mereka:










Hurt - Ali

[Translation: Hurt - Ali {Ost. Rooftop Prince}]


Because the reason I live is you,
With my heart, I hope the remaining,
flickering memories will be sent to you
At the end of this road I walk on,
At this road that was allowed to me,
I, who used to love and love you more,
Remain here alone
My love has all burned up and
the only thing remaining
Are the exhausted scars from waiting
I cannot forget a person like you
Only tears fall
When my love has all washed away
Only the longing scars remain
Only the words, “good bye” remain
So I cannot forget you
Following the flower petals
that yield to the sky
When I meet you,
I can tell you now that I longed for you
I long for you so I couldn’t forget you
My love has all burned up and
the only thing remaining
Are the exhausted scars from waiting
I cannot forget a person like you
Only tears fall
When my love has all washed away
Only the longing scars remain
Only the words, “good bye” remain
So I cannot forget you
Indonesia: 

Karena alasanku hidup adalah kamu
Dengan hatiku, aku berharap yang tersisa
Kenangan yang berkedip akan dikirimkan padamu

Diujung jalan ini aku berjalan
Di jalan yang di izinkan untukku
Aku, yang dulu suka dan lebih mencintaimu,
Tetap disini sendiri

Cintaku semua terbakar dan
Satu-satunya yang tersisa adalah bekas luka yang lelah menunggu
Aku tidak bisa melupakan orang sepertimu
Hanya airmata yang jatuh

Ketika cinta yang kumiliki semua hanyut
Hanya bekas luka kerinduan yang menetap
Hanya kata-kata, “selamat tinggal” tersisa
Jadi, aku tidak bisa melupakanmu

Mengikuti pucuk bunga yang menghasilkan kelangit
Ketika aku bertemu denganmu
Aku bisa memberitahumu sekarang jika aku merindukanmu
Aku lama bersamamu jadi aku tidak bisa melupakanmu

Cintaku semua terbakar dan
Satu-satunya yang tersisa adalah bekas luka yang lelah menunggu
Aku tidak bisa melupakan orang sepertimu
Hanya airmata yang jatuh

Ketika cinta yang kumiliki semua hanyut
Hanya bekas luka kerinduan yang menetap
Hanya kata-kata, “selamat tinggal” tersisa
Jadi, aku tidak bisa melupakanmu


Ruang.

tak perlulah kamu khawatirkan kondisi berantakan ini.
biar aku saja yang mengurusnya.
karena aku yang teledor dan menyebabkannya berantakan seperti ini.
kamu hanya seorang tamu.
tidak seharusnya seorang tamu membantu pemilik rumah membereskan sampah-sampah ini bukan?
kamu duduk dengan diam, dan hanya perhatikan saja.
jika memang sudah selesai, aku akan kembali.
jika tidak selesai, mungkin aku hanya menitipkan sebuah pesan perpisahan dari selembar daun kering.
aku seperti anak kecil yang bermain dengan mainanku namun membiarkannya berserakan.
namun, disisi lain aku seperti remaja tanggung yang tidak sengaja memecahkan gelas dan membiarkan pecahan itu berserakan hingga membuat orang lain terluka karenanya.
aku bukan seorang yang pintar merangkai kembali pecahan-pecahan itu.
aku selalu kehilangan bagian terkecil dari pecahan itu.
ia tidak akan kembali utuh, sayang.
tidak akan pernah.
maaf sudah merepotkanmu.
pergilah dan biarkan ruangan ini seperti ini.

biarkan hati ini seperti ini.
aku hanya ingin menjaganya tetap seperti ini.
karena, kamu sempat tinggal disana.

~ f i n ~