A little story.

One night,the moon said to me, "If he makes you cry, why don't you leave him?" I paused for a while and then I look back to the moon, and I said, "Moon, would you leave your sky?"

Rabu, 01 Juli 2015

Pertemuan Singkat


Kau memang tidak akan pernah tahu waktu akan membawamu kemana dan apa yang akan dibawakan. Aku tersenyum pada Christina yang menatapku dengan heran, karena seharian ini aku lebih banyak melamun daripada mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai liburannya bersama tunangannya itu.
“Ada apa denganmu, Siera? Tumben sekali kau melamun sepanjang hari.”kata Christina sambil menyesap teh hangatnya yang hampir dingin, karena udara Desember yang sanggup membuat orang berubah menjadi Snowman jika terlalu berdiri di luar ruangan dengan suhu dibawah nol derajat.
“Tidak ada apa-apa, Christina. Sungguh. Aku hanya senang memandangi salju yang mulai turun. Sebentar lagi Natal.”jawabku sambil mengedikkan bahuku.
Perempuan yang aku kenal tidak ingin terlalu cepat untuk berkomitmen itu tertawa pelan, tawa yang cukup aku kenal. Tawa menghina, namun maksudnya bercanda. “Bukan Natal yang kau tunggu, tapi hari ulang tahunmu yang kau tunggu. Karena, tiap ulang tahunmu, kau akan selalu kebanjiran hadiah yang selalu kau minta diuangkan.” Detik selanjutnya bantal sofa yang daritadi aku peluk sudah melayang ke arahnya yang kali ini benar-benar tertawa terbahak-bahak.
...tapi, apa yang dikatakannya memang benar.
Daripada keluargaku memberiku hadiah-hadiah yang akan jarang aku gunakan dan malah membuat apartemenku sesak, lebih baik mereka membuat tabunganku saja yang sesak. Kalau tabunganku yang sesak, aku bisa dengan leluasa membeli novel dan jalan-jalan kesana kemari. “Minumlah dulu tehmu sebelum tehmu berubah menjadi air beku.”canda Christina.
“Aku ingin membeli beberapa beverages. Kau mau titip sesuatu?”tanyaku sambil mengambil dompet di dalam tas tanganku.
“Tanpa aku perlu titip sesuatu, apapun yang kau bawa pasti akan selalu aku ambil, Siera. Kau selalu lupa hal kecil itu.”ledeknya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku yang tertawa sambil berjalan ke arah etalase beverages kedai teh ini.
Mataku menelususi etalase beverages dengan tatapan mata yang sudah siap menyantap semuanya satu per satu. Setelah aku memutuskan untuk memilih yang mana, aku masuk ke antrian, yang untungnya hari ini sepi. Aku hanya perlu menunggu satu orang di depanku memesan, dan giliranku. Tunggu aku, beverages!
Sampailah giliranku untuk memesan. Pelayannya menyapaku dengan ramah dan hangat. Tapi, kurang hangat untuk menghangatkan udara dibawah nol derajat ini. Ketika aku selesai menyebutkan pesananku, aku menatap ke menu-menu yang mereka tempel di dinding di belakang pelayan yang tengah melayaniku.
Sudut mataku seperti menangkap bayangan seseorang yang tengah menatapku.
Tentu siapapun itu akan merasa jika ada seseorang yang memperhatikan.
Maka, aku pun menoleh dengan perlahan dengan wajah datar.
Dan semakin datarlah wajahku saat menatap orang yang menatapku.

Aku duduk menatap termangu ke arah luar jendela kedai teh ini. Aku meninggalkan Christina di tempat kami dengan beverages yang sudah aku belikan untuknya. Begitu melihat siapa yang mengekor di belakangku, ia langsung diam dan pura-pura membalas pesan. Padahal aku tahu, ia bukan membalas pesan, tapi tengah menyebarkan kalau aku bertemu dengan laki-laki ini di group pertemanan kami, yang sudah pasti sebentar lagi akan ramai dibicarakan di group. Dan sungguh, aku sedang malas meladeni pertanyaan mereka. Maka ponselku sengaja aku matikan.
Jika dalam 5 menit laki-laki di hadapanku ini tidak membuka percakapan, aku yang aku permisi lebih dulu. Lebih baik aku kembali ke Christina daripada duduk diam dengan batu. Rasanya terlalu canggung bagiku, karena harus dengan tidak sengaja dipertemukan dengan masa lalu.
Dulu sering kali orang berkata, masa lalu biarlah masa lalu, masa lalu bukanlah masa depan. Apa sekarang sudah berganti menjadi masa lalu akan ada kemungkinan datang ke masa depan?
“Apa kabar, Siera?” Bodoh! Masa hanya dengan mendengar ia menyebut namaku saja jantungnya sudah lompat-lompat di dalam rongga kerangkaku?
Aku berdeham untuk menetralisir suaraku. Siapa tahu mendadak berubah menjadi serak.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” Aku bertanya balik.
“Sama denganmu. Sudah lama ada disini?”tanyanya.
“Sudah cukup lama. Mungkin dari sejak kita berpisah.”jawabku. Dan detik selanjutnya aku mengutuk diriku sendiri. Aku berharap aku bisa menghilang dari depan matanya hanya dengan satu kedipan mata! Bodohnya aku, kenapa harus mengungkit itu?! Astaga seperti tidak ada bahasan yang lain saja.
Aku bisa melihatnya sedikit menegang di tempat duduknya.
Dan...ah! Wajah itu lagi. Wajah cuek dan terlalu dingin yang dulu ia selalu tampilkan padaku, tiap kali ia berusaha menghindar dariku.
“Aku tidak bisa lama-lama disini. Ada temanku yang menunggu. Semoga harimu lancar. Aku permisi lebih dulu. Hati-hati di jalan, Fajariando.”kataku, dan berdiri dari bangkuku dan buru-buru menghilang dari pandangannya. Semakin aku menjauh dari meja tempat kami duduk, semakin aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.
“Bagaimana pertemuan singkatnya? Woah, tunggu sebentar, wajahmu tidak terlihat ceria begitu bertemu dengannya. Ada apa? Kalian tidak bertengkar kan?”tanya Christina dengan raut wajah yang panik.
“Kalau aku bertengkar dengannya, aku tidak akan duduk disini lagi, Christina, tapi di ruang manager!”jawabku dengan ketus, yang anehnya malah membuatnya tertawa mendengar jawabanku yang menurutku tidak ada lucunya sama sekali. “Kau benar juga, Siera.”jawabnya disela tawanya. Astaga! Masih sempatnya ia membenarkan jawabanku, disela tawanya yang kurasa sanggup membuatnya sesak nafas kalau tidak berhenti.
Perlahan-lahan tawanya mulai mereda. Kupikir kami akan berlaih ke topik lainnya, karena ia mulai menarik nafas dalam-dalam,“Jadi, bagaimana?”
Shit. Memang cuma Christina yang sanggup membuatku mendadak terserang stroke.

Benar saja begitu aku menyalakan ponselku, notifikasi groupku tidak ada hentinya hingga akhirnya aku menjejalkan ponselku ke dalam laci meja kerjaku yang kini sudah seperti tempat percetakan buku, dengan kertas-kertas yang bertebaran dimana-mana.
Aku menumpukkan kepalaku diatas meja dengan ditahan kedua tanganku yang menyangga kepalaku. Seakan-akan kepalaku siap untuk terjun bebas dari badanku jika tidak aku sanggah. Kalau tidak bertemu dengannya, mungkin aku tidak akan seperti ini. Christina sampai bolak-balik mengecek keadaanku. Masih berada di bilik kerjaku atau mungkin sudah mendekati jendela di belakangku ini, untuk mencoba terjun bebas.
Bagaimana bisa kau tidak kepikiran ketika masa lalumu tiba-tiba muncul di masa sekarang setelah kau tinggalkan sejauh-jauhnya? Bagaimana bisa kau tidak gila ketika bertemu dengan laki-laki yang masih bisa membuat jantungmu berdebar tidak keruan, seperti anak SMP yang tengah jatuh cinta pertama kali? Astaga, aku sendiri heran dengan diriku sendiri. Sungguh.
“Lebih baik kau bereskan barang-barangmu dan pulang ke apartemenmu, lalu tidur.”kata Christina dengan wajah khawatir.
“Untuk apa?”tanyaku sambil mengernyitkan keningku.
“Untuk apa?! For God sake, Siera! Kau masih bertanya ‘untuk apa’ padaku? Kau sudah seperti mayat hidup dan kau masih bertanya ‘untuk apa’? Kau benar-benar kehilangan jiwa, ya?” Tiba-tiba Christina meledak di depanku dengan segala celotehannya barusan. Aku hanya menanggapinya dengan setengah terkekeh dan menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“Baiklah, baiklah aku menyerah. Aku akan pulang sekarang.”kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan buru-buru membereskan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas.
Pekerjaanku sebagai editor membuatku tidak dituntut harus berada di ruang kerja terus. Pekerjaan yang fleksibel sebenarnya. Sehingga aku bisa pulang kapan saja dengan membawa setumpuk file yang harus aku kerjakan tentunya.
“Dan tolong, Siera, jauhi balkon apartemenmu!”kata Christina memperingatkan.
“Kenapa?”tanyaku, kali ini aku benar-benar bingung dengan peringatannya.
“Aku hanya tidak mau menerima telepon dari pengurus apartemenmu karena menemukanmu di lantai dasar, tergeletak penuh darah, dan sudah tidak bernafas. Atau malah mungkin –“
“Christina, sepertinya kau harus segera berhenti menonton drama Korea. Otakmu sudah mulai keracunan drama sepertinya. Aku pulang lebih dulu ya, titip salam untuk yang lain.” Aku buru-buru memotong kalimatnya sebelum semakin di dramatisir olehnya, sambil menggelengkan kepalaku dan tertawa kecil.
Perempuan itu hanya memberengut di tempat berdirinya.

Aku bersandar di pagar balkon apartemenku dengan segelas susu hangat. Padahal salju sudah mulai turun, aku malah berdiri disini. Aku mengeluarkan ponsel dari saku jaketku. Menekan tombol play di videoku dengannya yang kami rekam bersama-sama beberapa tahun yang lalu. Sebelum video itu selesai, aku sudah mematikan ponselku dan buru-buru memasukkannya ke dalam saku jaket.
Aku terlalu merindukannya.
Aku terlalu ingin memeluknya.
Aku terlalu ingin bersamanya meski hanya untuk sebentar.
Melihat sikapnya tadi siang, aku rasa tidak ada harapan lagi untuk bisa seperti dulu walau hanya sebentar. Mau dibilang tidak ingin bertemu dengannya mendadak seperti siang tadi, bisa dibilang aku bohong. Tapi, untuk bertemu dengannya bagaimana lagi selain mendadak seperti itu?
“Siera?”
“Fajariando?”
Kami saling menyebutkan nama lawan bicara kami bersamaan. Aku hanya bisa mengulum senyumku saat aku buru-buru keluar dari antrian, dan diikutinya.
“Duduk minum?”tanyanya menawarkan.
“Baiklah. Tapi, aku harus ke meja temanku dulu utnuk mengabarinya. Kau silakan memilih tempat duduk, nanti aku susul.”kataku sambil mengambil beverages yang aku pesan, sementara ia mengambil tehnya.
“Tidak. Aku ikut denganmu saja.”jawabnya dengan tegas.
Aku hanya mengedikkan bahuku dan berjalan mendahuluinya menuju mejaku dan Christina. Aku bahkan tidak perlu repot-repot memperkenalkan dirinya, karena ia sendiri sepertinya tidak berniat untuk berkenalan karena ia hanya berdiri mematung di belakangku. Seperti anak kecil yang mengekor Ibunya kemana-mana.
Setelah main mata dengan Christina, barulah aku pergi sebentar dengannya untuk mencari tempat duduk di sudut lain kedai ini. Yang pasti, sudut lain kedai ini yang jauh dari Christina supaya dia tidak bisa nakal mengambil fotoku sedang berdua dengannya dan menyebarkannya di media sosial atau di group. Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian. Mengganggu.
Jari-jariku ini sudah nakal ingin mengirim pesan padanya sekadar bertanya dalam rangka apa ia ada disini. karena, setahuku ia tidak berdomisili disini. Tapi, lagi-lagi rasa tidak enakku menahan jari-jariku untuk mengetik pesan. “Untuk apa, Siera? Seperti dia mengharapkanmu untuk menghubunginya saja,”kataku pada diriku sendiri.
Sebelum tidur, aku menyerah pada rasa tidak enakku dan terkirimlah pesanku untuknya. Sudah tidur?
“Pesan macam apa itu? Bertanya sudah tidur atau belum disaat jam 12 malam?”gerutuku pada ponselku yang sudah memberikan notifikasi terkirim.
Langsung aku matika ponselku dan menyimpannya di laci rak lampu tidurku dan langsung bergelung di dalam selimut. Berharap ia sudah tidur.

Belum. Ada apa?
Argh! Kenapa aku matikan ponselku semalam?! Dia langsung membalas pesanku padahal. Beginilah jalan pikiran perempuan.
Maaf semalam aku ketiduran. Hari ini kau sibuk?
Dengan perasaan was-was aku mengirim pesan balasanku.
Setiap dering penanda pesan masuk, aku selalu melompat kaget dan buru-buru mengeceknya. Tapi, hingga menjelang jam pulang kantor aku tidak juga mendapatkan pesan balasan.
TING!
Tanganku dengan malas-malasan merogoh laci meja kerjaku.
Maaf, aku seharian ini sibuk. Ada apa?
Aku memberanikan diriku untuk mengetik pesan balasannya.
“Jangan terlalu cepat membalasnya, darling! Kau sudah dibuatnya menunggu setengah abad!”teriak Christina dari biliknya. Aku langsung mencibir kesal. Tapi, perempuan itu memang ada benarnya juga.
...tapi, tidak setengah abad juga. Hanya setengah hari.
“Biarin!”teriakku dari bilikku.
“Dasar perempuan!”teriaknya lagi.
Please your mirror, darling!”balasku dengan senyum meledek, yang ia balas dengan cibiran.
Have a dinner together tonight?
Saling berteriak dengan Christina ternyata cukup menghabiskan waktu 15 menit.
Lumayan. Setidaknya tidak jeda satu menit aku langsung membalasnya.
Aku paling tidak suka menunggu saat harus memberi jeda waktu hanya untuk membalasnya.
Oke. Where? At what time?
Aku menghela nafas membaca pesan balasannya. Terlalu cuek. Seperti dulu.

“Hai,”sapaku begitu menghampirinya di lobby kantorku.
“Hai juga. Sudah siap?”tanyanya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Aku menjawabnya dengan anggukan.
Kami berjalan menuju luar kantor dan bermaksud menyebrang. Karena, ia tidak membawa kendaraan, jadi aku sarankan untuk makan di dekat kantorku, berhubung aku tahu tempat makan yang pas dan posisinya pun tidak jauh dari kantorku jadi ia bisa berjalan kaki ke kantorku. Saat kami hendak menyeberang, ia menggandeng tanganku. Dan nafasku berhenti di udara saat itu juga.
Ya Tuhan, rasanya masih seperti dulu.
Ingatanku kembali ke kejadian beberapa tahun lalu, saat awal-awal kami dekat.
“Aku lapar, om. Makan yuk?”ajakku setelah membeli tiket film.
“Ayo. Aku juga belum makan. Makan di depan aja ya. Biar nggak perlu keluarin motor lagi.”katanya
“Iya, nggak apa-apa. Yang penting kita makan.”
Dan ternyata kami harus menyeberang tanpa zebra cross. Aku sebenarnya bisa menyeberang, hanya saja aku tidak bisa tiba-tiba memotong jalan begitu saja saat sedang ramai. Lalu, tiba-tiba ia pindah ke sampingku tempat datangnya mobil dan menggandeng tanganku selama menyeberang. Menggenggam dengan erat. Seakan-akan takut aku tersangkut di spion kendaraan orang.
Nafasku berhenti sejenak, karena kaget dan...rasanya terlalu nyaman.
Begitu ia melepaskan genggamannya, barulah nafasku kembali.
“Hei? Jangan melamun. Kebiasaan,”katanya sambil menggelengkan kepalanya.
Kali ini tidak tangannya lagi dalam genggaman tanganku. Kini kedua tangan itu sudah terselip masuk ke dalam saku jaketnya yang tebal.
“Tanganmu dingin sekali, Siera. Kau tidak membawa sarung tanganmu?”tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng dan merutuki kebodohanku dengan meninggalkan sarung tanganku di dalam laci. Padahal biasanya aku langsung memasukkannya ke dalam tasku.
Ia mengeluarkan tangganya dari saku yang ternyata sudah menyiapkan sarung tangan. “Pakai ini,”katanya sembari menyorongkannya ke arahku.
Aku menatapnya dengan bingung. “Lalu, kau tidak pakai?”
“Apakah kau melihatku memakai sarung tangan daritadi?”jawabnya dengan balas bertanya.
“Kalau kau tidak pakai, aku pun tidak.”jawabku bersikeras.
“Astaga, Siera! Kau ini dari dulu sampai sekarang masih aja keras kepala. Sepanjang perjalanan ini kita hanya akan berdebat soal sarung tangan? Yang benar saja,”katanya setengah tertawa, mau tidak mau aku pun ikut tertawa. Tawa pertama yang aku dengar sejak pertemuan pertama kami. Menenangkan rasanya.
“Kau mengerti aku dari dulu sampai sekarang pun, Fajariando.”kataku setelah tawa kami reda.
“Kau pun, Siera. Jadi, pakai saja, Siera. Aku tidak ingin kau masuk angin dan malah tiba-tiba diare karena kedinginan. Aku tidak ingin kita menjadi tontonan orang-orang, hanya karena kita berdebat soal sarung tangan.”
Aku tergelak, “Hei! Yang sering diare itu kau, bukan aku. Enak saja.”
Lagi-lagi laki-laki disampingku ini tertawa. “Baiklah begini saja. Kau pakai satu, aku pakai satu.”katanya, memberi solusi. Ia menunggu aku memakai sarung tanganku. “Pakai sebelah kiri,”pintanya, yang membuatku kebingungan namun tetap aku turuti. Lalu, ia memakai sarung tangannya di tangan kanan.
Belum reda kebingunganku, ia menarik tangan kananku dan menggandengnya, lalu menyelipkan tangan kami ke dalam saku jaketnya yang ternyata memang hangat.
Sekali lagi, nafasku melayang diudara.
Mataku rasanya sudah mulai memanas. Aku hanya tidak ingin menangis disini. Aku tidak ingin menghancurkan momen ini.
Aku menatap ke arahnya sambil tersenyum lebar, seperti biasa yang aku lakukan tiap kali aku terlalu senang.
“Begini kan lebih adil,”kataku dengan santai. Ia terkekeh mendengar kalimatku.

Aku hanya tidak ingin momen ini segera selesai.
Makan malam terbaik yang pernah aku rasakan. Padahal ini hanya makan malam biasa dengan obrolan-obrolan ringan. Malah seperti kami bernostalgia yang dulu. Dan ia terheran-heran dengan memoriku yang masih ingat apa-apa saja yang kami lakukan, hingga ke tiap kalimat-kalimat yang ia ucapkan. Tiap, sudut jalan selalu ada cerita kecil tentang kami dan aku masih mengingatnya dengan jelas.
“Om, sebenarnya kau merasa nyaman atau tidak selama denganku?”tanyaku tiba-tiba.
“Sejujurnya, iya aku merasa nyaman denganmu. Oh, aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku, ya?”jawabnya dengan tenang sambil menatap mataku.
Aku terkekeh. “Kok bisa ya? Apa yang bikin kau nyaman denganku? Iya, kau ini terlalu pintar menyembunyikan perasaanmu, om.” Aku benar-benar penasaran setengah mati.
“Kau itu bawel, demi apapun, Siera. Tapi, bawelmu itu yang bikin aku nyaman. Mungkin, buat kebanyakan laki-laki bawel perempuan itu annoying, tapi buatku bawelmu itu buat aku nyaman. Meskipun kadang bawelmu itu suka tidak pada tempatnya, saat aku lagi kesal kau malah semakin bawel. Rasanya aku pengen menggulingkanmu saat itu juga,”jawabnya panjang lebar, dan malah membuatku tertawa. “Kau malah tertawa lagi.”katanya dengan heran namun ikut tertawa.
“Kalau aku mendengar jawabanmu itu dulu, mungkin aku bakal sedih. Tapi, sekarang malah rasanya lucu. Coba saja kau bayangkan, kau sedang kesal lalu aku bawel setengah mati, tiba-tiba kau menggulingkanku. Bukannya aku marah-marah, malah aku bisa tertawa di depanmu, om.”kataku setelah tawaku reda.
Ia pun tertawa saat aku menjawabnya.
“Om, kau pernah sayang sama aku?”tanyaku lagi.
Ia terdiam, lalu menatapku. Dengan mantap ia menjawab, “Pernah, Siera. Tapi, itu dulu.”
“Sebagai perempuan, bukan sebagai adik atau teman?”
“Iya, sebagai perempuan.”jawabnya sekali lagi dengan mantap.
Aku tersenyum. Entah mengapa ada perasaanku yang lega dan tenang, saat mengetahui ia pernah sayang padaku sebagai seorang perempuan. Sangat lega dan tenang.
“Kau kenapa baru bertanya sekarang, setelah sekian lama kita tidak bertemu? Bukannya dulu saat masih beberapa kali bertemu?”tanyanya.
“Dulu, aku belum siap dengan jawabanmu. Aku takut kau akan menjawab ‘tidak’. Sekarang, aku rasa aku sudah siap untuk mendengar jawabanmu, yang ternyata berbanding terbalik dengan pikiranku.”
“Pikiranmu itu kan memang selalu seperti itu, Siera.”jawabnya setengah terkekeh.
Lagi-lagi aku tersenyum. Kau memang mengenalku dengan baik, gumamku dalam hati.
“Bagaimana dengan perasaanmu selama ini, Siera?”tanyanya. Sepertinya kali ni giliran dirinya yang bertanya-tanya padaku.
“Aku masih sayang padamu. Hingga sekarang. Aku tidak mau membohongi perasaanku, om. Rasanya lelah kalau harus membohongi perasaan sendiri.”jawabku dengan mantap dan menatap matanya, lalu tersenyum tipis.
“Kau tidak dekat dengan siapapun selama ini?”tanyanya dengan kening yang berkerut.
“Tidak ada. Aku merasa santai-santai saja dan nyaman-nyaman saja dengan seperti ini.”jawabku sambil mengedikkan bahuku dengan tidak acuh.  “Kau pasti sedang dekat dengan seseorang ya?”tebakku.
Ia tersenyum tipis. Senyum yang selalu aku gemari.
Ia mengantarku hingga depan pintu apartemenku.
“Singgah, om?”tawarku. Aku hanya tidak ingin waktuku bersama dengannya segera habis. Aku bertemu dengannya hanya sebentar sekali, dari sekian tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. 4 tahun. Bukan waktu yang sebentar.
Ia diam. Ia menarik nafas dalam-dalam. Tangannya terjulur ke kepalaku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Usapan yang dulu pernah ia berikan saat kami pulang dari jalan-jalan jauh kami setelah ulang tahunku, yang aku maksudkan untuk mengungkapkan perasaanku, namun malah gagal total. Malah semalam sebelum berangkat.
Ia menatap mataku dalam-dalam. “Maaf, Siera. Ada perasaan yang harus aku jaga. Aku tidak ingin saat aku jauh darinya, ia melakukan hal yang sama. Kita sekarang teman. Nanti, saat aku kembali kesini, kita bisa pergi seperti tadi. Maaf sudah bersikap tak acuh di awal pertemuan kita. Masuklah lebih dulu.”
Aku terdiam. Lalu, aku tersenyum dan membuka kedua lenganku, pun begitu dengannya. Aku langsung menghamburkan diriku ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.
“Terima kasih, om.”kataku.
“Kembali kasih. Selamat malam. Selamat istirahat, Siera.”
“Hati-hati di jalan. Selamat istirahat, Fajariando.”kataku lalu masuk ke dalam apartemenku. Detik selanjutnya, aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Aku jatuh terduduk dengan bersandar di pintu apartemenku dan menangis.

Setelah makan malam beberapa pekan lalu, aku mendapat pesan darinya yang pamit pulang karena pekerjaannya disini sudah selesai. Dan ia tidak bisa berjanji kapan ia akan kembali kesini. Yang ia katakan, hanya kalau ia kembali kesini, kami pasti akan bertemu lagi.
Dan ada satu hal yang aku tangkap dari mataku saat ia mengusap kepalaku waktu itu. Ia sudah mengenakan cincin dengan lingkar yang kecil di jari manisnya. Siapapun wanita itu, aku hanya ingin ia membahagiakannya. Dan itu sudah pasti. Siapapun wanita itu, ia adalah wanita yang beruntung. Setidaknya, aku pun merasa beruntung sempat memiliki cerita pula dengan laki-lakinya yang kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
“Siera, jalani saja prosesnya. Kau hanya perlu untuk mulai membiasakan dirimu lagi, seperti dulu. Seperti selama 4 tahun ini.”kata Christina di penghujung bulan Januari, saat melihatku hampir selama sebulan sejak kepulangannya seperti mayat hidup berjalan, sementara nyawanya melayang-layang entah dimana. Aku hanya perlu bersyukur aku tidak sampai diopname karena nafsu makanku yang turun.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Kalian berdampingan, tapi yang perlu kau tahu, kalian berada di jalur yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Kau harus ingat itu, sayang.”katanya lagi, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Untuk selama 4 tahun, terkalahkan dengan pertemuan singkat kami. Dan pertahananku pun hancur dalam sekejap mata. Dan tangisku pun meledak di dalam pelukan Christina.

Terima kasih, om.
Terima kasih untuk semuanya.
Terima kasih untuk pernah singgah.
Aku menunggu kabar singgahmu di lain waktu.
Aku harap saat itu, kita sudah dengan perasaan kita masing-masing.
Biarlah untuk saat ini, memang masih ada kau di hatiku.
Tapi, percayalah, suatu saat nanti akan ada seseorang yang menggantikan posisimu di sampingku.
Terima kasih sudah pernah membuatku bahagia dan aku tahu, kau akan selalu membuatku bahagia dengan hal-hal kecil sekali pun.
Sampai bertemu di waktu yang lain dengan cerita yang berbeda.

Fin.